Gzco prospeknya gmn? Katanya cpo bgs..
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: positif01 <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 29 Dec 2010 15:39:47
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Mari kita lihat - 2011: Eskalasi Kegiatan Hulu ('upstream')
Migas
Indonesia (end of today's chapter)
Di setiap penghujung tahun, investor baik institusi atau individu, melakukan
'rebalancing' portofolio dengan mengevaluasi pilihan ekuitas yang masih
memiliki prospek 'upside' atau kenaikan yang signifikan untuk tahun fiskal
berikutnya. Namun, meski hasil analisis sama, tetapi pertimbangan dan
keputusan investor tidak selalu sama karena keputusan akan dipengaruhi
dengan besaran ('magnitude') dana masing-masing. Bagi investor institusi
dengan dana besar, akumulasi tidak dapat dilakukan secara serta merta dengan
menggelontorkan sekian banyak dana untuk pilihan satu, dua atau tiga saham.
Selain likuiditas volume saham dimaksud tidak mampu menyerap sekaligus, juga
investor akan terjebak dalam perangkap eskalasi harga yang tidak perlu.
Momentum dan psikologis 'supply & demand' yang berimbang perlu dijaga atau
harga akan rusak. Akan tetapi, bagi investor individu, adalah keuntungan
Anda untuk dengan serta merta membelanjakan dana Anda untuk pilihan saham
tertentu. Investor institusi tidak selalu bisa serta merta masuk pada saham
kecil/menengah yang memiliki prospek cemerlang sebagaimana investor ritel.
Ini menjelaskan mengapa, misalnya 'return' reksadana ('growth fund') tidak
selalu dapat mengalahkan 'return' indeks.
Oleh karena itu, jika Anda seroang investor individu/ritel manfaatkan
keleluasaan Anda untuk melakukan akumulasi yang menjadi bagian dari 'window
dressing' menjelang tahun baru 2011 yang tinggal 2 hari perdagangan lagi.
Mumpung masih ada 2 hari lagi, mari kita lihat, dan 'let us have your say',
jika Anda punya kesempatan akumulasi menyambut perdagangan di tahun baru
2011, dan setelah mempertimbangkan konteks, atmosfir, dukungan pemerintah
atas suatu subsektor investasi, dari daftar saham-saham tertentu yang
menjadi anggota Indeks LQ45 berikut, mana yang kans-nya paling besar untuk
melesat di 2011. Saya pergunakan parameter yang lazim digunakan oleh para
'fund manager' (reksadana) dalam menilai efektivitas kinerja saham pilihan
dengan membandingkan terhadap indeks komposit selama 52 minggu terakhir
dengan harga penutupan 28 Desember 2010, dalam hal ini IHSG. Teknik yang
dikenal sebagai 'relative strength' ini jarang digunakan ('undervalued')
oleh investor ritel yang rajin menelaah 'chart' berdasarkan indikator
momentum.
Martin J. Pring menjelaskan, "Relative strength (RS) is a technical concept
that measures the relationship between two securities. It's important to
note that relative strength as we will be using it here should in now way be
confused with Welles Wilder's relative strength indicator (RSI)...The most
common and important use of RS is to compare a stock to a market average."
Security
Name
BMTR
148.199
ASRI
128.2889
KLBF
95.0886
INDY
64.0996
BBTN
54.7039
GGRM
48.9068
BBNI
39.7039
JSMR
37.3963
ELSA
-45.5439
Semakin besar persentase-nya semakin sudah bablas larinya selama 52 minggu
terakhir, dan kemungkinan besar sudah terkuras tenaga sehingga potensi
'stroke' siap menyerang at any time, at any cost. Jika Anda, mengikuti
rekomendasi Credit Suisse yang menyatakan saham-saham Indonesia akan naik
20% sampai akhir tahun 2011 dengan fokus kepada "underperformers and
valuations", menurut Anda, dari saham-saham LQ45 pembanding di atas, yang
mana memenuhi kualifikasi itu dan akan berlari kencang sekali di 2011, tentu
dengan tetap mempertimbangkan faktor makro/mikro regional dan sektoral
prospek bisnis terkait di 2011?
http://www.bloomberg.com/news/2010-11-19/indonesia-stocks-may-rise-20-by-end-2011-on-earnings-credit-suisse-says.html
'+'
2010/12/29 positif01 <[email protected]>
subject2011: Eskalasi Kegiatan Hulu ('upstream') Migas Indonesia (bagian 1)
>
> Hulu ('upstream') atau biasa disebut dalam industri perminyakan sebagai E&D
> atau 'exploration & development' akan digenjot habis-habisan dan didukung
> sepenuhnya oleh Pemerintah Indonesia 'at all cost'. Argumen utama bukan
> karena mengejar 'windfall profit' atas proyeksi analis yang 'bullish' atas
> harga minyak mentah ke depan, tetapi antisipasi lonjakan konsumsi BBM di
> tengah ketiadaan pengembangan enerji alternatif yang memadai.
>
> Namun, ingat, sepanjang kaitannya dengan prospek 'stock pick' sektor migas
> untuk 2011/12, korelasi positif antara dorongan aktivitas hulu dan harga
> saham emiten migas tidak linear. Eksploitasi atau produksi tidak instan
> tetapi butuh waktu, dan industri migas merupakan industri mahal atau
> 'capital intensive'. Pemahaman atas potensi area kerja ('working area') yang
> masih produktif atau sudah 'depleted'/kempis, sangat menentukan laju
> optimisme kinerja E&D Companies. Oleh karena itu, cermat memanfaatkan
> peluang peningkatan aktivitas hulu dengan prospek saham emiten yang terkait
> dengan bisnis hulu. Pilihan saya, justru bukan pada E&D oil companies,
> tetapi oil companies yang menyediakan integrated services. Lapangan
> minyak/gas akan dikembangkan diproduksi dalam 7-10 tahun sejak mulai
> eksplorasi, tetapi yang mengerjakan/mendukung kegiatan eksplorasi sudah
> 'berproduksi' atau menghasilkan 'revenues' sejak minyak/gas-nya masih
> dicari, dan itu dalam sejak tahun 0. Smart?
>
> Pemerintah Indonesia sudah membuka gong awal, dukungan dan insentif
> penggalakan kegiatan hulu migas. William O'Neill dalam 'stock picking'
> menyebut istilah "follow-on effect". Kurang lebih ujarnya,
>
> "Sometimes, a major development takes place in one industry and related
> industries later reap follow-on benefits...When the price of oil rose in the
> late 1970s, oil companies began drilling like mad to supply the suddenly
> pricey commodity. As a result, a higher oil prices fueled a surge in the
> stocks of oil service companies that supplied the industry with exploration
> equipment and services."
>
> Can you see what I see?
>
> '+'
>