Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia) baru saja merilis laporan riset ekuitas
untuk saham berkode DGIK (PT Duta Graha Indah, Tbk.) pada 30 Desember 2010
lalu, dan menjadi satu-satunya laporan riset mengenai DGIK yang dikeluarkan
secara resmi oleh lembaga yang berkompeten. Sesuai dengan indikasi/'big
picture' yang diberikan pada posting sebelumnya (
http://groups.yahoo.com/group/saham/message/93605), Pefindo kurang lebih
memiliki proyeksi serupa sebagaimana dikutip di bawah.
Kesimpulan rekomendasi, buy DGIK untuk horizon 'intermediate investment'
2011.
*Estimasi Nilai (TP Rp200)*
Target harga saham untuk 12 bulan berdasarkan posisi penilaian pada tanggal
30 September 2010 adalah sebagai berikut:
– Dengan menggunakan metode DCF dan asumsi tingkat diskonto 13,6% adalah
sebesar Rp 112 - Rp 129 per lembar saham.
– Dengan metode GCM (PBV 2,06 X dan P/E 13.68X) adalah sebesar Rp 181 - Rp.
364 per lembar saham.
Untuk mendapatkan nilai yang mewakili kedua indikasi nilai tersebut
dilakukan rekonsiliasi dengan dilakukan pembobotan terhadap kedua metode
tersebut sebesar 70% untuk DCF dan 30% untuk metode GCM.
Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka Target Harga Saham DGIK untuk 12
bulan adalah Rp 133 - *Rp 200* per lembar saham.
*Profil Usaha*
PT Duta Graha Indah Tbk ("DGIK") didirikan pada tahun 1982 dengan
memfokuskan hanya pada proyek-proyek di Jakarta dan Jawa. Sejak 1986, DGIK
mulai memasuki proyek infrastruktur dan memperluas usahanya ke daerah lain.
DGIK memiliki 11 kantor cabang yang tersebar di kota-kota strategis di
Indonesia dan 1 cabang di Brunei Darussalam. Hingga saat ini DGIK telah
sukses menyelesaikan lebih dari 100 proyek infrastruktur dan 170 proyek
gedung di seluruh Indonesia. Pada tahun ini DGIK memiliki banyak proyek di
Sumatera, proyek terbaru DGIK yaitu bandara Pagaralam di Sumatera Selatan
yang diperkirakan selesai pada tahun 2012 senilai lebih dari Rp 200 miliar.
*Rp 2 triliun pada 2010 dan lebih Besar lagi pada 2011*
DGIK sudah membukukan kontrak baru senilai Rp 1,2 triliun hingga September
2010, baru mencapai 60% dari target 2010 yang sebesar Rp 2 triliun. Melihat
begitu banyak proyek yang baru diumumkan pada kuartal terakhir 2010 karena
penundaan dari pemerintah, kami memperkirakan bahwa DGIK mampu mencapai
target mereka sebesar Rp 2 triliun untuk tahun ini. Sampai pertengahan
Desember 2010, kontrak baru DGIK sudah mencapai Rp 1,9 triliun, menunjukan
keberhasilan manajemen DGIK untuk mengintensifkan tender proyek pada 4Q10.
Diperkirakan untuk tahun 2011 belanja konstruksi di Indonesia akan tumbuh
sekitar 10% hingga menembus angka Rp 200 triliun, sehingga akan ada banyak
proyek lagi yang akan ditawarkan tahun depan. Kami memperkirakan bahwa DGIK
bisa mendapatkan kontrak baru lebih dari Rp 2,25 triliun pada tahun 2011.
*Prospek Usaha*
Pertumbuhan DGIK cukup terkait dengan belanja infrastruktur pemerintah
dimana lebih dari 70% pendapatan DGIK berasal dari proyek pemerintah dan
instansi terkait. Pada 2010 pemerintah meningkatkan alokasi untuk
pembangunan infrastruktur menjadi Rp 105,6 triliun atau meningkat 13%.
Pemerintah juga telah menjamin sekitar Rp 350 triliun proyek infrastruktur
hingga 2014. Kondisi tersebut akan mendukung DGIK untuk mencapai target
pertumbuhannya, kami memperkirakan pendapatan DGIK tahun 2010 dapat mencapai
Rp 1,34 triliun atau meningkat 3,8% YoY dan dan 10,2% CAGR untuk tahun
2009-2014.
*Margin diatas Rata-rata*
Pengendalian biaya yang efisien membuat margin laba DGIK lebih baik dari
peers, di 3Q10 DGIK memiliki margin laba yang lebih tinggi dari rata-rata
perusahaan konstruksi. Marjin laba kotor, marjin laba usaha dan marjin laba
bersih DGIK pada 3Q10 masing-masing adalah 13,8%, 9,6% dan 4,5%, sementara
margin rata-rata peers masing-masing adalah 12,3%, 6,8% dan 3,9%. Efisiensi
biaya telah membuat DGIK memiliki marjin terbaik kedua setelah Jaya
Konstruksi (JKON); manajemen DGIK yang serius dalam mengelola efisiensi
adalah salah satu faktor pendukung. Dalam 10 kuartal terakhir, DGIK mencatat
rata-rata biaya kontrak sebesar 87,6% lebih baik daripada rata-rata peers
yaitu 89,6%, dan biaya kontrak DGIK dikelola dengan baik sehingga pada 3Q10
mencapai angka 86,2%. Dengan manajemen yang konsisten menjaga efisiensinya,
kami memperkirakan DGIK dapat mempertahankan efisiensi sehingga kami yakin
mereka dapat membukukan margin laba kotor sekitar 13,9% (setelah JO) dan
marjin laba bersih 5,5% pada FY10.
Laporan lengkap dapat diunduh:
http://new.pefindo.com/files/2010-12-30-dgik-01-id.pdf
'+'