Setuju bosss
saham ELSA memang hanya bagi investor dng target gain minimal >30%...NTF
Bagi yg kaga sabaran mendingan minggir

--- Pada Rab, 5/1/11, positif01 <[email protected]> menulis:


Dari: positif01 <[email protected]>
Judul: [meta-noia] (jurus #1) Menerawang ELSA - Oil Services surpass Upstream 
Oil & Gas
Kepada: 
Tanggal: Rabu, 5 Januari, 2011, 11:28 PM


  



Jurus #1 dari beberapa jurus menyusul nantinya, sesuai urutan skenario tayang 
ELSA untuk menjaga dinamika ritme keputusan perdagangan/investasi ELSA.


Jurus #1, saya ingin bagikan perspektif sektoral menerawang prospek ELSA yang 
dikenal sebagai satu-satunya emiten 'integrated oil & gas services'. Yang belum 
paham dengan 'integrated services, untuk mudahnya emiten jenis ini tidak hanya 
tergantung kepada jumlah 'susu' yang diperah (ekstraksi) hari ini, besok, lusa 
atau ntah kapan (upstream/downstream activities), tetapi juga dari pekerjaan 
persiapan, selama dan sesudah memerah 'susu' sapinya itu sendiri. Dalam hal 
ELSA "integrated services"-nya porsinya justru lebih besar dari hasil 
perahan-nya. So, doesn't matter, ELSA dapat susu atau tidak, dia pasti 
akan/sudah merasakan madunya susu. Clear ya.


Warren Buffett dalam 'stock pick' tradisional-nya hingga saat ini, tidak pernah 
tertarik kepada saham yang hanya menggantungkan diri kepada 'output' resources 
(tentu kecuali Anda tahu sesuatu/corporate action sebelum orang banyak tahu, 
that's another story). Dalam pilihan 'energy/resources-based company', Buffett 
pasti memilih emiten yang sifatnya 'integrated oil & gas services', bukan 
semata-mata 'E&D (exploration & development) company', misalnya pilihannya 
dalam status porto terakhirnya adalah ConocoPhillips. Silakan telaah, business 
profile ConocoPhillips, misalnya bisa dilihat di situs Reuters. Adapun mengenai 
ELSA, 'integrated services'-nya nanti diulas pada jurus #2.


Dalam salah satu wawancaranya, Sandiaga Uno a.k.a Recapital pun mengakui gigit 
jari atas lepasnya Elnusa dari deal selama 2010. Dalam rencananya terhadap ELSA 
meski gagal, digarisbawahi sekali lagi sebagaimana Buffett, 'integrated energy 
services'. Berikut kutipannya:



Jadi kasus Elnusa benar-benar kegagalan Recapital 2010 ini yah?
Ya, ini kegagalan kita di awal tahun 2010, padahal sudah dipelototi 6 bulan 
loh. Kita sebenarnya sudah siapkan US$ 150 juta.  Kita masih tertarik dengan 
sektor tersebut. Jasa migas itu, karena Indonesia mempunyai historis menjadi 
negara dengan cadangan migas terbesar di Asia Tenggara, tapi kita tidak punya
perusahaan kelas dunia dibidang jasa migas.
Istilahnya tukang ledengnya nggak ada, seperti PGN hanya sebagai penyedia 
infrastruktur, seharusnya kita punya perusahaan jasa migas yang kuat, Elnusa 
punya peluang itu, dengan adanya sumber dana yang kuat, visi misi dan dukungan 
manajemen.
Tapi ya sudah lah sudah lewat dan kita pasrah, mudah-mudahan pembeli baru bisa 
mewujudkan Elnusa menjadi perusahaan kelas dunia. 
(http://www.indomigas.com/sandiaga-uno-dan-kegagalan-saratoga-mengakuisisi-saham-elnusa/)
Now, I want to show you something. Bagaimana prospek 'oil services' selama tren 
kenaikan harga minyak bumi yang direpresentasikan oleh kekuatan emiten-emiten 
upstream oil. Salah satu caranya yang lazim digunakan para traders di Wall 
Street adalah melihat perkembangan/proyeksi ETF ('exchange-traded fund') 
sektoral. Dalam link berikut Anda bisa lihat bagaimana ETF oil services 
berjalan beriringan dan pada suatu waktu, seperti saat ini, akan memotong 
mendahului propsek emiten 'upstream oil' atau perusahaan eksplorasi/produksi 
minyak. Salah satu ETF yang cukup kredibel adalah HOLDR yang dikelola oleh 
Merril Lynch.  Silakan lihat komparasi 2 ETF tersebut. Kurva biru yang 
mengikuti kurva merah adalah ETF yang berisi emiten-emiten "oil services", 
sedangkan yang merah adalah emiten-emiten 'upstream oil & gas".
 
(http://www.holdrs.com/holdrs/main/index.asp?osymb=OIH&time=8&holdrcomp=XX&maval=50&ma=1&type=64&comp=&compidx=xoi:567&sid=464889&symb=OIH&action=ChartH&link=Source&x=47&y=17)
The same case would happen with ELSA di tahun yang diekspektasi akan menjadi 
tahun kebangkitan/kejayaannya setelah ketidakpastian regulasi aktivitas hulu 
migas yang berpuncak di 2010 lalu. Pemerintah RI sudah mengambil langkah 
konkret dengan merilis PP 'cost recovery' yang menjawab banyak tanda tanya 
besar atas sejumlah ketidakpastian yang dihadapi investor. Dan Pemerintah RI 
tidak punya pilihan di tengah meningkatnya permintaan bahan bakar atas tuntutan 
pertumbuhan ekonomi. Masih banyak 'reserve' yang bisa dikembangkan selama 
insentif dan nilai ekonomisnya wajar dalam perhitungan investor. Dan, berarti, 
banyak sekali prospek cemerlang untuk ELSA di tahun-tahun mendatang. Manajemen 
ELSA perlu mendengar ini dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk meningkatkan 
value bagi shareholder-nya.
'+'






Kirim email ke