*Saham AS Menggapai Pijakan Naik dengan Volume 'Mixed'*

Saham-saham AS naik moderat Selasa meskipun volume belum cukup naik. Indeks
komposit NYSE memimpin dengan kenaikan 0,7%. Dow, S&P 500 dan Nasdaq
masing-masing menyusul naik 0,3%. Volume perdagangan Nasdaq naik tipis
tetapi volume NYSE masih turun.

Tidak seperti 2 hari terakhir di mana saham-saham teknologi memimpin
penguatan pasar saham AS, Selasa tadi kenaikan indeks ditopang oleh
saham-saham komoditas, migas dan batubara mendominasi kenaikan. Saham
pertambangan emas mendapatkan semangat kembali dari penurunan selama ini
dengan menguatnya harga-harga 'bullion'. Minyak bumi naik US$2/barel,
sehingga total 2 hari kenaikan menjadi US$3,23 ditopang oleh kekacauan
suplai miinyak di Alaska. Gas bumi, perak dan tembaga juga ikut menguat.

Data ekonomi yang akan dirilis Rabu: Mortgage Bankers Association's purchase
applications, Labor Department's December import and export prices dan Fed's
beige book.

Sementara pasar saham Indonesia, kemarin berbeda dengan 3 hari terakhir
berhasil mengawali pembukaan dengan bertahan di teritori positif selama sesi
1. Tekanan jual yang masih tersisa disertai 'profit taking' intraday oleh
para 'daytraders dan high frequency trades menekan kembali penguatan hingga
IHSG kembali ditutup pada teritori negatif.

Namun demikian,  ditutup -0,67% selain lebih baik selama penutupan negatif 3
hari 'pullback' terakhir, khususnya -4,21% Senin lalu, IHSG berakhir dengan
mendekati paruh atas ('upper half') 'intraday range' Selasa yang sempat
menyentuh low -1,27%. Sementara 'turnover' (volume perdagangan) menurun
dibandingkan volume Senin sehingga menghindarkan indeks-indeks utama
Indonesia masuk kualifikasi hari distribusi. 'Nett sell' asing masih di atas
Rp1 triliun, tetapi menurun dibandingkan Senin.

Di tengah menguatnya bursa-bursa regional/global dan komoditas serta fakta
historis BI rate pada historical low di 6,5%, atau bahkan ditambahkan 100
basis poin sebagai antisipasi maksimal penyesuaian inflasi, masih jauh di
bawah rata-rata ketika 'primary bearish cycle' melanda IHSG selama 15 tahun
terakhir, maka potensi penguatan kembali IHSG dan saham-saham berfundamental
dan/atau berprospek usaha baik ke depan menyongsong perolehan kembali status
'investment grade' Indonesia cukup besar.

US market outlook: 'Market in Confirmed Uptrend'
Indonesia market outlook: 'Market Uptrend under Pressure'

'+'

Kirim email ke