Om positip01, boleh minta tolong dikasih ulasan cerdas dari Om terhadap 
penurunan di pasar SUN ini. terimakasih 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: positif01 <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 12 Jan 2011 11:00:11 
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Menkeu: Penurunan harga SUN masih dalam batas wajar

JAKARTA : Pemerintah menilai penurunan harga surat utang negara (SUN) yang
tercermin dari peningkatan imbal hasil pada perdagangan pasar sekunder masih
dalam batas wajar, yakni rata-rata 7%-7,5% sepanjang tahun.
Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo mengakui adanya peningkatan imbal
hasil (*yield*) dalam beberapa hari terakhir, tetapi kisaran kenaikan itu
dinilai masih wajar dan aman.

Dia menilai aksi jual oleh sejumlah investor di pasar modal dan pasar SUN
yang terjadi akhir-akhir ini merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada awal
tahun. Pelepasan portofolio itu dinilai merupakan strategi penataan ulang
investasi dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi makro.

“Memang *yield* SUN agak meningkat, tetapi semua masih pada batas yang kami
anggap wajar, yaitu 7%-7,5%,” ujarnya, tadi malam.

Menurut dia, aksi pelepasan saham di pasar modal dalam beberapa terakhir
disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap ancaman inflasi seiring
dengan kecenderungan peningkatan harga minyak.

Selain itu, pelaku pasar juga menjadikan perkembangan ekonomi global sebagai
pertimbangan usaha, terutama menyangkut isu bailout ke Portugal dan
perkembangan perdagangan China.

Dinamika makroekonomi domestik dan global tersebut kemungkinan dianggap
sejumlah pemodal tidak sesuai dengan kriteria investasi, sehingga perlu
penyesuaian strategi usaha.

"Saya rasa, pasti ada yang baru mulai membuka kegiatan pada awal tahun dan
menata ulang portofolio. Pasar modal kita meningkat pada 2010, valuasi
sampai 46%. Jadi, kalau ada sedikit koreksi, hal itu kami anggap wajar,”
kata Menkeu.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang rahmat Waluyanto mengungkapkan pada awal
tahun sempat terjadi aksi jual SUN di pasar sekunder yang tercermin dari
penurunan kepemilikan SUN oleh asing.

Beberapa faktor yang menjadi pemicu hal itu, a.l. peningkatan ekspektasi
inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia, komoditas, dan pertumbuhan
ekonomi dunia, serta aksi ambil untung (*profit taking*) di tengah tren
peningkatan harga obligasi negara dalam 3 bulan terakhir yang cukup tinggi.

“Memang ada pengurangan kepemilikan asing sekitar Rp1 triliun dari 7 Januari
hingga 10 Januari. Namun, jumlah ini relatif kecil dan menurut saya itu *profit
taking *dan *rebalancing* ke tenor pendek saja, karena kepemilikan asing di
SBI justru meningkat,” kata dia kepada *Bisnis,* tadi malam.

Rahmat menilai sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan inflasi,
karena hal itu merupakan risiko yang sistemis.

Dia mengatakan penetapan harga (*pricing*) semua surat berharga mencermikan
perkembangan inflasi. “Di pasar SUN, saya melihat ada portfolio rebalancing,
di mana investor menambah *weight *di tenor yang lebih pendek dengan
mengurangi tenor panjang. Jadi, saya tidak melihat adanya *capital* *
reversal* yang biasanya tercermin dari koreksi nilai tukar rupiah yang
signifikan,” kata Rahmat.

Kemarin, indeks harga SUN jatuh ke 102,37, terendah dalam 7 bulan terakhir.
Berdasarkan data Indonesia Bond Pricing Agency, hampir semua *yield *SUN
naik dan mencerminkan penurunan harga obligasi pemerintah di pasar sekunder.


*Yield* SUN bertenor 10 tahun kemarin meningkat 19 basis poin ke 8,33%,
sedangkan untuk *yield* SUN bertenor 5 tahun meningkat 11 basis poin menjadi
7,16%.

http://www.bisnis.com/index.php/market/obligasi/6297-menkeu-penurunan-harga-sun-masih-dalam-batas-wajar

Kirim email ke