Indeks-indeks utama AS menguat dan ditutup mendekati level tertinggi
'intraday' Kamis. Kenaikan sejumlah indeks ini tampak mengabaikan rilis data
ekonomi yang kurang menguntungkan terkait 'jobless claims'. Pasar sendiri
sama sekali tidak begitu memperdulikan 'downgrade' peringkat Jepang oleh S&P
yang hanya 1 poin dengan 'outlook' tetap stabil. Indeks komposit Nasdaq naik
0,6%, sementara indeks NYSE dan S&P 500 keduanya naik 0,2%.

Sementara, pasar saham Indonesia, melanjutkan reli yang telah berlangsung 2
hari sebelumnya dengan kenaikan signfikan. IHSG kemarin sempat menguat
hingga 1%, dan mulai mengalami tekanan sebagaimana tampak dalam grafik 5
menit pada pukul 15 atau kurang lebih setelah rilis 'downgrade' peringkat
Jepang. Reaksi tekanan yang berlangsung selama 1 jam sebelum penutupan
merupakan reaksi regional yang dialami oleh semua bursa yang masih aktif
setelah rilis S&P tersebut dikeluarkan. Selama itu, 'bulls' dan 'bears'
melakukan aksi tarik-menarik dengan keunggulan 'bulls' mengingat sentimen
Jepang yang dikeluarkan 1 jam sebelum bursa tutup memberikan pasar waktu
yang memadai untuk mencerna dan melakukan adjustment. Penutupan IHSG di
teritori positif +0,38% dengan volume yang lebih tinggi dari volume sehari
sebelumnya mengisyaratkan keuntungan bagi 'bulls' sekaligus memberikan
tingkat kepercayaan yang tinggi untuk kelanjutan reli seminggu ke depan.

Reaksi terhadap sentimen Jepang sendiri sudah disikapi dengan rasional oleh
pasar saham AS yang tidak bergeming, demikian pula dengan reaksi 'emerging
markets' pagi ini yang tidak melihat dan mengalami deselarasi atau penurunan
yang signfikan, termasuk bursa Jepang itu sendiri. Bagi banyak analis,
penurunan peringkat Jepang yang hanya satu level dan masih dalam zona A
serta dengan 'outlook' tetap stabil, sama sekali bukan hal yang mengejutkan.
Tim Condon, kepala riset Asia untuk ING Financial Market mengatakan,
 "Japan's public finance problems are a long-fuse issue. The downgrade
doesn't mean a crisis is imminent. It signals increased vulnerability."
Sejumlah analis berkeyakinan bahwa Jepang akan gagal bayar utang hampir
dikatakan mustahil mengingat aset yang dipegang oleh rumah tangga domestik
 penduduk Jepang sebanyak 1.400 triliun yen adalah 3 kali lebih besar dari
'output' ekonomi, yang menandakan tingkat tabungan masyarakat yang sehat dan
menjadi kekuatan potensial untuk peminjaman ke depan. Perlu diingat, dalam
konteks Jepang, asing nyaris tidak memegang utang Jepang dalam jumlah
signfikan. Kepala Nomura Holdings, Junichi Ujiie, menegaskan di Davos,
"Foreign investors might short-sell but they don't hold very much -- only
around 5 percent. I don't expect turmoil in markets."

Dalam grafik 5 menit, tampak 15 menit terakhir, pelaku pasar Indonesia
menyadari posisi yang lebih rasional menyikapi reli yang tengah berlangsung
dan sentimen sesaat Jepang, dan memutuskan untuk kembali ke pasar dengan
mendapatkan harga saham-saham unggulan yang lebih baik. Bar 5 menit terakhir
kemarin, menunjukkan kenaikan pesat baik persentase harga maupun volume IHSG
sehingga menutup pada teritori positif. Reaksi serupa setelah penutupan IHSG
kemarin, tampak dari pelaku pasar luar negeri menyikapi reli Indonesia. ETF
berbasis saham Indonesia yang diperdagangkan di NYSE masih ditutup pada
teritori positif 0,19% dengan volume perdagangan 3 kali di atas volume
rata-rata 3 bulan. Sementara, IDX ditutup sangat tipis -0,04% dan tidak
mengindikasikan adanya 'reveral' atas reli di atas 3% selama3 hari
belakangan.

Mengkonfirmasi reli yang berlangsung di Indonesia, Auerbach Grayson & Co,
global agency broker, yang berbasis di New York, menyampaikan rilis risetnya
bahwa pasar saham Indonesia berpotensi untuk 'rebound' sekurangnya 18%.
Richard Ross, global technical strategist Auerbach, sebagaimana dilaporkan
oleh Bloomberg menyatakan bahwa 'uptrend' IHSG masih berlangsung dan koreksi
10% mendekati garis 'support' kunci Fibonacci telah menciptakan 'entry
point' yang sangat kuat. Rose menyebutkan target 'upside' awalnya ada di
4.126. Auerbach Grayson sendiri merekomendasikan saham-saham pertambangan
('mining'). Menurut mereka, indeks pertambangan Indonesia dalam “ 'strong
technical position', with miners displaying relative strength through the
recent correction". Auerbach Grayson melanjutkan bahwa, “Bullish trends are
accelerating.” (
http://www.bloomberg.com/news/2011-01-27/indonesian-stocks-may-rebound-18-after-recent-plunge-technical-analysis.html
).

Terkait sektor pertambangan, pagi ini National Energy Administration (NEA)
merilis laporan bahwa konsumsi enerji ('power') Cina diperkirakan tumbuh 9%
selama 2011 menjadi 4,5 triliun kwh atau naik 14,6% dari tahun 2010 (
http://www.reuters.com/article/idUSBGNRCE78Z20110128). Hal ini
mengindikasikan data sebelumnya bahwa permintaan enerji yang tumbuh dari
Cina akan mempertahankan permintaan atas minyak bumi yang signfikan.
Volatilitas harga minyak bumi disertai dengan volatilitas harga-harga produk
pertambangan yang berimplikasi kepada saham-saham pertambangan akan
menciptakan 'short-term peak and trough' yang menarik untuk keuntungan
perdagangan komoditas.

'+'

Kirim email ke