Melanjutkan posting 'market update' pasar saham AS dan Indonesia per Jumat
lalu, ada hal yang menarik untuk dicermati terkait dengan potensi sub-sub
sektor tertentu di tengah tekanan masif yang menyeluruh. Dalam konteks pasar
saham AS, dapat kita saksikan pada penutupan Jumat lalu, bagaimana misalnya
di tengah turunnya indeks Dow Jones hingga -1,39% saham-saham sub-sektor
enerji dan batubara secara kumulatif justru menunjukkan peningkatan. Dalam
indeks perbandingan pada link berikut terlihat bagaimana indeks batubara AS
(DJUSCL) bergerak 'divergent' atau berbeda dengan indeks Dow Jones. Indeks
batubara (warna hijau) justru meningkat naik sementara indeks keuangan
(DJUSFN) (warna merah) bergerak lebih buruk/lebih turun bersamaan dengan
turunnya indeks Dow Jones (warna biru).

http://finance.yahoo.com/charts?s=^DJI#chart1:symbol=^dji;range=1d;compare=^djusfn+^djuscl;indicator=volumema(50);charttype=line;crosshair=on;ohlcvalues=0;logscale=on;source=undefined

<http://finance.yahoo.com/charts?s=^DJI#chart1:symbol=^dji;range=1d;compare=^djusfn+^djuscl;indicator=volumema(50);charttype=line;crosshair=on;ohlcvalues=0;logscale=on;source=undefined>Saham-saham
batubara yang tadinya mengalami pelemahan hingga lebih -2% di akhir
perdagangan berhasil menguat dan bahkan memotong penurunan itu sendiri.
Kondisi kenaikan saham-saham enerji yang selama pekan lalu naik +1,2%
ditopang dengan 'outlook' dan sentimen ke depan di tengah memburuknya krisis
Mesir dan menjalarnya kerusuhan ke negara-negara kunci Timur Tengah, seperti
Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, yang dikelola secara otoriter monarki,
dan merupakan negara-negara penghasil minyak mentah dunia terbesar. Kanal
Terusan Suez yang di bawah pengelolaan Mesir memegang peranan sentral atas
distribusi minyak mentah dunia hingg 4 juta barel per hari. Krisis yang
melanda Mesir dikhawatirkan dapat mengganggu kelancaran distribusi minyak
mentah dunia.

Terlepas dari sentimen global di tengah krisis Mesir, terkait dengan prospek
saham-saham batubara, 'demand' atau permintaan batubara dunia, sebagaimana
minyak mentah, masih tetap akan dikendalikan oleh pertumbuhan Cina.
Keputusan Pemerintah Cina belum lama ini untuk membatasi produksi domestik
batubara telah memberikan sinyal kepada eksportir batubara dunia bahwa akan
terus ada peningkatan ekspor batubara ke Cina selama 2011. Dalam rilis
laba-nya, Peabody Energy, yang merupakan perusahaan penambang batubara AS
sekaligus terbesar di dunia memproyeksikan jika pasar dunia tengah memasuki
tahapn awal dari apa yang mereka sebut "a long-term supercycle for coal"
mengingat permintaan batubara dari Asia, khususnya Cina dan India, terus
meningkat (
http://www.businessspectator.com.au/bs.nsf/Article/UPDATE-2-Coal-miner-Peabody-Energys-Q4-profit-soar-DFJWP?OpenDocument&src=rab
).

Untuk konteks potensi pertumbuhan harga saham enerji/batubara Indonesia
selama 2011, dalam konteks tekanan global pasar dunia di tengah krisis
politik Mesir/Timur Tengah, rekomendasi utama tetap kepada akumulasi/hold:
ELSA / ITMG / DOID. Ketika harga berpeluang melemah terlebih saat 'market
over-reacting', maka pada saat yang bersamaan peluang/kesempatan investasi
justru menguat. Namun demikian, investor tidak terlalu terikat/terpengaruh
dengan volatilitas harga jangka pendek, dan lebih melihat setidaknya 52
minggu ke depan.

'+'

Kirim email ke