Dengan pertumbuhan industri perbankan yang positif ditopang pertumbuhan
ekonomi Indonesia secara umum maka kinerja perbankan Indonesia tetap
merupakan aset yang prospektif. Hanya persoalannya terkait dengan
harga-harga saham perbankan, itu adalah 2 hal yang berbeda. Kinerja
perbankan dan harga saham memiliki juri penentu kelayakan sendiri dengan
parameter sendiri. Direksi perbankan adalah pihak yang menentukan
pengelolaan bisnis perbankan, sementara kinerja saham perbankan disandarkan
kepada ekspektasi pelaku pasar/investor. Meski kinerja perusahaan diklaim
baik atau terbaik, realitas harga sahamnya belum tentu sinerji dengan
kinerja bisnis. Inilah pentingnya valuasi. Jika dalam pengelolaan bisnis ada
istilah "besar pasak dari tiang" maka dalam pergerakan harga saham bisa
dimunculkan istilah "besar harapan dari kenyataan" atau frase teknikalnya
"overpriced" alias kemahalan, dan itu tidak ada urusannya dengan kinerja
direksi, tetapi semata karena ekspektasi dan persepsi Anda-Anda spekulan,
trader, investor yang lebih sering kebabalasan.

Dan itu, menjelaskan mengapa saham-saham 'banking' Indonesia perlu dan harus
'sell-off', khususnya 5 'large caps' bank (market caps > Rp50 triliun) yang
secara kumulatif menyumbang 12,1% dari laju pergerakan IHSG, diperdagangkan
dengan besaran PBV forward 3,5 kali di atas PBV regional emerging markets.
Jika melihat grafik perbandingan regional emerging markets saham-saham
perbankan berikut (
http://graphics.thomsonreuters.com/11/02/ID_FNCLSCTR0211.gif), dan Anda
seorang investor asing baru, apa alasan Anda masuk dan memelihara
saham-saham 'large caps' Indonesia ketika Anda bisa mendapatkan saham-saham
'large caps' Korea, Selatan yang merupakan salah satu grup favorit emerging
markets baru Goldman Sachs bersama Mexicod, Indonesia dan Turki (MIKT),
hanya dengan PBV forward 1,7?

Sektor finansial khususnya sub-sektor perbankan, dengan bobot besarnya
terhadap IHSG menjadi faktor utama yang mengurangi 'attractiveness' IHSG.
Mengapa yang menjadi kunci sub-sektor perbankan dengan ke-5 large caps
tersebut? Karena itulah sub-sektor yang tidak sinkron dengan siklus ekonomi
yang tengah berlangsung. Penyesuaian yang masih belum memadai sebagai aset
yang rentan tekanan inflasi, dipandang pasar sebagai potensi koreksi yang
selalu menggantung. Hingga "mereka" selesai dan diselesaikan maka kondisi
IHSG akan tertawan. Ada beberapa hal penting yang menjadi catatan:

1. HSBC memperkirakan BI rate akan ke 7,25% pada April 2011, sementara UBS
AG dan Royal Bank of Canada adalah sekian dari beberapa 'investment bank'
yang memproyeksikan BI rate akan naik ke 8% pada tahun 2011;

2. Pelajaran dasar investor/trader dalam mengenal dan menyesuaikan siklus
ekonomi dan 'group rotation' diringkaskan dengan tepat oleh 'market
technician' seperti Martin J. Pring, "...one might consider emphasizing
interest-sensitive (among other, Energy Index) and other issues with leading
tendencies *when* the Financial Index momentum bottoms" atau "...penekanan
kepada saham-saham yang sensitif positif terhadap suku bunga (di antaranya
indeks Enerji) dan lainnya yang cenderung positif selama inflasi harus
dilakukan *ketika* Indeks Finansial mencapai zona terendahnya".

3. IHSG bukan yang pertama dari indeks 'emerging market' yang mengalami
tekanan inflasi pasca-'recovery' krisis global 2008. Cina sudah lebih dulu
mengalami sepanjang 2010 sehingga indeks komposit-nya tertekan -14% selama
2010, dan saham-saham perbankan menjadi motor penyesuaian turun untuk dapat
mengembalikan atraksi valuasi indeks dan saham-saham Cina secara
keseluruhan. Satu hal yang perlu dicatat dalam strategi investasi sub-sektor
perbankan adalah indikator sensitif pada awal tahun yang akan menentukan
arah saham perbankan selama setahun. Apa itu?

Pertumbuhan kredit awal tahun baru. Setelah tertekan selama setahun, baik
Cina dan AS, kita menyaksikan data pengucuran kredit yang gemilang pada
minggu pertama di tahun baru 2011 Januari lalu.

Analysts also focused on new-loan growth in January so far. Chinese banks
lent out a total of 480 billion yuan of new loans over the first week of the
year, “with the sector on pace to reach 1 trillion yuan [in] new loans for
the month,” UOB KayHian analyst Nan Sheng said in a note to clients. “We
view this as a positive trend for the sector, as the new loans combined with
the higher interest-rate environment will boost the sector’s earnings,”
Sheng said. UOB KayHian forecasts 2011 new-loan growth to be around 7
trillion yuan, implying year-on-year growth of 14.6%. (
http://www.marketwatch.com/story/china-banks-may-profit-despite-tighter-policy-2011-01-11
)

Bagaimana dengan perbankan Indonesia di awal tahun? Terimalah kenyataannya
sebagai tanda-tanda pasar yang jelas meski di bulan pertama Anda akan selalu
katakan, "deny-deny-deny". Berkebalikan dengan Cina dan AS yang emiten
perbankannya tertekan lebih dahulu di 2010, berita dan data dari perbankan
Indonesia:

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kredit perbankan turun
signifikan selama pekan pertama Januari 2011. Bank sentral mencatat di awal
tahun 2011 kredit
perbankan turun sebesar Rp 17,97 triliun sehingga menjadi Rp 1.724,88
triliun. (
http://www.detikfinance.com/read/2011/01/11/190007/1544408/5/kredit-perbankan-jeblok-rp-18-triliun-di-awal-2011
)

Masih "in state of denial", keukeuh, ngeyel dan bahkan malah mengajak? :d

Apa yang harus dilakukan dengan tekanan inflasi dan awal yang buruk di awal
tahun bagi perbankan? Apakah IHSG akan kolaps 'primary bullish cycle'-nya,
dan pelaku pasar lari ke 'developed market' begitu saja? Oh...tentu jawabnya
tidak. Untuk 'developed market', kemarin malam Gubernur Bank Sentral AS,
Bernanke, telah memberikan 'clue' yang jelas bahwa jalan masih jauh
(Bernanke: No Jobs, No Recovery).

“Until we see a sustained period of stronger job creation, we cannot
consider the recovery to be truly established.” Federal Reserve Chairman Ben
Bernanke, February 9, Before the Committee on the Budget, U.S. House of
Representatives. Bernanke said last month that it might take two years for
the unemployment situation to substantial improve. Between the lines, the
Fed chief is warning that any complete and robust recovery will not be
evident until 2013. (
http://247wallst.com/2011/02/09/bernanke-no-jobs-no-recovery/)

So, what to do? Ikuti siklus ekonomi dan arahkan porto Anda ke sana. Oil &
gas dan coal related, dan saham lain dengan tendensi positif terhadap
tekanan inflasi. Jauhi dan lepas bank, kecuali harga entry rata-rata Anda
35% di bawah target atraktif ideal 5 'large caps' bank berikut:

Penyesuaian terhadap target harga ideal pada kisaran forward PBV 2,5 'peer'
regional-nya akan mengembalikan 'attractiveness' IHSG

BBCA: Rp3.575
BMRI: Rp4.200
BBRI: Rp3.525
BBNI: Rp2.900
BDMN: Rp5.050

'+'

Kirim email ke