Nice sharing om Oguds, thanks

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Oguds <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Feb 2011 18:29:40 
To: positif01<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Re: [meta-noia] Mengapa banking perlu dan harus 'sell-off'

Kamis, 10/02/2011 13:37:20, positif01 menulis:

p> Bank sentral mencatat di awal tahun 2011 kredit perbankan turun
p> sebesar Rp 17,97 triliun sehingga menjadi Rp 1.724,88 triliun.

Gan, itu berita basi kenapa dimakan lagi? Itu di pekan pertama 2011,
akibat 'January defect'. Di Jan 2011 justru tumbuh 24%.

Saya melihat logika anda terbolak-balik. Misalkan, bila preview bursa
di 2011 ini dilihat dari awal tahun, mengapa di awal 2010 yg
pertumbuhan kredit adalah negatif, justru BEI naik tinggi? Secara YoY,
di 2011 ini malah lebih tinggi dari 2010 (ada di berita basi tadi).

Perang pendapat di milis ini, benar atau salah, menurut saya bukan
masalah. Toh keputusan akhir ada di tiap2 pembaca. Namun logika setiap
pendapat harus terbangun jelas. Logika yg terbolak-balik, hasilnya
inkonsistensi, lalu mana yg bisa dipegang?

Flaw lain dari logika anda, bila saham banking diprediksi jeblok,
padahal ada pendapat finansial adalah backbone dari IHSG, tidak
mungkin saham2 komoditas akan melesat. Sentimen bursa akan negatif,
dan menyeret semua saham. Jadi bila ingin saham2 tambang meledak,
finansial juga harus dikerek, rumusnya: bersama kita bisa.

Mencermati berita rekan sebelah, "Pertumbuhan kredit pada 2010 lebih
banyak berasal dari kredit UMKM", harusnya efek dari kredit usaha di
2010 mulai terlihat di 2011. Artinya, moga2 memang sektor riil akan
meledak tahun ini. Mereka pun akan ekspansi, melebarkan sayap, artinya
malah menambah kredit lagi. Dengan 'komitmen' bank2 BUMN yg tidak
menaikkan bunga (berita terbaru), sektor finansial akan cemerlang.

Mengenai PBV banking di Indonesia yg tinggi, ada yg bisa menggali
lebih dalam? Maksudnya, pengaruhnya mahal tidaknya saham perbankan
dilihat dari PBV. Apakah parameter lain tidak dilihat, misalnya PER.
Jangan pula bank Indonesia dibandingkan Korsel, di sana 'BK rate' di
2.75%, di sini BI rate 6.75%. Dengan situasi BEI yg tertekan, PBV
sudah jauh menurun, mendekati rekan2nya di regional.

Tertanda,
Oguds [960000031]


Kirim email ke