Sesi 1 pada awal listing GIAA sudah berlalu. Waktu istirahat sebelum memasuki sesi 2 sudah lebih dari cukup untuk dapat mencerna lebih jernih apa dan mau ke mana saham GIAA berikut segala potensi dan kelemahannya. Sejumlah media pada intinya menyebutkan 2 hal mendasar penyebab 'crash landing' IPO Garuda, yaitu 'overpricing' dan 'mis-timing'.
Pada 'posting' pagi tadi, sudah diberikan salah satu gambaran pergerakan indeks group industry airlines Dow Jones terhadap indeks utama industrial Dow Jones, dan hasilnya menunjukkan konfirmasi 'divergence' atau pelemahan yang berkebalikan dengan indeks utama. Suatu kondisi yang sesuai dengan ekspektasi siklus saham yang 'liquidity-driven' (seperti 'airline') secara umum memasuki paruh kedua 'primary bullish cycle' market baik lokal, regional ataupun global ( http://finance.yahoo.com/echarts?s=%5EDJUSAR+Interactive#chart5:symbol= ^djusar;range=1y;compare=^dji;indicator=volume;charttype=line;crosshair=on;ohlcvalues=0;logscale=on;source=undefined). Selain itu, menarik untuk berbagi informasi yang dijadikan pijakan dan perspektif para investor atas potensi 'airline issue' yang paling akhir ditandai dengan IPO-nya Garuda Indonesia. Jika Anda, memantau dari dekat salah satu indikator penting pada bursa saham AS maka Anda akan menemukan ada sedikit kategori saham yang secara konsisten telah dan selalu memerosotkan nilai portofolio investor. Bayangkan, sejak tahun 1990, salah satu indikator penting 'group industry' airline di AS, S&P aviation sub-sector, hanya naik tidak lebih dari 5% (baca: LIMA persen). Sejak 1990 sampai sekarang, berarti 20 tahun lebih. Sementara indeks utama S&P sendiri naik 93 kali lipat (SEMBILAN PULUH TIGA X) dari indeks sub-sektor penerbangan tersebut. Kemudian, dari seluruh maskapai penerbangan di dunia yang telah tercatat di bursa saham masing-masing, separuh (1/2)-nya tidak menghasilkan keuntungan ('no money') sama sekali selama 12 bulan terakhir. Padahal kurun waktu 2009-2010 adalah tahun yang baik bagi industri penerbangan. Dan, kini bertambah lagi satu maskapai penerbangan yang mencoba 'listing' di tengah buruknya kinerja saham-saham penerbangan global. Meski, harga perdana ditetapkan pada batas bawah menurut pihak yang berkepentingan, tetap saja dengan PER 2011/E yang 18 kali tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan patokan ideal IHSG selama 2011 di 12 kali. Dan, jika dibandingkan dengan saham maskapai penerbangan regional, kemahalan itu justru bertambah. Thai Airways PER 8x, Cathay Pacific 9x dan Singapore Airlines 11x. Dihitung secara global, Garuda dengan harga perdana IPO-nya lebih mahal dari 48 saham maskapai penerbangan yang termasuk 50 saham maskapai penerbangan dengan kapitalisasi pasar terbesar. Apalagi, ditambah kenyataan bahwa baru satu bulan lalu Garuda menandatangani perjanjian restrukturisasi utang dengan kreditur European export credit agencies yang memiliki taighan belum terbayar sebesar $300 juta. "Does the world really need another listed airline?," demikian tanya dalam salah satu media keuangan kredibel dunia Financial Times. '+'
