Bagi yang baru mulai terpikir dan terpikat dengan pergerakan harga emiten bersaudara, MPPA/MLPL, pasca perkembangan hasil RUPS yang diadakan pada hari yang bersamaan kemarin pasti bertanya, pilih MPPA atau MLPL atau keduanya?
Bagi yang sudah setia dan percaya dengan MPPA sebagai kendaraan investasinya dan masuk jauh-jauh hari di 2010, tentu sudah tidak menjadi persoalan. Tetapi, bagi yang baru mau/berani adu nyali dengan melihat pergerakan harga MPPA hari ini yang sempat melonjak 18,75% dan saat ini masih di kisaran 15%, tentu perasaan cenat-cenut dikejar bayangan 'stock chasing' atau menguber-uber saham tidak dapat dihindarkan. Yang menarik justru respon traders yang "sepi" terhadap MLPL yang pergerakan harganya masih di bawah 2 digit dan belum berangkat jauh dibandingkan MPPA. Ada apa, dan apakah benar demikian? Senin kemarin, 14 Pebruari, memang saham MLPL dilanda tekanan 'pull-back' yang dalam dengan kehilangan hingga -11,86%. Salah satu faktor yang menjadi catatan pada Senin lalu adalah sentimen investor yang kecewa dengan nilai pembagian dividen yang hanya Rp10, di samping rencana divestasi MPPA sebagai kontributor pendapatan utama MLPL. Jika MLPL dilihat bergandengan dengan MPPA, misalnya melalui grafik pergerakan harga saham, maka acuan pada pergerakan keduanya linear yaitu mengalami volatilitas 'upside' pada saat MPPA mengumumkan pembagian dividen yang besar sebagai hasil penjualan MDS (Maret, Juni dan Desember 2010). Cermati misalnya ketika untuk pertama kalinya manajemen MPPA mengumumkan di media rencana pembagian dividen yang besar tersebut Rp180/saham pada tanggal 2-3 Desember, saham MLPL pada tanggal tersebut melejit sebagaimana saham MPPA ( http://finance.yahoo.com/echarts?s=MLPL.JK+Interactive#chart7:symbol=mlpl.jk;range=my;compare=mppa.jk;indicator=sma(20)+volume;charttype=line;crosshair=on;ohlcvalues=0;logscale=on;source=undefined). Padahal, yang perlu dicatat saat itu, terakhir kali MLPL membagikan dividen 'cum-date' tanggal 10 Juni 2010 dan itu hanya sebesar Rp2,15 atau 25% saja dari dividen yang akan dibagikan 'cum-date' 10 Maret depan (tentatif). Aneh bukan? Reaksi terukur dari trader/investor seharusnya justru pergerakan harga lebih masif lagi saat ini dibandingkan dengan Desember lalu yang justru tanpa dividen sama sekali. Kecewa dengan dividen MLPL yang hanya Rp10 atau dengan yield 3,85% untuk harga saham penutupan 14 Pebruari, dibandingkan dengan dividend yield MPPA yang 20,83%? Mari cermati lebih lanjut, apa yang sebenarnya terjadi. Jika Anda adalah investor institusi dalam posisi MLPL maka keputusan untuk meminimalkan dividen 2010 adalah pilihan yang sangat rasional. Sejalan dengan agenda pengembangan bisnis MLPL ke depan dan terkait dengan divestasi MPPA maka pilihan yang rasional adalah menahan laba sebanyak mungkin untuk menjaga kas internal pengembangan usaha sementara di sisi lain berusaha meningkatkan pendapatan hasil 'capital gain' divestasi MPPA sekaligus dividen dari MPPA. Oleh karena itu, bukan suatu kebetulan dan tanpa koordinasi, jika MLPL selaku pengendali MPPA mendorong MPPA membagikan laba, khususnya hasil divestasi MDS, sebelum akhir Maret karena pada akhir kuartal 1 ini juga MLPL akan mendivestasi MPPA. Jadi minimalkan laba dari kantong sendiri untuk pengembangan, dan maksimalkan laba dari kantong lain yang akan dilepas untuk menjaga likuiditas modal kerja. Logis dan langkah yang cerdas. Selanjutnya, yang tidak kalah penting, divestasi macam apa yang akan terjadi dengan MPPA? Yang pasti divestasi ekuitas, tetapi sejauh apa? Sejumlah investor ketar-ketir jika MLPL akan melepas begitu saja MPPA. Well, jika Anda memantau RUPS kemarin dengan cermat dan mengikuti dari dekat pernyataan-pernyataan manajemen MPPA dan MLPL, tentunya di luar informasi 'insider', segala sesuatunya terang-benderang untuk MLPL tanpa ada yang perlu dikhawatirkan secara serius. Harian Kontan kemarin sudah memuat dengan jelas pernyataan Direktur MLPL Harijono yang menegaskan, "Yang jelas kami serius. Kami ingin yang terbaik. *Kalau bisa lepas (saham) sedikit tapi dapat (dana)-nya banyak*." Skema yang tinggal menunggu 'finishing touch' kurang lebih MLPL akan melepas sebagian saham 60-70% dan sisa saham untuk memenuhi permintaan 'strategic invesor' memegang kendali MPPA akan ditambah melalui 'right issues', termasuk kemungkinan bentuk 'pre-emptive rights'. Hitungan kasarnya, MLPL tidak akan begitu saja melepas MPPA sebagai sumber pemasukan persis seperti 'deal' pelepasan MDS (Matahari Department Store) oleh MPPA kepada CVC di mana kontrol kurang lebih 30% saham MDS tetap pada MPPA. Direktur Keuangan MLPL, Reynold P. Ong sebagaimana dikutip oleh harian VIVAnews kemarin menyampaikan sendiri bahwa skema variasi yang memungkinkan adalah melalui penerbitan saham baru atau 'rights issue'. Pada akhirnya, jika menimbang pembagian dividend dengan 'cum-date' 10 Maret di yield 3,85% dan sejumlah potensi peningkatan kas internal MLPL melalui divestasi 70% saham MPPA dengan tetap mempertahankan akses dan persentase tertentu dari pendapatan di MPPA, plus volatilitas harga yang sudah terkoreksi 30% sejak penutupan kemarin dari level tertinggi 2011 di Rp340 serta 'pull-back' -11% kemarin dan 'range' kenaikan yang masih +5% hari ini maka prospek harga MLPL ke depan bagi traders/short-term investors tentu 'rationally tempting' dibandingkan resiko dengan mengempit saham-saham perbankan yang mendapatkan tekanan laju inflasi. Memperhatikan tandem pergerakan MLPL terhadap MPPA saat rilis dividen spektakuler MPPA 3 Desember lalu, terhitung sejak 1 Desember sampai 8 hari berikutnya kenaikan dari low ke high sampai 70,45%. Selain itu, MA harga kunci saat ini untuk 20 hari yang masih di atas dalam kisaran Rp300 menjadi pemicu volatilitas 'upside' yang menarik ke depan sejalan dengan rasionalisasi investor dalam mempertimbangkan sejumlah rencana pengembangan usaha MLPL setidaknya selama 2011. JP Morgan atau BK pun masih terlihat memfasilitasi akumulasi selama 3 bulan terakhir, dan hal ini dilihat dalam konteks strategi cross-broker dianggap sebagai penyeimbangan langkah distribusi ML di MPPA.. Bloomberg hari ini menyebutkan, "PT Multipolar (MLPL IJ), the Indonesian retailer, increased 5.8 percent to 275 rupiah, on course for the biggest gain since Jan. 12. Multipolar plans to open three Robbinz department stores and four hypermarkets in China <http://topics.bloomberg.com/china/> this year at an estimated investment of $70 million, Kontan reported, citing Chrysologus RN Sinulingga, corporate secretary at the company." MLPL 'cash rich' dan meanwhile ke depan masih pegang tabungannya di MPPA. Cermati chart in the past. Look into December 1 2010 onward as you may also see and compare with MPPA. Demikian sekilas info untuk traders/short-term investors. '+'
