DPR
Bicara layaknya Tuhan, kelakuan layaknya SETAN

2011/2/17 Susanto Salim <[email protected]>

>
>
> Saya anggap bapak salah ketik waktu nulis kata 'hewan' :D
> Terlepas dari benar salahnya, saya paham bahwa omongan si dewan ini memang
> bertentangan dengan pakem yang berlaku, tapi saya kira dia ada point
> juga. Masuk akal kan kenaikan bunga membuat cost dari produsen meningkat
> jadi bukan tidak mungkin produsen malah terpaksa menaikkan harga meski
> permintaan berkurang (karena orang gak punya duit). Jadi tujuan untuk
> menurunkan harga malah tidak tercapai. Jadi hasil akhirnya akan merupakan
> tarik ulur antara permintaan yang berkurang dengan biaya berhutang yang
> meningkat. (masih bisa ditanyakan lagi kalo permintaan berkurang kan jelek
> bagi ekonomi, kumpeni terpaksa berhemat mungkin phk karyawan dll)
>
> Point saya soal bunga gak bikin orang lebih hemat bukan dalam rangka
> mengatakan bahwa kenaikan bunga harus besar, tapi hanya ingin menunjukkan
> bahwa asumsi kenaikan bunga membuat orang lebih hemat patut dipertanyakan.
> Kalo kumpeni ato institusi mungkin memang beda perilakunya dari individu.
>
>
> 2011/2/16 Vernichtung <[email protected]>
>
>
>>
>> Begin pak Susanto menurut apa yg saya tahu, secara teori kenaikan suku
>> bunga akan meredam jumlah uang yg beredar di masyarakat melalui bbrp
>> hal antara lain savings dan investasi/belanja usaha sehingga terjadi
>> pengetatan prospek pendapatan pada masyarakat. Mungkin hal ini bida
>> didebat sebagai sesuatu yg tdk efektif, tetapi ini adalah salah satu
>> alat yg tersedia bagi bank sentral dalam mengatur ekonomi secara
>> makro. Kalau menurut saya anggota hewan yg sudah bicara itu salah
>> karena beliau tidak mengerti substansi pengaturan ekonomi makro dan
>> keterbatasan alat yg dapat dipakai oleh bank sentral untuk
>> mengaturnya. Menaikkan suku bunga hanya 25bps mungkin terlihat tidak
>> akan memberikan efek yg signifikan bagi kita2 yg terbiasa mengatur
>> peredaran uang yg dalam jumlah relatif kecil, namun bagi para pelaku
>> ekonomi yg mengatur perputaran uang dalam jumlah besar, tentulah cukup
>> signifikan. bank sentral juga tidak mungkin seenaknya menaikkan suku
>> bunga acuan secara drastis karena bisa memberikan persepsi yg salah
>> mengenai situasi ekonomi makro Indonesia, yg hasilnya bisa
>> membahayakan sektor investasi yg akan merembet ke berbagai sektor
>> lainnya (efek domino).
>>
>> Saya juga tidak bilang bahwa bank sentral benar dalam hal ini karena
>> inflasi yg terjadi sebenarnya bukan karena meningkatnya
>> permintaan/demand tetapi karena terjadinya penurunan pada supply
>> (terutama bahan pangan). Jadi menaikkan suku bunga untuk menurunkan
>> supply bisa malah menjadi bumerang yang dapat membuat inflasi malah
>> naik lebih tinggi (karena supply sudah turun sehingga tidak dapat
>> memenuhi permintaan). Kembali lagi, mungkin langkah ini diambil karena
>> keterbatasan alat yg dapat dipergunakan oleh bank sentral utk meredam
>> inflasi. Mungkin ada baiknya mereka bisa lebih obyektif dan kreatif
>> sehingga bisa mengambil langkah yg dapat lebih efekif dalam meredam
>> inflasi yg terjadi di Indonesia.
>>
>  
>

Kirim email ke