Prediksi mr positif01 sangat komprehensif, namun demikian waktulah yang akan membuktikan. Besok atau atau minggu depan mudah2 an terjawab. Just watch banking.
________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, February 10, 2011 1:13:53 AM Subject: Re: [saham] Mengapa banking perlu dan harus 'sell-off' Pengen banget denger sanggahan bro Ian dan bro tommy yu Sent with CuanWannabe v.88 Powered by Shortsell ________________________________ From: Djoni <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 10 Feb 2011 14:09:40 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [saham] Mengapa banking perlu dan harus 'sell-off' 2011/2/10 positif01 <[email protected]> >Dengan pertumbuhan industri perbankan yang positif ditopang pertumbuhan >ekonomi >Indonesia secara umum maka kinerja perbankan Indonesia tetap merupakan aset >yang >prospektif. Hanya persoalannya terkait dengan harga-harga saham perbankan, itu >adalah 2 hal yang berbeda. Kinerja perbankan dan harga saham memiliki juri >penentu kelayakan sendiri dengan parameter sendiri. Direksi perbankan adalah >pihak yang menentukan pengelolaan bisnis perbankan, sementara kinerja saham >perbankan disandarkan kepada ekspektasi pelaku pasar/investor. Meski kinerja >perusahaan diklaim baik atau terbaik, realitas harga sahamnya belum tentu >sinerji dengan kinerja bisnis. Inilah pentingnya valuasi. Jika dalam >pengelolaan >bisnis ada istilah "besar pasak dari tiang" maka dalam pergerakan harga saham >bisa dimunculkan istilah "besar harapan dari kenyataan" atau frase teknikalnya >"overpriced" alias kemahalan, dan itu tidak ada urusannya dengan kinerja >direksi, tetapi semata karena ekspektasi dan persepsi Anda-Anda spekulan, >trader, investor yang lebih sering kebabalasan. > > >Dan itu, menjelaskan mengapa saham-saham 'banking' Indonesia perlu dan harus >'sell-off', khususnya 5 'large caps' bank (market caps > Rp50 triliun) yang >secara kumulatif menyumbang 12,1% dari laju pergerakan IHSG, diperdagangkan >dengan besaran PBV forward 3,5 kali di atas PBV regional emerging markets. >Jika >melihat grafik perbandingan regional emerging markets saham-saham perbankan >berikut (http://graphics.thomsonreuters.com/11/02/ID_FNCLSCTR0211.gif), dan >Anda >seorang investor asing baru, apa alasan Anda masuk dan memelihara saham-saham >'large caps' Indonesia ketika Anda bisa mendapatkan saham-saham 'large caps' >Korea, Selatan yang merupakan salah satu grup favorit emerging markets baru >Goldman Sachs bersama Mexicod, Indonesia dan Turki (MIKT), hanya dengan PBV >forward 1,7? > > >Sektor finansial khususnya sub-sektor perbankan, dengan bobot besarnya >terhadap >IHSG menjadi faktor utama yang mengurangi 'attractiveness' IHSG. Mengapa yang >menjadi kunci sub-sektor perbankan dengan ke-5 large caps tersebut? Karena >itulah sub-sektor yang tidak sinkron dengan siklus ekonomi yang tengah >berlangsung. Penyesuaian yang masih belum memadai sebagai aset yang rentan >tekanan inflasi, dipandang pasar sebagai potensi koreksi yang selalu >menggantung. Hingga "mereka" selesai dan diselesaikan maka kondisi IHSG akan >tertawan. Ada beberapa hal penting yang menjadi catatan: > > >1. HSBC memperkirakan BI rate akan ke 7,25% pada April 2011, sementara UBS AG >dan Royal Bank of Canada adalah sekian dari beberapa 'investment bank' yang >memproyeksikan BI rate akan naik ke 8% pada tahun 2011; > > >2. Pelajaran dasar investor/trader dalam mengenal dan menyesuaikan siklus >ekonomi dan 'group rotation' diringkaskan dengan tepat oleh 'market >technician' >seperti Martin J. Pring, "...one might consider emphasizing interest-sensitive >(among other, Energy Index) and other issues with leading tendencies when the >Financial Index momentum bottoms" atau "...penekanan kepada saham-saham yang >sensitif positif terhadap suku bunga (di antaranya indeks Enerji) dan lainnya >yang cenderung positif selama inflasi harus dilakukan ketika Indeks Finansial >mencapai zona terendahnya". > > >3. IHSG bukan yang pertama dari indeks 'emerging market' yang mengalami >tekanan >inflasi pasca-'recovery' krisis global 2008. Cina sudah lebih dulu mengalami >sepanjang 2010 sehingga indeks komposit-nya tertekan -14% selama 2010, dan >saham-saham perbankan menjadi motor penyesuaian turun untuk dapat >mengembalikan >atraksi valuasi indeks dan saham-saham Cina secara keseluruhan. Satu hal yang >perlu dicatat dalam strategi investasi sub-sektor perbankan adalah indikator >sensitif pada awal tahun yang akan menentukan arah saham perbankan selama >setahun. Apa itu? > > >Pertumbuhan kredit awal tahun baru. Setelah tertekan selama setahun, baik Cina >dan AS, kita menyaksikan data pengucuran kredit yang gemilang pada minggu >pertama di tahun baru 2011 Januari lalu. > > >Analysts also focused on new-loan growth in January so far. Chinese banks lent >out a total of 480 billion yuan of new loans over the first week of the year, >“with the sector on pace to reach 1 trillion yuan [in] new loans for the >month,” >UOB KayHian analyst Nan Sheng said in a note to clients. “We view this as a >positive trend for the sector, as the new loans combined with the higher >interest-rate environment will boost the sector’s earnings,” Sheng said. UOB >KayHian forecasts 2011 new-loan growth to be around 7 trillion yuan, implying >year-on-year growth of 14.6%. >(http://www.marketwatch.com/story/china-banks-may-profit-despite-tighter-policy-2011-01-11) > > > >Bagaimana dengan perbankan Indonesia di awal tahun? Terimalah kenyataannya >sebagai tanda-tanda pasar yang jelas meski di bulan pertama Anda akan selalu >katakan, "deny-deny-deny". Berkebalikan dengan Cina dan AS yang emiten >perbankannya tertekan lebih dahulu di 2010, berita dan data dari perbankan >Indonesia: > > >Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kredit perbankan turun signifikan >selama pekan pertama Januari 2011. Bank sentral mencatat di awal tahun 2011 >kredit >perbankan turun sebesar Rp 17,97 triliun sehingga menjadi Rp 1.724,88 triliun. >(http://www.detikfinance.com/read/2011/01/11/190007/1544408/5/kredit-perbankan-jeblok-rp-18-triliun-di-awal-2011) > > > >Masih "in state of denial", keukeuh, ngeyel dan bahkan malah mengajak? :d > > >Apa yang harus dilakukan dengan tekanan inflasi dan awal yang buruk di awal >tahun bagi perbankan? Apakah IHSG akan kolaps 'primary bullish cycle'-nya, dan >pelaku pasar lari ke 'developed market' begitu saja? Oh...tentu jawabnya >tidak. >Untuk 'developed market', kemarin malam Gubernur Bank Sentral AS, Bernanke, >telah memberikan 'clue' yang jelas bahwa jalan masih jauh (Bernanke: No Jobs, >No >Recovery). > > >“Until we see a sustained period of stronger job creation, we cannot consider >the recovery to be truly established.” Federal Reserve Chairman Ben Bernanke, >February 9, Before the Committee on the Budget, U.S. House of >Representatives. Bernanke said last month that it might take two years for the >unemployment situation to substantial improve. Between the lines, the Fed >chief >is warning that any complete and robust recovery will not be evident until >2013. >(http://247wallst.com/2011/02/09/bernanke-no-jobs-no-recovery/) > > >So, what to do? Ikuti siklus ekonomi dan arahkan porto Anda ke sana. Oil & gas >dan coal related, dan saham lain dengan tendensi positif terhadap tekanan >inflasi. Jauhi dan lepas bank, kecuali harga entry rata-rata Anda 35% di bawah >target atraktif ideal 5 'large caps' bank berikut: > > >Penyesuaian terhadap target harga ideal pada kisaran forward PBV 2,5 'peer' >regional-nya akan mengembalikan 'attractiveness' IHSG > > >BBCA: Rp3.575 >BMRI: Rp4.200 >BBRI: Rp3.525 >BBNI: Rp2.900 >BDMN: Rp5.050 > > >'+'
