Mohon maaf, sekedar urun rembuk saja...
Saya bukan ahli dibidang moneter maupun kebijakan publik..tapi saya mencoba 
memahami Bapaks di BI dan Bapaks di DPR terkait dengan permasalahan BI Rate 
ini. Berdasarkan pemahaman saya, BI adalah otoritas moneter di negara kita ini. 
Nah, sebagai otoritas moneter, tentunya, punya hak dan kewajiban (makanya 
Bapaks dan Ibus di BI mendapatkan gaji). Tugas utama BI adalah menjaga 
stabilitas harga yang dapat dikejawantahkan menjadi stabilitas rupiah (terkait 
dengan nilai tukar --> sisi eksternal) dan stabilitas harga (sisi internal). 
Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, BI "dipersentajai" dengan berbagai 
instrumen yang dikenal dengan instrumen moneter. Janganlah kita lupa bahwa 
menurut UU BI, yang seingat saya belum diamandemen secara resmi, dalam
 pelakasanaan kebijakan di bidang moneter, BI tidak dapat diintervensi oleh 
pihak manapun (ini pengertian saya dan maaf apabila keliru karena saya bukan 
pula ahli hukum). Nah, guna melaksanakan tugas utamanya tersebut, BI kemudian 
"mengeluarkan" kebijakan moneter berupa peningkatan BI Rate yang tentu telah 
dipertimbangkan melalui proses pengambilan kebijakan yang ketat dan dengan 
mengumpulkan data, informasi dan pertimbangan2 berbagai pihak (termasuk DPR). 
Mari kita coba cermati berbagai informasi di koran, radio, TV nasional maupun 
daerah sbelm dan sesudah kebijakan ini diambil. Pastilah kita menemukan 
berbagai jenis pendapat yang boleh jadi pro maupun kontra. Itu semua sah-sah 
saja. Kalau rekans ada waktu luang sedikit, monggo dicermati policy statement 
BI di situs resminya yaitu www.bi.go.id ttg pertimbangan mengapa BI Rate 
disesuaikan. Menurut pemahaman saya, penyesuaian BI Rate dalam besaran yang 
tidak terlalu besar hanya merupakan sinyal kepada
 market bahwa tekanan inflasi telah diidentifikasi dan Bank Sentral RI akan 
memberikan respon dalam besaran2 yang optimal agar tekanan harga secara umum 
dapat dikurangi. Hal ini dapat kita cermati dari 

--- On Tue, 2/15/11, Franciscus B Sinartio <[email protected]> wrote:

From: Franciscus B Sinartio <[email protected]>
Subject: Re: [saham] DPR tidak Pakai Hitungan Anak SD untuk mengkritik Kenaikan 
BI Rate
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 15, 2011, 1:00 PM







 



  


    
      
      
      Nah.........   pertanyaannya adalah seberapa besar pengaruh sektor 
industry  mempengaruhi peredaran uang di Indonesia....

fbs



From: Solihin Makmur Alam <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, February 15, 2011 3:38:12 AM
Subject: [saham] DPR tidak
 Pakai Hitungan Anak SD untuk mengkritik Kenaikan BI Rate









        















Saya setuju banget dengan Pak Susanto Salim.
Emang bener, gak selalu apa yang dibilang di text book pada kenyataannya akan 
sama.
Karena harus di timbang dulu (sebenarnya ada trade-off antara kenaikan suku 
bunga dengan pengurangan jumlah uang beredar di masyarakat terhadap penurunan 
harga-harga barang di masyarakat). Dalam teori monetarist memang dikatakan 
bahwa kalau jumlah uang beredar di masyarakat berkurang (M = Money) dan 
Velocity of Money (V) atau kecepatan uang beredar di masyarakat konstan, serta 
jumlah transaksi dalam masyarakat  (T = Number of Transaction) juga konstan, 
maka secara matematis, harga (P = Price Level) akan turun ====> MV = PT. Itu 
yang disebut oleh orang
 DPR itung-itungan sederhana anak SD. Masalahnya Milton Friedman si monetarist 
ini juga selalu memasukkan asumsi Ceteris Paribus, yakni hal-hal lain diluar 
yang diteliti
 atau diuji, tidak berubah atau konstan, misalnya consumer behavior dan 
producer behavior.

Nah, kalau yang dibilang Pak Susanto, dengan tingkat suku bunga naik, maka 
risk-free rate atau safe-harbour rate dari suku bunga bebas risiko juga naik, 
maka tentu pengusaha atau produsen akan meminta risk premium atau imbal hasil 
atau return yang lebih tinggi untuk menutupi biaya bunga pinjaman apabila 
pinjaman dipakai (employed) dalam kegiatan untuk memproduksi barang. Apabila 
ada produsen yang tidak menggunakan pinjaman dalam kegiatan produksinya (non 
levered firm), mereka juga ingin memiliki risk premium di atas tingkat suku 
bunga risiko, karena intinya kalau bisa enak-enakan nyantai di pelabuhan atau 
dermaga yang indah sambil menikmati sunset tanpa harus dipusingkan dengan 
urusan bahan baku (Material), masalah karyawan (Man), masalah modal kerja 
(Money), dan masalah produksi (Machine), mereka juga kepingin di setiap akhir 
bulan ongkang-ongkang kaki
 terima pendapatan bunga yang sifatnya tetap dan bebas risiko, karena dijamin 
oleh LPS atau pemerintah (makanya disebut safe-harbor rate). Nah, untuk 
mengkompensasikan effort mereka mengelola 4 M tadi (Material, Man, Money, dan 
Machine), maka mereka juga meminta return yang lebih tinggi dari tingkat suku 
bunga bebas risiko dan itu adalah logis dari kacamata pengusaha manapun 
(producer behavour).

Nah, kalau produsen menaikkan risk premium-nya, maka akan terjadi kenaikan 
harga barang di dalam masyarakat yang dalam ekonomi klasik dinamakan cost push 
inflation. Nah inilah inflasi yang siap-siap ditelan oleh Penguasa dan 
masyarakatnya.


--- On Tue, 15/2/11, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [saham] Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik
 Kenaikan BI Rate
To: [email protected]
Date: Tuesday, 15 February, 2011, 9:28 PM







 



    
      
      
      

















Dimana2 disemua peristiwa didunia ini

Penonton selalu lebih jago dan pintar, daripada pemain

Bravo penonton!!!!


From:  [email protected]
Sender:  [email protected]
Date: Mon, 14 Feb 2011 23:10:07 +0000To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: Re: [saham] Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate






Its easy jawabannya I really don't give a damn... HuahuahuaPowered by Telkomsel 
BlackBerry®From:  Susanto Salim <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Tue, 15 Feb 2011 02:34:19 +0700To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: Re: [saham] Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate

 



    
      
      
      Saya melihat banyak yang komentar negatif tentang logika anak SD DPR ini, 
tapi saya kira argumennya cukup masuk akal. Bisakah kira2 temen2 yang 
menertawakan anggota dewan ini memberi sanggahan dengan alasannya, as to why he 
is so damn wrong? (pake bahasa linggis dikit biar keliatan intelek katanya :))

Saya paham secara teori memang katanya kalo BI rate naik, maka inflasi akan 
berkurang, karena jumlah duit yang beredar berkurang...Ada yang tahu mengapaa 
kalo bunga naik jumlah duit yang beredar berkurang? (selain karena kumpeni jadi 
kurang termotivasi untuk pinjam duit)

Apakah berkurangnya duit yang beredar ini cukup besar untuk mengkompensasi 
kenaikan harga yang bakal terjadi karena modal untuk memproduksi barang jadi 
bertambah sebagai akibat dari bunga pinjaman yang diasumsikan akan naik juga 
dengan kenaikan BI rate? Ada yang sudah ngitung...or simply maen comot aja dari 
text book ekonomi dengan teorinya yang menghasilkan krisis demi krisis...


2011/2/14 caknoval <[email protected]>
















 



  


    
      
      
      Wah, hebat bener DPR. Pakai hitungan anak SD berani mengkritik BI yang 
banyak doktor ekonominya.



Wassalam,



Noval



http://www.detikfinance.com/read/2011/02/14/163154/1571078/5/pakai-hitungan-anak-sd-dpr-kritik-kenaikan-bi-rate?f9911013




Senin, 14/02/2011 16:31 WIB

Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate 

Suhendra - detikFinance



Jakarta - DPR mengkritik langkah BI menaikkan suku bunga acuan, BI Rate 25 
basis poin menjadi 6,75% karena dinilai bisa memicu inflasi. Padahal BI 
sebelumnya menaikkan BI Rate untuk merespons inflasi yang melonjak tinggi.




Adalah anggota Komisi XI DPR-RI Arif Budimanta yang mengkritik kebijakan itu. 
Anggota DPR dari PDIP itu mempertanyakan alasan BI menaikan BI Rate 25 basis 
poin menjadi 6,75% pada 4 Februari 2011 lalu. Berdasarkan hitungan sederhana 
saja, jika BI rate naik maka implikasinya justru pada kenaikan inflasi lagi.




"BI rate naik suku bunga pinjaman otomatis naik, apakah akan melawan pasar? 
Biaya produksi naik, di tingkat konsumen akan naik. Ya inflasi naik. Ini 
matematika sederhana saja, anak SD, saya nggak tahu kalau BI lebih canggih," 
kata Arif dalam raker BI dengan Komisi XI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, 
Senin (14/2/2011)




Ia mengatakan selama ini usulan DPR terhadap BI selalu tak diperhatikan 
sehingga terkesan percuma saja. Namun ia mengusulkan agar setiap triwulan dalam 
rangka anggaran tahunan Bank Indonesia (ATBI), Arif  meminta suatu laporan 
korelasi kebijakan moneter BI dengan pengendalian inflasi.




"BI selaku Bank Sentral dikaitkan core inflation," katanya.



Ia juga mengkritik soal konsistensi target inflasi tahun 2011 yang menurut 
versi pemerintah sebesar 5,3%. Sementara BI, menggunakan pola target inflasi 
2011 dengan pola 5% plus minus 1%.



Ditempat yang sama Gubernur BI. Darmin Nasution menyatakan optimisnya terhadap 
inflasi 2011 pada rentang 5% plus minus 1%.



"Melalui bauran kebijakan moneter dan makroprudensial tersebut, serta 
langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi tingginnya harga komoditi pangan, BI 
meyakini inflasi dapat dijaga pada sasarannya yakni 5% plus minus 1% untuk 
2011," katanya.




BI dalam rapat terakhirnya memang memutuskan kenaikan BI Rate 25 basis poin 
menjadi 6,75%. Keputusan ini diambil akibat peningkatan inflasi yang dipicu 
oleh pergerakan harga pangan dunia yang tinggi.



(hen/qom) 





    
     

    
    






  










    
     

    


















    
     



 












    
    










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke