Sebagaimana seri posting terkait perkembangan terkini inflasi dan suku bunga
global/regional kemarin:
Cina Naikkan lagi GWM <http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102609>
http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102609
*Vietnam Naikkan Suku Bunga ('refinancing
rate')<http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102634>
 *http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102634
*Indian Bank Naikkan Suku Bunga Pinjaman Nasabah ('prime lending
rate')<http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102643>
 *http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102643
*Cina Segera Naikkan Suku Bunga
Acuan<http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102652>
 *http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102652
*Pasar Antisipasi BI Rate Naik; G-20 Tersengat
Inflasi<http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102657>
 http://groups.yahoo.com/group/saham/message/102657
*

penting untuk dicatat hasil riset dari UBS Investment Research yang mencoba
memetakan puncak ('peak') inflasi dengan mengacu kepada skenario historis
pada periode-periode lalu yang mengkontraskan antara utilisasi kapasitas
produksi dan tren harga komoditas. Berdasarkan hasil telaah data historis
tersebut disimpulkan terkait dengan potensi inflasi di kawasan Asia Tenggara
bahwa inflasi di Singapura kemungkinan telah mencapai titik kulminasi,
sementara untuk Filipina dan Indonesia puncak inflasi akan dicapai pada
kuartal-4, sedangkan untuk Thailand dan Malaysia masing-masing akan mencapai
puncaknya pada kuartal-2 dan 3.

Atas dasar potensi kulminasi inflasi tersebut, UBS sangat 'concerned' dengan
inflasi di Indonesia, tetapi tidak terlalu 'concerned' dengan Thailand dan
Malaysia. Semakin jauh kuartal di mana inflasi berkulminasi (mencapai
puncak) berarti semakin besar potensi tekanan lanjutan kepada sektor-sektor
tertentu di pasar modal.

Sektor apa saja yang diuntungkan dan dirugikan atau sektor apa saja yang
masih layak diakumulasi atau dijauhi dalam siklus inflasi?

Jika Anda masih ingat pada awal 2008 di mana banyak berseliweran
pandangan-pandangan ahli/analis terkemuka menyikapi kondisi inflasi saat
itu, maka Anda dengan cepat akan mendapatkan gambaran sektoral tersebut.
Rujukan kepada 2008 tidak lantas menjadikan situasi saat ini akan menjadi
2008. Kondisi yang berbeda dan minimnya sentimen negatif global yang
ditandai dengan kolapsnya institusi perbankan/keuangan waktu itu, tidak
terlihat hingga saat ini. Dan, itu salah satu konfirmasi positif bahwa
pemulihan ekonomi global masih dalam jalur yang tepat.

Pada awal 2008 lalu ketika inflasi harga-harga konsumer di AS naik mencapai
4%, dan 1/3 kenaikan disumbang oleh 'headline inflation' (fuel & food),
kurang lebih kondisi yang miripi-mirip Indonesia saat ini, Joe Fisher,
manajer portofolio, pada Fifth Third Asset Management, menyarankan sektor
investasi saham tertentu yang aman dan apa yang perlu dijauhi dalam situasi
'inflationary' seperti itu.

He says the winning trend has remained the same for most of this decade:

"Energy, raw materials and most industrial companies have had pricing power
and haven't had to sacrifice revenue growth," Fisher said. Consolidated *energy
and coal are sure winners*: they're driven by global demand; and coal, in
particular, can raise prices even above the increases enacted by the
railroad companies that transport it.

Sectors *to avoid*? Fisher warns against *financials and tech stocks*.

http://www.cnbc.com/id/24159632/Inflation_Fighters_Three_Stock_Picks

'+'

Kirim email ke