Bro Ian, numpang copas ,thx
Selasa, 22 Februari 2011


Review Perbankan 




Sampai dengan hari ini, IHSG tetap saja bergerak terbatas di level 3,400-an, 
dan belum naik-naik lagi. Salah satu penahannya seperti yang sudah kita bahas 
tempo hari, adalah inflasi. Dan salah satu sektor yang harga sahamnya masih 
cukup tertekan karena masalah inflasi ini adalah sektor perbankan. 
 
Padahal secara fundamental, rata-rata emiten perbankan mencatat kinerja yang 
cukup baik. Pertanyaannya tentu, gimana sih kinerja mereka pada full year 2010 
lalu? Apakah memang beneran jadi jelek karena inflasi tadi, ataukah nggak?

Para emiten perbankan memang baru beberapa yang sudah merilis laporan keuangan 
full year 2010 (LK FY10). Sisanya mungkin baru akan merilisnya pada akhir 
Februari nanti, karena masih menunggu proses audit. 
 
Namun otoritas perbankan di Indonesia yaitu Bank Indonesia (BI), sudah merilis 
statistik dasar terkait kinerja perbankan umum untuk tahun 2010. Dan sekilas, 
datanya cukup bagus. Mari kita cek satu per satu.

Pada tahun 2010, total aset bank diseluruh Indonesia tercatat Rp3,009 trilyun. 
Angka tersebut tumbuh 18.7% dibanding 2009. Pertumbuhan 18.7% tersebut lebih 
tinggi dibanding 2009 lalu, yang hanya tumbuh 9.7% dibanding 2008. Apa itu 
artinya? Tergantung dua hal. 
 
Pertama, pertumbuhan tersebut berarti positif kalau memang sejalan dengan 
pertumbuhan ekonomi yang juga signifikan. 
 
Kedua, pertumbuhan tersebut tidak berarti apa-apa, kalau hanya dipicu oleh 
tingginya inflasi (jadi aset para bank tidak sungguh-sungguh tumbuh, melainkan 
hanya didorong oleh inflasi. Atau memang tumbuh, tapi pertumbuhan secara 
riil-nya gak sebesar itu).

Oke, kita lihat datanya. Kabar baiknya, pada akhir tahun 2010, Indonesia 
mencatat pertumbuhan ekonomi 6.1%, naik cukup banyak dibanding periode yang 
sama pada tahun 2009, yang hanya 4.5%. Kabar buruknya, pada akhir tahun 2010, 
tingkat inflasi Indonesia tercatat 7.0%, naik sangat banyak dibanding 2009 
sebesar 2.8%. Mari kita hitung (secara kasar aja, biar gampang): 
 
Pada 2010, aset bank naik 18.7%. Dikurangi inflasi 7.0%, hasilnya adalah 11.7%. 
Sementara pada 2009, aset bank naiknya 9.7%. Dikurangi inflasi 2.8%, hasilnya 
adalah 6.9%. Kesimpulannya, meski inflasi memang berpengaruh buruk, namun 
pertumbuhan aset bank secara riil-nya pada periode 2009 – 2010 masih meningkat 
cukup banyak dibanding pada 2008 – 2009, yaitu 11.7% berbanding 6.9%. 
 
 
Dari sini kita bisa menilai bahwa meski sedikit dihantui oleh inflasi, namun 
para bank masih mencatat pertumbuhan yang positif,. Thanks to catatan 
pertumbuhan ekonomi 2010, yang meski gak terlalu besar namun masih lumayan baik.

Terus sepanjang 2010 lalu, bagaimana dengan pertumbuhan penyaluran kredit? 
Ternyata cukup signifikan, mencapai 19.0% dibanding 2009. Angka tersebut jauh 
lebih tinggi dibanding 2009 - 2008, yang hanya 10.0%. Bagi bank, semakin besar 
jumlah kredit yang dikucurkan, maka semakin baik, karena biasanya itu berarti 
pendapatan bunga mereka juga akan semakin besar. 
 
Namun bagi ekonomi makro, tingginya kredit yang disalurkan ke masyarakat bisa 
berarti dua hal:

Pertama, kalau kenaikan kredit lebih banyak terjadi pada kredit investasi 
(misalnya pengusaha minjem duit ke bank buat bikin pabrik), maka dampaknya 
bagus buat pertumbuhan ekonomi. 
 
Tapi kalau kenaikan kredit lebih banyak terjadi pada kredit konsumsi (misalnya 
orang ngajuin kredit tanpa agunan buat beli motor), maka dampaknya akan 
menaikkan inflasi. Mengingat pada 2010 lalu kenaikan inflasi lebih menonjol 
daripada kenaikan pertumbuhan ekonomi, maka pertumbuhan penyaluran kredit 
hingga 19.0% tersebut sepertinya lebih banyak pada kredit konsumsi.

Dan mengingat bahwa inflasi yang terlalu tinggi akan berpengaruh negatif pada 
kinerja bank, maka pertumbuhan kredit yang cukup menonjol tersebut justru 
berpotensi memberikan dampak negatif pada kinerja bank. 
 
Benarkah? Mari kita lihat. Sepanjang 2010, seluruh bank-bank di Indonesia 
mencatat total laba bersih Rp57 trilyun, hanya tumbuh 26.7% dibanding 2009 yang 
mencapai Rp45 trilyun. Sementara catatan laba bersih para bank di 2009 
tumbuhnya sampai 47.7% dibanding 2008.

Kabar baiknya, meski para bank mencatat pertumbuhan laba bersih yang lebih 
kecil pada tahun 2010 ini, namun kalau dibandingkan dengan rata-rata 
pertumbuhan laba bersih bank dalam lima tahun terakhir yaitu 20.5%, maka 
pertumbuhan 26.7% tersebut tentunya masih cukup baik. 
 
 
Jadi bisa kita simpulkan: pertumbuhan kredit yang cukup signifikan pada 2010 
tidak berpengaruh positif pada kinerja bank karena terdapat efek inflasi, 
dimana pertumbuhan laba bersih bank jadi tidak sebesar tahun lalu. Namun secara 
overall, pertumbuhan laba bersih bank pada tahun ini masih cukup baik.

Okay. Kita sudah mereview perbankan dari sisi aset, kredit, dan laba bersih. 
Dan semuanya menunjukkan pertumbuhan yang bagus, bahkan setelah dengan 
mempertimbangkan faktor ekonomi makro. 
 
Berikutnya? Modal! Dan cara paling gampang untuk melihat kondisi permodalan 
perbankan adalah dengan melihat CAR mereka (Capital Adequacy Ratio, alias rasio 
kecukupan modal).

Total CAR pada 2010 adalah 17.2%, sedikit turun dibanding 2009 lalu yang 
tercatat 17.4%. Secara umum, dalam lima tahun terakhir CAR para bank memang 
terus turun. Pada 2006 lalu, total CAR masih bertengger di angka 21.3%. 
 
Wah, itu berarti para bank modalnya semakin seret, gawat dong? Memang gawat. 
Dalam beberapa tahun terakhir ini, para bank hampir selalu fokus pada 
peningkatan aset dan penambahan jumlah nasabah, tanpa memperhatikan permodalan 
mereka. Dan hasilnya memang lumayan. 
 
Dalam 5 tahun terakhir (sejak 2006), total aset seluruh bank tumbuh hingga 
77.6%, yang terutama ditopang oleh pertumbuhan DPK. Sementara modal mereka 
kemungkinan naiknya tidak terlalu signifikan (tidak ada data persisnya), karena 
emiten bank termasuk rajin bagi-bagi dividen, sehingga bagian laba bersih yang 
disimpan untuk menaikkan modal menjadi hanya sedikit.

Tapi untungnya, belakangan ini beberapa bank mulai berbenah untuk menaikkan 
modal mereka masing-masing, terutama dengan cara right issue, dalam rangka 
menaikkan CAR mereka kembali. 
 
Jadi untuk tahun depan, kemungkinan besar CAR para bank akan membaik. Beberapa 
bank lainnya seperti Bank BTN (BBTN), juga sudah merencanakan right issue dalam 
jangka panjang. That’s good news.

Selain CAR, indikator yang juga penting untuk dicek adalah NIM dan NPL, alias 
rasio pendapatan dibanding aset, dan rasio kredit macet (kalau BOPO dan LDR 
sih, bagi penulis pribadi gak begitu penting). 
 
Pada 2010, total NIM seluruh bank di Indonesia adalah 5.7%, hampir gak berbeda 
sama sekali dengan tahun-tahun sebelumnya, jadi no comment untuk NIM ini. 
Sementara NPL? Tercatat 2.6%. 
 
Menariknya, angka ini turun cukup banyak dibanding 2009, yang tercatat 3.3%. 
Dan dalam lima tahun terakhir juga kecenderungannya selalu turun. Artinya, dari 
waktu ke waktu para bank semakin baik dalam me-manage kredit yang mereka 
salurkan. Dengan berkurangnya jumlah kredit macet, maka laba bersih para bank 
tentunya dapat terus meningkat.

Finally, semuanya tampak bagus. Tapi itu kan tahun 2010, alias kemarin. Lalu 
bagaimana prediksinya dengan tahun 2011 ini? Kalau buat penulis sih simpel aja. 
Pada 2010 lalu, para bank masih bisa mencatat kenaikan laba yang lumayan meski 
dihajar habis-habisan oleh inflasi. 
 
Sedangkan pada saat ini, BI sudah kembali menaikkan BI rate dari 6.50% ke 
6.75%, setelah sekitar satu setengah tahun gak naik-naik. Artinya, ada harapan 
besar bahwa tingkat inflasi pada tahun ini akan tertekan. Jadi dengan catatan 
pertumbuhan ekonomi tidak ikut tertekan, maka para bank bisa mencatat kinerja 
yang lebih baik lagi pada tahun ini.

Saat ini, saham-saham perbankan masih tertekan karena data inflasi terbaru 
(yang diharapkan akan membaik) masih belum keluar. Data terakhir masih per 
Januari lalu, yaitu 7.02%. Beberapa analis memprediksi bahwa tingkat inflasi 
pada februari ini akan turun ke kisaran 5 – 6%. Mudah-mudahan saja prediksi 
tersebut tepat.

Catatan: Seluruh data yang terdapat di artikel ini berasal dari BI, dan 
disajikan kembali oleh koran Investor Daily per tanggal 21 Februari 2011.

Indosiar – SCTV

Salah satu hot news yang beredar di market baru-baru ini adalah berita soal 
merger-nya Indosiar (IDKM) dengan Surya Citra Media (SCMA). Bagaimana 
prospeknya? Barusan penulis cek kinerja mereka per kuartal III 2010, dan 
hasilnya mereka berdua cukup bagus secara fundamental. 
 
Namun sayangnya harga mereka sudah kemahalan. Merger ini justru menjelaskan, 
kenapa harga IDKM dan SCMA terus saja naik dalam setahun terakhir (rupanya 
karena akan dimerger toh). 
 
Setahun yang lalu, harga IDKM dan SCMA masing-masing masih berada di 115 dan 
800. Sekarang? Sudah menembus 1,010 dan 3,800. Jadi kalau baru masuk sekarang, 
sepertinya agak terlambat.

Tapi baik IDKM maupun SCMA pasti akan bergerak fluktuatif dalam beberapa hari 
kedepan karena kabar ini. Jadi kalau anda berani berspekulasi sih silahkan saja.
 
http://teguhidx.blogspot.com/2011/02/review-perbankan.html

tweetmeme_style = "compact";






      

Kirim email ke