Sebagaimana telah diindikasikan dalam posting sebelumnya, bahwa melalui
rilis laporan keuangan perbankan yang lebih dahulu yang diwajibkan oleh Bank
Indonesia terlihat hasil yang tidak memuaskan pada kuartal-4 ('disappointing
result') dari semua 'large caps' bank yang telah menyampaikan 'unaudited
financial statement'. Hanya karena penyajian ulang pada ekspose media yang
didasarkan kepada penyajian tahunan, dikesankan kepada publik bahwa kenaikan
sekian 'double digits' and so on either, 'net income interest' atau 'net
profit', antusiasme publik coba dibangun. Tetapi kenyataannya, penyajian
secara tahunan tidak hanya menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi pada
kuartal terakhir (kuartal-4) yang justru menjadi penekanan laporan keuangan,
tetapi menyajikan data secara tahunan sama artinya menampilkan data/hal-hal
yang sudah disajikan dan direspon oleh pasar pada kuartal-kuartal
sebelumnya.

Penyajian ala seperti ini yang bisa 'misleading', tetapi investor yang
cermat paham harus bagaimana untuk melihat dan fokus kepada kuartal-4 yang
menjadi kunci kuartal-kuartal selanjutnya. Ibaratnya pelari maraton yang
sudah terengah-engah dan tersengal-sengal menuju garis finish maka untuk
menggambarkan betapa heroiknya si pelari, dokumenter yang diputar adalah
dokumenter sejak si pelari mulai berlari dari garis start dengan wajah segar
dan enerji meluap-luap. Kenyataannya, 'real time' 'up-to-date situation' si
pelari sedang berjuang setengah mati / sekarat menuju garis akhir. Nah, itu
dia kuartal-4 dengan sedikit dramatisasi.

Dan, yang jauh lebih penting dalam mengukur potensi ke depan saham-saham
tersebut adalah sejauh mana pencapaian hasil kuartal terakhir (4) terhadap
estimasi/ekspektasi pasar. Semua data independen estimasi/ekspektasi
menunjukkan kenaikan dari estimasi kuartal 4 tahun sebelumnya, jadi jelas
sekali jika hasil aktual kuartal 4 naik, tidak ada yang aneh. Yang jadi
perhatian, apakah naiknya itu memenuhi atau melampaui ekspektasi atau tidak.

Jawabnya, dari semua 'large-cap' bank seperti BMRI, BDMN, BBRI, BBCA dan
lainnya yang sudah rilis laporan sampai periode Desember 2010 di BI,
hasilnya di bawah estimasi/ekspektasi pasar selama kuartal-4. Dalam rumusan
bahasa yang ringkas dan pada, Reuters menuliskan ini kemarin saat menurunkan
'update' tentang BBCA:

"Indonesia's banking sector is expected to profit from loan growth of more
than 20 percent this year in Southeast Asia's biggest economy, *but
disappointing fourth quarter results* by some lenders *underscore investor
concerns that a rally in banking stocks has been overdone*." (
http://www.reuters.com/article/2011/02/21/bca-idUSL3E7DL09R20110221)

Jika ada reli yang hendak didorong dengan memanfaatkan "sajian tahunan
laporan keuangan yang 'misleading' disertai momentum 'right issues BMRI'
pada Jumat lalu, momen itu sudah kempes, lenyap, senyap dan pengap saat ini
= *investor concerns that a rally in banking stocks has been overdone*.

Berakhirnya 'trading period' right issues BMRI dan dikeluarkannya saham
hasil right issues pada harga Rp5.000 plus biaya perolehan rights Rp250-500
maka dengan harga yang sudah didorong ramai-ramai di Rp6.000, silakan
kesempatan yang sudah didorong dengan sengaja untuk profit taking hari ini
dirayakan.

Selebihnya bagi para investor/trader ritel, jaga posisi porto Anda pada
subsektor perbankan/finansial baik-baik dan cermat. Jangan jadi pelanduk
yang terperangkap di tengah-tengah gajah yang haus pendapatan, bukan karena
untuk mengejar 'profit' tapi untuk menutupi 'loss' emisi Garuda yang jatuh
tercebur.

Apa gerangan yang akan terjadi 4 Maret minggu depan ketika dan jika Bank
Indonesia menaikkan alternatif atau kumulatif GWM 25 basis poin dan BI rate
sampai dengan 50 basis poin?

 "-Jika inflasi inti ditekan hingga 3,1%, maka kemungkinan BI rate bisa
lebih dari 6,75%" kata Endy Dwi Tjahyono, Direktorat Riset Ekonomi &
Kebijakan Moneter BI, Sabtu (19/2). Bahkan, Endy bilang, suku bunga nantinya
akan naik lebih dari 50 basis poin, dan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi
dibawah 6%.-" (
http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/Keuangan/59376/Tekan-inflasi-inti-ke-31-suku-bunga-bisa-naik-di-atas-50-basis-poin
)

"-Bank Indonesia is expected to raise interest rates in March by 25 basis
points,” said Joanna Tan, a regional economist at Forecast Singapore Pte.-"
(
http://www.bloomberg.com/news/2011-02-21/rupiah-baht-lead-gains-in-asian-currencies-as-inflation-pressure-builds.html
)

Implikasi terhadap pilihan saham?

Pada awal 2008 lalu ketika inflasi harga-harga konsumer di AS naik mencapai
4%, dan 1/3 kenaikan disumbang oleh 'headline inflation' (fuel & food),
kurang lebih kondisi yang miripi-mirip Indonesia saat ini, Joe Fisher,
manajer portofolio, pada Fifth Third Asset Management, menyarankan sektor
investasi saham tertentu yang aman dan apa yang perlu dijauhi dalam situasi
'inflationary' seperti itu.

"-He says the winning trend has remained the same for most of this decade:
"Energy, raw materials and most industrial companies have had pricing power
and haven't had to sacrifice revenue growth," Fisher said. Consolidated *energy
and coal are sure winners*: they're driven by global demand; and coal, in
particular, can raise prices even above the increases enacted by the
railroad companies that transport it.
*Sectors to avoid*? Fisher warns against *financials and tech stocks*.-"
http://www.cnbc.com/id/24159632/Inflation_Fighters_Three_Stock_Picks

Penyesuaian terhadap target harga ideal pada kisaran forward PBV 2,5 'peer'
regional-nya akan mengembalikan 'attractiveness' IHSG
BBCA: Rp3.575
BMRI: Rp4.200
BBRI: Rp3.525
BBNI: Rp2.900
BDMN: Rp5.050

'+'

Kirim email ke