Selasa, status pasar saham AS sudah diturunkan menjadi 'market uptrend under pressure'. Penutupan Rabu pagi tadi, NYSE mencatat volume yang masif ditengah penurunan indeks sehingga kembali mengkualifikasikannya sebagai hari distribusi. Kedua bursa, NYSE dan Nasdaq, sudah tercatat mengalami 5 hari distribusi dalam kurun waktu 5 minggu, merupakan sinyal yang memadai untuk menyesuaikan status pasar saham AS.
Berkebalikan dengan status terkini pasar saham AS, kondisi tersebut memberikan peluang bagi selective emerging market, seperti yang masuk dalam pengelompokan Goldman Sachs, di antaranya Korea, Indonesia, Turki, untuk menutup gap/decoupling dengan indeks developed market. Pada penutupan NYSE tadi, tercatat ETF berbasiskan saham unggulan Indonesia, seperti EIDO ( http://finance.yahoo.com/q?s=EIDO&ql=0) dan IDX ( http://finance.yahoo.com/q?s=IDX&ql=0), justru ditutup dalam teritori positif di atas +1,5% menandakan konfirmasi perspektif pasar di 'developed market' yang positif terhadap selective emerging market dalam situasi yang volatil. Kondisi 'reversal' pada selective emerging market dapat dibaca di antaranya melalui 'chart' relevan yang sudah menjadi pembicaraan luas di kalangan traders di NYSE (nanti siang di-share). Kata kunci dalam situasi volatil global ini adalah: 'selective emerging market' dan 'selective inflationary-benefiting stock group industry'. Pada penutupan bursa AS tadi pagi, dapat dicatat: "Although the broad market closed comfortably above its session low, *energy was the only major sector to finish with a gain*. Higher oil prices helped energy stocks outperform for the entire session and settle with a 2.0% gain." '+'
