Indikator-Indikator Ekonomi “Nyleneh”
Terkadang angka variabel-variabel makro yang ada sulit dipahami sebagai tolok
ukur perkembangan perekonomian suatu negara. Maka, di dunia berkembang beberapa
indikator ekonomi alternatif yang cukup aneh, tetapi menjadi tolok ukur yang
sangat mudah bagi banyak kalangan untuk lebih mengerti apa yang sedang terjadi
dalam perekonomian suatu negara.
Maka, banyak pihak mencoba berinisiatif menjadikan sejumlah hal sebagai tolok
ukur perkembangan perekonomian. Mantan Ketua Federal Reserve Alan Greenspan
pernah mengutarakan penjualan salah satu perusahaan kardus Amerika, Stone
Container, bisa dijadikan sebagai salah satu indikator perekonomian. Jika
penjualan Stone Container meningkat, maka perekonomian membaik, dan jika
sebaliknya, maka perekonomian memburuk. Sejauh ini di dunia terdapat beberapa
indeks yang cukup “nyleneh”, tetapi sangat mudah bagi banyak kalangan untuk
lebih mengerti apa yang sedang terjadi dalam perekonomian.
Indeks Panjang Rok
Teori di belakang indeks ini adalah perekonomian dapat diprediksi dari panjang
rok keluaran terbaru. Jika panjang rok makin pendek, maka perekonomian membaik,
tetapi jika sebaliknya, rok makin panjang, maka pasar dalam keadaan terpuruk.
Logika yang digunakan adalah, jika seorang wanita memakai rok panjang, maka
kepercayaan dirinya sedang turun, merefleksikan ketakutan dan berkurangnya
pengeluaran. Namun, jika wanita menggunakan rok yang pendek, hal itu
mencerminkan kepercayaan diri yang tinggi dan optimisme.
Indeks Pelayan Menarik
Indeks ini dibuat oleh seorang penulis di New York Magazine bernama Hugo
Lindgren. Ia mengatakan bahwa ketika perekonomian memburuk, maka banyak pekerja
laki-laki yang dikeluarkan, kemudian pekerja yang kurang menarik, dan yang
terakhir dikeluarkan adalah para pekerja yang rupawan.
Seseorang dengan wajah yang menarik biasanya akan mudah memperoleh pekerjaan
sebagai model ataupunsales promotion person (SPP). Namun, ketika perekonomian
memburuk, maka kontrak pekerjaan mereka akan makin berkurang. Hal ini memaksa
mereka untuk mengerjakan pekerjaan apa pun demi bertahan hidup, salah satunya
adalah sebagai pelayan. Makin menarik si pelayan, maka perekonomian makin
memburuk. Sebaliknya, jika pelayan makin tidak menarik, maka perekonomian makin
membaik.
Indeks Lipstik
Dalam perekonomian, wanita memegang peranan penting melalui konsumsi. Banyak
negara yang pertumbuhan ekonominya disokong oleh konsumsi, seperti Amerika dan
tentu saja Indonesia. Salah satu konsumsi terbesar tentu saja melalui produk
kecantikan karena wanita dan kecantikan adalah dua hal yang tidak dapat
dipisahkan. Ketika wanita merasa bahwa perekonomian dalam keadaan penuh
ketidakpastian, maka ia akan cenderung untuk memilih alat kecantikan yang lebih
murah.
Salah satu alat kecantikan yang pasti dimiliki oleh setiap wanita adalah
lipstik. Lipstik dapat juga menjadi mood booster. Artinya, ketika wanita ingin
merasa lebih baik, maka salah satunya dengan berdandan dan memakai lipstik.
Tren yang terjadi di Amerika menunjukkan bahwa ketika terjadi resesi, maka
penjualan lipstik akan meningkat. Pemakaian lipstik dipercaya meningkatkan mood
dan kepercayaan diri ketika melalui masa-masa sulit. Dan sebaliknya, jika
perekonomian membaik, maka penjualan lipstik akan turun.
Leonard Lauder, CEO Estee Lauder, salah satu produsen kosmetik terkemuka di
dunia, mengatakan terjadi peningkatan yang cukup signifikan saat terjadi
penyerangan pada 11 September silam. Harian terkemuka New York Times
memberitakan pada krisis global 2008 terjadi peningkatan penjualan lipstik
lebih
dari 40%.
Indeks Kardus/Pallet
Ketika perekonomian dalam keadaan baik, maka perusahaan akan banyak menggunakan
kardus. Jadi, makin tinggi permintaan kardus untuk pengiriman barang kepada
para
konsumen, maka makin tinggi pula permintaan akan barang tersebut.
Pada krisis global 2008, penjualan kardus untuk pengiriman pada Smurfit Kappa
Group PLC, salah satu produsen kardus terbesar di Eropa, mengalami penurunan
yang cukup signifikan. Pendapatan Smurfit turun US$269,9 juta pada 2008
dibandingkan pada 2007, dengan penurunan pendapatan operasional sebesar 50%.
Indeks Obat Sakit Kepala
Ketika situasi dan kondisi di sekitar kita, terutama ekonomi, memburuk, maka
sakit kepala akan sering dialami oleh banyak orang dan obat sakit kepala akan
sangat dibutuhkan. Ketika terjadi krisis atau resesi, maka penjualan obat sakit
kepala akan naik. Hubungan yang ada adalah ketika harga saham jatuh, maka
tingkat penjualan obat sakit kepala akan meningkat. Sebaliknya, jika harga
saham
naik, maka penjualan obat sakit kepala akan menurun.Salah satu contohnya
adalah,
pada 2008, Wyeth, salah satu produsen obat sakit kepala dunia, menyebutkan
bahwa
penjualan obat sakit kepala mereka, Advil, meningkat 2% menjadi US$673 juta
dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Indeks MBA Lulusan Harvard
Harvard, salah satu universitas terbaik di Amerika, menjadi acuan para investor
untuk berinvestasi. Ketika para lulusan Harvard bekerja pada sektor-sektor
ekonomi yang sensitif, seperti investment banking, private equity, dan
perdagangan sekuritas, hal itu dapat menjadi indikator ekonomi tersendiri. Jika
lebih dari 30% lulusan Harvard bekerja pada sektor-sektor yang sensitif ini,
maka investor akan terus berinvestasi. Namun, jika hanya 10% lulusan Harvard
yang bekerja di sektor ini, maka investor akan mengalihkan investasinya.
Indikator ini menunjukkan pula daya tarik yang dimiliki pekerjaan di Wall
Street. Makin banyak lulusan Harvard yang terserap pada pekerjaan ini, maka
pasar makin baik. Sebaliknya, jika penyerapan lulusan Harvard hanya sedikit,
maka pasar dalam keadaan yang kurang baik, yang berarti juga adanya kesempatan
untuk menjual saham. Indikator ini diciptakan oleh Roy Soifer, lulusan Harvard
Business School.
Indeks Tangga Lagu Musik Pop
Indikator terbaru adalah tangga lagu musik, yang banyak didominasi oleh musik
pop. Ketika lagunya bagus, tentu kita akan ikut bersenandung. Adalah Phillip
Maymin, asisten profesor di Polytechnic Institute di New York University yang
melakukan penelitian untuk melihat hubungan antara volatilitas pasar dan musik
yang sedang populer.
Maymin menganalisis varian dari irama (beat) lagu-lagu yang ada dalam tangga
lagu dengan menggunakan perangkat lunak komputer yang canggih. Ia menggunakan
perangkat lunak itu untuk menganalisis data lagu-lagu populer pada 1958 hingga
2007. Ia menemukan bahwa lagu dengan irama yang cepat lebih disukai ketika
perekonomian sedang berada pada posisi volatilitas rendah. Sebaliknya, ketika
perekonomian sedang berada pada volatilitas tinggi, maka lagu dengan irama yang
konsisten lebih disukai. Maymin juga menemukan varian irama yang lebih tinggi
akan mengakibatkan penurunan tingkat intelektual, sehingga jenis ini akan tidak
disukai saat volatilitas tinggi.
Artikel ini bersumber dari majalah Warta Ekonomi No 17 tahun XXI. Judul asli
tulisan ini adalah “Indikator-Indikator Ekonomi “Nyleneh”
------------------------------------
Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.
SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS.
SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK.
SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU
PEMILIK MODAL.
[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/saham/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/saham/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/