kok gak beli INDF atau FPL -nya saja ya?

2011/5/26 Dimas Yoga <[email protected]>

>
>
>
> Sumber : http://teguhidx.blogspot.com/2011/05/salim-ivomas-pratama.html
>
>  Selasa, 10 Mei 2011
>  Salim Ivomas 
> Pratama<http://teguhidx.blogspot.com/2011/05/salim-ivomas-pratama.html>
>
> Setelah sukses menjaring sekitar Rp6 trilyun dari market beberapa waktu
> lalu melalui IPO Indofood CBP (ICBP), Grup Salim kembali meng-IPO-kan salah
> satu anak usaha dari Indofood (INDF), yaitu Salim Ivomas Pratama (SIMP).
> Kita tahu bahwa meski IPO ICBP berjalan sukses bagi Grup Salim, tapi mungkin
> bagi para pembeli sahamnya, IPO itu justru gagal menambah nilai portofolio
> mereka, dimana saham ICBP sempat turun ke 4,300-an (meskipun sekarang udah
> balik lagi ke 5,000-an). Lalu apakah SIMP juga bisa mengalami hal yang sama?
>
> SIMP adalah salah satu anak usaha terbesar milik INDF, yang bergerak di
> bisnis kelapa sawit yang terintegrasi, mulai dari perkebunannya hingga
> produk turunan CPO, seperti margarin, lemak nabati, dan minyak goreng. Anda
> tentu hafal dengan PP London Sumatra (LSIP), salah satu perusahaan
> perkebunan kelapa sawit terbesar di BEI. Nah, SIMP ini adalah induk dari
> LSIP. Jadi bisa dikatakan bahwa SIMP ini isinya adalah LSIP, plus beberapa
> perusahaan di bidang pengolahan CPO menjadi produk turunannya. Selain bisnis
> kelapa sawit, SIMP juga punya bisnis di perkebunan karet dan tebu, dan
> produk turunannya. Tapi jumlahnya gak begitu banyak.
>
> Jika dianalogikan, SIMP ini sama seperti Global Mediacom (BMTR), yang
> berisi Media Nusantara Citra (MNCN) plus beberapa perusahaan Grup Bhakti
> lainnya yaitu MNC SkyVision (penyedia televisi berbayar Indovision), dan
> Infokom Elektrindo. Sementara BMTR sendiri adalah anak usaha dari Bhakti
> Investama (BHIT). Jadi bisa dikatakan bahwa ketiga perusahaan tersebut
> (BHIT, BMTR, dan MNCN) sebenarnya merupakan perusahaan yang sama. Hanya saja
> perusahaan yang menjadi induk dari perusahaan lainnya, biasanya memiliki
> bidang usaha yang lebih luas.
>
> Balik lagi ke SIMP. Urutan kepemilikan SIMP adalah sebagai berikut: Grup
> Salim punya perusahan di Hongkong dengan nama First Pacific Ltd (FPL). FPL
> adalah induk dari INDF, yang merupakan induk dari SIMP. Dan SIMP adalah
> induk dari LSIP. Jadi urutan ‘silsilahnya’ adalah sebagai berikut: FPL –
> INDF – SIMP – LSIP. FPL ini listing di bursa Hongkong, sementara anak, cucu,
> dan cicitnya listing di BEI. Selain Indofood, FPL juga menjadi induk bagi
> tiga perusahaan milik Grup Salim di Filipina, yaitu Philippine Telecom,
> Metro Pacific, dan Philex Mining Corp.
>
> Lalu bagaimana prospeknya kalau kita berinvestasi pada perusahaan seperti
> SIMP ini? Apa bedanya dibanding kalau kita invest pada INDF atau LSIP? Ini
> jawabannya: Semakin luas bidang usaha sebuah perusahaan yang akan anda beli
> sahamnya, maka semakin banyak yang harus anda pelajari sebelum memutuskan
> untuk membeli sahamnya. Untuk invest di saham INDF, anda harus mengerti
> bisnis perkebunan kelapa sawit, CPO dan produk turunannya, tepung terigu,
> mie instan, makanan bernutrisi, bumbu penyedap, susu, gula, kecap, dan
> seterusnya. Sementara kalau anda invest di LSIP, anda cukup mengerti soal
> perkebunan kelapa sawit, karena hanya itulah bidang yang digeluti LSIP.
> Kalau SIMP? Ya perkebunan kelapa sawit plus CPO dan produk turunannya. Dan
> jangan lupakan bisnis perkebunan karet dan tebu.
>
> Intinya, semakin fokus bidang usaha sebuah perusahaan, maka itu semakin
> baik karena resiko usahanya menjadi lebih teridentifikasi. Kalau anda invest
> di LSIP, maka resiko investasi anda terbatas pada seputar perkebunan kelapa
> sawit. Sementara kalau anda invest di SIMP, maka resiko investasi anda juga
> meliputi resiko pada bisnis minyak goreng dan margarin. Simpelnya begini:
> kalau harga CPO turun, maka pendapatan LSIP dan SIMP akan sama-sama
> tertekan. Sementara kalau harga margarin yang turun, maka yang akan kena
> imbasnya cuma SIMP, sedangkan LSIP kemungkinan besar akan aman-aman saja.
>
> Tapi terlepas dari hal diatas, semuanya balik lagi ke fundamental. Dan
> fundamental SIMP terbilang cukup baik. ROE-nya pada kuartal I 2011 mencapai
> 27.5%, hasil dari laba bersihnya yang mencapai 689 milyar, naik hampir dua
> kali lipat dibanding kuartal I 2010. Thanks to harga CPO yang sempat
> melambung tinggi pada awal tahun 2011 lalu. Dan berbeda dengan neraca ICBP
> yang seperti dijejali utang, utang SIMP gak terlalu besar dibanding
> ekuitasnya, yaitu 11.4 berbanding 10.4 trilyun. Mengingat market sendiri
> lagi kondusif, maka SIMP berpeluang untuk naik pada hari perdagangan
> pertamanya, sama seperti yang dialami HD Finance (HDFA) yang listing perdana
> pada hari ini. Sementara peluangnya untuk terus naik dalam jangka panjang,
> atau paling tidak jangka menengah? Ya tergantung harga sahamnya. Kalau
> mahal, maka SIMP ini mungkin saja bisa bernasib sama dengan ICBP: turun
> sejenak ke posisi harga wajarnya, sebelum kemudian naik kembali.
>
> Lalu dana hasil IPO-nya akan dipakai buat apa? Ini datanya: 40% dana IPO
> untuk bayar utang, 50% untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit, dan 10%
> untuk mengembangkan bisnis produk turunan CPO. Kalau melihat data tersebut,
> maka dua perusahaan milik Grup Salim lainnya yaitu INDF dan LSIP, akan
> menerima keuntungan substansial. INDF akan menerima tambahan modal dan
> pengurangan utang, sementara LSIP memperoleh dana segar untuk ekspansi.
>
> Terkait LSIP, IPO SIMP ini mungkin memang bertujuan untuk ngasih modal ke
> LSIP, untuk membuka lebih banyak perkebunan kelapa sawit. Kalau anda
> baca-baca berita soal CPO, industri CPO di Indonesia pada saat ini sedang
> ‘diganggu’ oleh permintaan dari negara-negara tujuan ekspor, yang meminta
> agar CPO yang dihasilkan termasuk produk turunannya bersifat *green*,
> alias tidak merusak lingkungan. Sementara kalau sebuah perusahaan membuka
> lahan untuk membangun perkebunan kelapa sawit, mau gak mau harus membabat
> hutan, atau dengan kata lain merusak lingkungan. Mereka sebenarnya bisa saja
> menanam kembali pohon sawit pada lahan yang sudah ada, tapi biayanya lebih
> besar ketimbang membuka lahan baru. Mungkin, dengan tambahan modal ini
> nantinya LSIP bisa membuka kebon sawit baru, tanpa perlu membabat hutan.
> LSIP memang menjual seluruh CPO-nya ke pasar domestik, namun SIMP menjual
> minyak goreng dan margarin ke seluruh dunia.
>
> Atau, mungkin juga dana hasil IPO SIMP ini nantinya akan digunakan untuk
> meningkatkan kembali kepemilikan SIMP atas LSIP. Beberapa waktu lalu, Grup
> Salim menjual cukup banyak saham LSIP, sehingga kepemilikan SIMP atas LSIP
> berkurang dari 65.6% menjadi tinggal 59.9%. Kalau gak salah waktu itu Grup
> Salim lagi butuh duit untuk membeli sebagian saham Indocement (INTP),
> perusahaan semen yang dulunya dimiliki oleh mereka.
>
> Apapun itu, kita sebagai orang luar tentunya cuma bisa menebak-nebak. Yang
> tahu persis yang mereka sendiri. Anyway kabar baiknya, harga IPO kali ini
> relatif murah. Pada harga Rp1,060 – 1,700 per lembar saham, SIMP akan
> mencetak PER 6.1 – 9.8 kali. Sepertinya Grup Salim sadar betul bahwa jika
> berkaca pada IPO ICBP dulu, investor kemungkinan akan jadi nggak berminat
> kalau harga IPO SIMP ini ditetapkan terlalu tinggi, sehingga nasib SIMP ini
> bisa saja berakhir seperti Garuda kemarin: nggak laku. Tapi kalau harganya
> segitu sih, saham SIMP kemungkinan besar akan langsung diserap habis oleh
> para investor. Dan kecil kemungkinannya bisa turun seperti yang dialami
> ICBP. So, dibanding dengan beberapa IPO lainnya sepanjang tahun 2011 ini,
> maka IPO SIMP boleh dikatakan merupakan IPO yang paling menarik, baik dari
> sisi harga saham maupun kualitas fundamental perusahaannya.
>
> Kalau untuk long term, maka anda masih harus menunggu catatan kinerja SIMP
> pada periode berikutnya. Pada 1Q11, kinerja SIMP memang melonjak tajam
> sehingga harga sahamnya menjadi murah kalau dilihat dari sisi PER. Namun
> melonjaknya kinerja SIMP ketika itu, dan juga perusahaan-perusahaan
> perkebunan kelapa sawit lainnya, lebih karena ditopang oleh kenaikan harga
> CPO yang sempat menyentuh RM3,800 per ton pada awal tahun 2011 lalu.
> Sementara pada saat ini, harga CPO sudah balik lagi ke RM3,200-an per ton.
>
> *Salim Ivomas Pratama*
> Rating Kinerja pada 1Q11: AA
> Rating saham pada 1,060: AA
>
> 
>

Kirim email ke