dikoreksi dikit Pa, Kepemilikan INDF di SIMP mampir dulu di IFAR (listed company di SGX), baru turun ke sebuah perusahaan bentukan (cendrung paper company, "kalau ngak salah" hanya syarat formal saja) baru ke SIMP, Kepemilikan INDF langsung ke SIMP juga ada sekitar 8% lebih. Tapi kalau kepemilikan lewat IFAR ke SIMP mencapai 90% sebelum SIMP listing, perkiraan akan terdilusi menjadi 72% (ngak baca data detil, tp 70%an).
--- In [email protected], Dimas Yoga <dimasyoga.saham@...> wrote: > > Sumber : http://teguhidx.blogspot.com/2011/05/salim-ivomas-pratama.html > > Selasa, 10 Mei 2011 > Salim Ivomas Pratama<http://teguhidx.blogspot.com/2011/05/salim-ivomas-pratama.html> > > Setelah sukses menjaring sekitar Rp6 trilyun dari market beberapa waktu lalu > melalui IPO Indofood CBP (ICBP), Grup Salim kembali meng-IPO-kan salah satu > anak usaha dari Indofood (INDF), yaitu Salim Ivomas Pratama (SIMP). Kita > tahu bahwa meski IPO ICBP berjalan sukses bagi Grup Salim, tapi mungkin bagi > para pembeli sahamnya, IPO itu justru gagal menambah nilai portofolio > mereka, dimana saham ICBP sempat turun ke 4,300-an (meskipun sekarang udah > balik lagi ke 5,000-an). Lalu apakah SIMP juga bisa mengalami hal yang sama? > > SIMP adalah salah satu anak usaha terbesar milik INDF, yang bergerak di > bisnis kelapa sawit yang terintegrasi, mulai dari perkebunannya hingga > produk turunan CPO, seperti margarin, lemak nabati, dan minyak goreng. Anda > tentu hafal dengan PP London Sumatra (LSIP), salah satu perusahaan > perkebunan kelapa sawit terbesar di BEI. Nah, SIMP ini adalah induk dari > LSIP. Jadi bisa dikatakan bahwa SIMP ini isinya adalah LSIP, plus beberapa > perusahaan di bidang pengolahan CPO menjadi produk turunannya. Selain bisnis > kelapa sawit, SIMP juga punya bisnis di perkebunan karet dan tebu, dan > produk turunannya. Tapi jumlahnya gak begitu banyak. > > Jika dianalogikan, SIMP ini sama seperti Global Mediacom (BMTR), yang berisi > Media Nusantara Citra (MNCN) plus beberapa perusahaan Grup Bhakti lainnya > yaitu MNC SkyVision (penyedia televisi berbayar Indovision), dan Infokom > Elektrindo. Sementara BMTR sendiri adalah anak usaha dari Bhakti Investama > (BHIT). Jadi bisa dikatakan bahwa ketiga perusahaan tersebut (BHIT, BMTR, > dan MNCN) sebenarnya merupakan perusahaan yang sama. Hanya saja perusahaan > yang menjadi induk dari perusahaan lainnya, biasanya memiliki bidang usaha > yang lebih luas. > > Balik lagi ke SIMP. Urutan kepemilikan SIMP adalah sebagai berikut: Grup > Salim punya perusahan di Hongkong dengan nama First Pacific Ltd (FPL). FPL > adalah induk dari INDF, yang merupakan induk dari SIMP. Dan SIMP adalah > induk dari LSIP. Jadi urutan `silsilahnya' adalah sebagai berikut: FPL > INDF SIMP LSIP. FPL ini listing di bursa Hongkong, sementara anak, cucu, > dan cicitnya listing di BEI. Selain Indofood, FPL juga menjadi induk bagi > tiga perusahaan milik Grup Salim di Filipina, yaitu Philippine Telecom, > Metro Pacific, dan Philex Mining Corp. > > Lalu bagaimana prospeknya kalau kita berinvestasi pada perusahaan seperti > SIMP ini? Apa bedanya dibanding kalau kita invest pada INDF atau LSIP? Ini > jawabannya: Semakin luas bidang usaha sebuah perusahaan yang akan anda beli > sahamnya, maka semakin banyak yang harus anda pelajari sebelum memutuskan > untuk membeli sahamnya. Untuk invest di saham INDF, anda harus mengerti > bisnis perkebunan kelapa sawit, CPO dan produk turunannya, tepung terigu, > mie instan, makanan bernutrisi, bumbu penyedap, susu, gula, kecap, dan > seterusnya. Sementara kalau anda invest di LSIP, anda cukup mengerti soal > perkebunan kelapa sawit, karena hanya itulah bidang yang digeluti LSIP. > Kalau SIMP? Ya perkebunan kelapa sawit plus CPO dan produk turunannya. Dan > jangan lupakan bisnis perkebunan karet dan tebu. > > Intinya, semakin fokus bidang usaha sebuah perusahaan, maka itu semakin baik > karena resiko usahanya menjadi lebih teridentifikasi. Kalau anda invest di > LSIP, maka resiko investasi anda terbatas pada seputar perkebunan kelapa > sawit. Sementara kalau anda invest di SIMP, maka resiko investasi anda juga > meliputi resiko pada bisnis minyak goreng dan margarin. Simpelnya begini: > kalau harga CPO turun, maka pendapatan LSIP dan SIMP akan sama-sama > tertekan. Sementara kalau harga margarin yang turun, maka yang akan kena > imbasnya cuma SIMP, sedangkan LSIP kemungkinan besar akan aman-aman saja. > > Tapi terlepas dari hal diatas, semuanya balik lagi ke fundamental. Dan > fundamental SIMP terbilang cukup baik. ROE-nya pada kuartal I 2011 mencapai > 27.5%, hasil dari laba bersihnya yang mencapai 689 milyar, naik hampir dua > kali lipat dibanding kuartal I 2010. Thanks to harga CPO yang sempat > melambung tinggi pada awal tahun 2011 lalu. Dan berbeda dengan neraca ICBP > yang seperti dijejali utang, utang SIMP gak terlalu besar dibanding > ekuitasnya, yaitu 11.4 berbanding 10.4 trilyun. Mengingat market sendiri > lagi kondusif, maka SIMP berpeluang untuk naik pada hari perdagangan > pertamanya, sama seperti yang dialami HD Finance (HDFA) yang listing perdana > pada hari ini. Sementara peluangnya untuk terus naik dalam jangka panjang, > atau paling tidak jangka menengah? Ya tergantung harga sahamnya. Kalau > mahal, maka SIMP ini mungkin saja bisa bernasib sama dengan ICBP: turun > sejenak ke posisi harga wajarnya, sebelum kemudian naik kembali. > > Lalu dana hasil IPO-nya akan dipakai buat apa? Ini datanya: 40% dana IPO > untuk bayar utang, 50% untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit, dan 10% > untuk mengembangkan bisnis produk turunan CPO. Kalau melihat data tersebut, > maka dua perusahaan milik Grup Salim lainnya yaitu INDF dan LSIP, akan > menerima keuntungan substansial. INDF akan menerima tambahan modal dan > pengurangan utang, sementara LSIP memperoleh dana segar untuk ekspansi. > > Terkait LSIP, IPO SIMP ini mungkin memang bertujuan untuk ngasih modal ke > LSIP, untuk membuka lebih banyak perkebunan kelapa sawit. Kalau anda > baca-baca berita soal CPO, industri CPO di Indonesia pada saat ini sedang > `diganggu' oleh permintaan dari negara-negara tujuan ekspor, yang meminta > agar CPO yang dihasilkan termasuk produk turunannya bersifat *green*, alias > tidak merusak lingkungan. Sementara kalau sebuah perusahaan membuka lahan > untuk membangun perkebunan kelapa sawit, mau gak mau harus membabat hutan, > atau dengan kata lain merusak lingkungan. Mereka sebenarnya bisa saja > menanam kembali pohon sawit pada lahan yang sudah ada, tapi biayanya lebih > besar ketimbang membuka lahan baru. Mungkin, dengan tambahan modal ini > nantinya LSIP bisa membuka kebon sawit baru, tanpa perlu membabat hutan. > LSIP memang menjual seluruh CPO-nya ke pasar domestik, namun SIMP menjual > minyak goreng dan margarin ke seluruh dunia. > > Atau, mungkin juga dana hasil IPO SIMP ini nantinya akan digunakan untuk > meningkatkan kembali kepemilikan SIMP atas LSIP. Beberapa waktu lalu, Grup > Salim menjual cukup banyak saham LSIP, sehingga kepemilikan SIMP atas LSIP > berkurang dari 65.6% menjadi tinggal 59.9%. Kalau gak salah waktu itu Grup > Salim lagi butuh duit untuk membeli sebagian saham Indocement (INTP), > perusahaan semen yang dulunya dimiliki oleh mereka. > > Apapun itu, kita sebagai orang luar tentunya cuma bisa menebak-nebak. Yang > tahu persis yang mereka sendiri. Anyway kabar baiknya, harga IPO kali ini > relatif murah. Pada harga Rp1,060 1,700 per lembar saham, SIMP akan > mencetak PER 6.1 9.8 kali. Sepertinya Grup Salim sadar betul bahwa jika > berkaca pada IPO ICBP dulu, investor kemungkinan akan jadi nggak berminat > kalau harga IPO SIMP ini ditetapkan terlalu tinggi, sehingga nasib SIMP ini > bisa saja berakhir seperti Garuda kemarin: nggak laku. Tapi kalau harganya > segitu sih, saham SIMP kemungkinan besar akan langsung diserap habis oleh > para investor. Dan kecil kemungkinannya bisa turun seperti yang dialami > ICBP. So, dibanding dengan beberapa IPO lainnya sepanjang tahun 2011 ini, > maka IPO SIMP boleh dikatakan merupakan IPO yang paling menarik, baik dari > sisi harga saham maupun kualitas fundamental perusahaannya. > > Kalau untuk long term, maka anda masih harus menunggu catatan kinerja SIMP > pada periode berikutnya. Pada 1Q11, kinerja SIMP memang melonjak tajam > sehingga harga sahamnya menjadi murah kalau dilihat dari sisi PER. Namun > melonjaknya kinerja SIMP ketika itu, dan juga perusahaan-perusahaan > perkebunan kelapa sawit lainnya, lebih karena ditopang oleh kenaikan harga > CPO yang sempat menyentuh RM3,800 per ton pada awal tahun 2011 lalu. > Sementara pada saat ini, harga CPO sudah balik lagi ke RM3,200-an per ton. > > *Salim Ivomas Pratama* > Rating Kinerja pada 1Q11: AA > Rating saham pada 1,060: AA >
