Jakarta- Pasar uang Indonesia diuntungkan perpanjangan paket stimulus AS
hingga Oktober 2011 yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS masih belum
mengalami perbaikan.

Pertumbuhan ekonomi AS yang merosot dari 3,2% menjadi 2,7% memberikan
gambaran bahwa ekonomi global masih dilanda ketidakpastian, kata pengamat
pasar uang, Farial Anwar, di Jakarta, Senin (27/6).

Farial yang juga Direktur Currency Management Group, mengatakan, kondisi ini
sebenarnya sangat menguntungkan bagi kawasan Asia, khususnya Indonesia,
karena investor asing akan kembali menempatkan dananya di kawasan ini.

Pelaku asing masih belum melihat peluang untuk masuk ke pasar AS maupun
Eropa yang masih menerapkan tingkat suku bunga rendah, ucapnya.

Penjualan perumahan yang mengalami kemerosotan, menurut dia, juga merupakan
salah satu faktor yang menunjukkan ekonomi AS memang jauh dari harapan.

Bahkan sejumlah perusahaan AS banyak mengalami kerugian, ujarnya.

Meski pelaku pasar asing cenderung memegang dolar ketimbang rupiah yang
merosot meliwati angka Rp8.600 per dolar, namun tekanan pasar kemungkinan
hanya sementara karena fundamental ekonomi Indonesia makin bagus, ucapnya.

Peluang investor asing kembali masuk ke pasar domestik, lanjut dia,
sebenarnya cukup besar dan akan mendorong rupiah kembali menguat.

Jadi tidak perlu dikhawatirkan bahwa rupiah maupun indeks harga saham
gabungan (IHSG) akan terus tertekan bahkan kembali bergerak naik dengan
masuknya pelaku asing ke pasar domestik, ujarnya. (ant/hrb)

Kirim email ke