Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: herlambang sunyoto <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 7 Jul 2011 19:40:40 
To: FTK_ITS<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [FTK ITS] Keadaan/kondisi Ibu Siami & keluarga (per kemarin)

Assalamualaikum wr. wb.



Sedikit cerita buat AL-ITS millister, pada tanggal 6 Juli 2011 sekitar jam
8.30 WIB saya bersama anak istri saya mengujungi kediaman Ibu Siami. Sekedar
info, satu minggu sebelumnya saya sudah berusaha kesana (GADEL), akan tetapi
ternyata mobil kesulitan untuk masuk kedaerah sana. Akhirnya saya baru
sempet seminggu kemudian dengan bersepeda motor kesana.



Setelah bertanya dua kali, akhirnya ketemu rumah “keluarga yang jujur”
tersebut. Awalnya hanya Alif yang di rumah. Setelah dipersilahkan masuk, ga
seberapa lama kakak dari Ibu Siami yang tinggal di belakang rumah tersebut
menemui saya sekeluarga. Kakak Ibu Siami mengatakan kalau Ibu Siami lagi
menjemput adik Alif dari desa (Benowo Benjeng). Mohon ditunggu saja katanya.



Sekitar setengah jam kemudian barulah Ibu Siami datang dengan adiknya Alif.
Awalnya kami berbasa basi dulu, lalu berceritalah Ibu Siami setelah saya
pancing dengan pertanyaan “sekarang semua kondisi sudah normal ya Bu?”……



Agak lama dan setelah mengambil nafas dalam-2 dan matanya berkaca-kaca
mengeluarkan tetesan airmata. Beliau bercerita kalau belum….Belum normal
Pak, masih saja ada Ibu-2 kampung yang sering menyindir, mengejek, walaupun
tidak seekstrim dulu. Padahal saya sudah berusaha membaur, tetapi tetap saja
ada yang mencemooh. Saya bersedia kembali ke GADEL atas permintaan Ibu
Rismawati (walikota Surabaya), Pak M Nuh (menteri pendidikan), serta ulama-2
& tokoh-2 masyarakat GADEL. Yang terparah malah waktu pengajian peringatan
Isro Mi’roj, saya terus-menerus disindiri oleh Ibu-2 kampung yang hadir.



Terus juga Alif masih belum mau bermain diluar rumah, karena kuatir ada
intimidasi dari ibu-2 kampung. Adapun juga Alif tidak diterima di SMP 3
karena memang nilainya kurang. NA-nya cuman mendapat rata-2 8 (delapan),
padahal oleh wali kelasnya sudah pernah dikasih tau kalau rata-2nya 9
(Sembilan). Ini semua penuturan Beliau (Ibu Siami).



Lalu saya menanyakan, lho kan nilai UAN nya dik Alif tinggi Bu? Kok ada lagi
nilai NA? Apakah nilai NA itu yang menentukan sekolah/SD tempat belajar? dan
menjadi syarat masuknya ke SMP negeri? (karena memang saya tidak tahu untuk
masa sekarang apakah seperti ini, karena jaman saya dulu ya hanya NEM=Nilai
Ebtanas Murni yang dijadikan patokan masuk).



Beliau (Ibu Siami) menjawab lagi kalau sekarang sistemnya memang seperti
itu. NA adalah nilai rata-2 rapot dari kelas empat sampai lulus. Jadi murni
yang mengelola adalah sekolah. Tapi saya ikhlas kok, memang yang ini
tertulis diatas kertas, lha yang tadi itukan baru omongan dari gurunya.



Subhanalloh tegar banget Ibu ini.



Beliau melanjutkan cerita, saya sudah siap & pasrah sekalipun Alif ga
diluluskan, karena tekad saya & suami untuk mendidik anak-2 saya untuk
selalu jujur. Akhirnya Alif saya daftarkan ke SMP negeri 26. Saat inipun
masih terdengar perkataan disekitar rumah kalau saya sudah mempunyai uang
hasil sumbangan & beasiswa untuk Alif yang jumlahnya ratusan juta, demi
Alloh saya ga punya (beliau kembali meneteskan airmata). Memang banyak yang
menawarkan beasiswa, tapi saya tolak secara halus karena saya tidak pingin
menggantungkan biaya pendidikan anak saya kepada orang lain, bukan bermaksud
sombong (Subhanalloh, ibu ini memang luar biasa).



Karena situasi yang tidak kondusif, saya (Ibu Siami) tetap akan mencari
rumah kontrakan lain untuk pindah dari GADEL. Yang sangat saya sayangkan
adalah kakak-2 kandung saya yang tinggal dibelakang rumah ini juga terkena
imbasnya, jadi juga akan menyusul pindah dari GADEL. Kakak saya yang disini
3 orang, tapi yang satu sudah menikah dengan orang GADEL situ, istrinya
tidak mau diajak pindah.



Saya berpikir luar biasa dampaknya terhadap keluarga ini, padahal salah satu
Pakdenya Alif juga wiraswasta menjahit tirai (gorden bahasa jawanya),
terkena imbas dalam hal omzetnya.



Sebagai info, ibu Siami adalah anak terakhir dari 6 bersaudara, 4 orang
termasuk Ibu Siami tinggal di GADEL situ, 3 termasuk Ibu Siami tinggal
berderet satu rumah.



Setelah hanya bisa termangu-mangu dengan cerita Ibu Siami ditemani Alif,
saya bersama istri hanya bisa mendoakan yang terbaik buat keluarga ini.
Bocoran sementara dia lagi mencari kontrakan di daerah dekat rumah saya,
SIMO TEMBAKAN. Semoga saja jadi. Karena beliau juga mengatakan apakah nanti
tabungannya cukup atau enggak.



Pada saat saya menyerahkan amplop hasil penggalangan dana (ALITS - TOTAL)
buat Beliau, awalnya Beliau menolak, sekali lagi saya menyampaikan, bahwa
ini bentuk dukungan kami yang prihatin dengan kondisi keluarga Ibu. Akhirnya
Beliau mau menerima, Alhamdulillah, semoga kebaikan & keikhlasan rekan-2
bapak disana diterima Alloh.



Akhirnya saya pamit pulang.



PS: No HP Bu Siami : 082132465454 (simpati)

                                  03171268169 (flexi)


Wassalamualaikum wr. wb.


Herlambang Deddy Sunyoto

P-35L
 

<<attachment: Ibu Siami & Alif.jpg>>

<<attachment: me & Alif.jpg>>

Kirim email ke