Di tengah gemuruh 'market sell-off' regional Eropa dan Amerika Utara malam
tadi yang diikuti dengan pembukaan reaksioner pada bursa Asia, hari ini
'pressure' yang sama tentu tidak terhindarkan akan menyapa Bursa Efek
Indonesia. Pertanyaan yang penting kemudian adalah bukan apakah 'market'
akan melakukan penyesuaian karena 'market' pasti selalu menyesuaikan, tetapi
apakah 'pressure' ini merupakan akhir atau awal satu lagi fase baru dari
'uptrending' Indonesian equity market.

Dan, perhitungan serta keyakinan fundamental dan teknikal kami menyatakan,
saat ini adalah momen ekstra akumulasi kekayaan untuk periode extra bullish
leg pada Indonesian equity market, khususnya untuk lagging group industry
dan small/medium/micro caps.

Pertimbangan:

*Regional:*
*
*
1. 'Sell-off' pada bursa Amerika Serikat sudah dialami pasca-krisis
finansial 2008, yaitu ketika 'flash crash' setahun lalu 06 Mei 2010, yang
mencatat penurunan intraday terbesar pada Dow hampir 1.000 poin. Pemicu
Eropa. Hasil akhir, mayoritas bursa dunia kembali mendaki, baik Indonesia
maupun Amerika Serikat itu sendiri.

2. Seluruh alternatif skenario terburuk pada pasar AS, mulai debt ceiling
deadlock hingga downgrade credit rating AS, sudah terlontar dan dicerna
pasar, apalagi kondisi Eropa. Dekatnya reaksi 'sell-off' malam tadi dengan
penantian pasar atas 'employment situation report' AS (di dalamnya 'non-farm
payroll') mengindikasikan bahwa 'sell-off' mayoritas dipengaruhi oleh
spekulasi data non-farm payroll nanti malam sebagai ekses psikologis reaksi
'sell-off' serupa pada awal Juni lalu. Sekali lagi 'market' kembali
mendiskon sentimen negatif.

3. 'Investor gauge factor' (VIX) yang meloncat hingga 35.41% mencapai angka
31.66 merupakan indikasi peningkatan kekhawatiran, namun demikian loncatan
masih di bawah angka kepanikan di atas 40 pada pertengahan 2010 lalu.
Memang, proyeksi angka VIX bisa akan terus mendaki, tetapi sementara ini
loncatan tersebut yang cukup besar masih belum "terlalu" besar. Yield
obligasi AS memang turun pada level yang mengindikasikan 'safety flight',
tetapi kondisi tersebut memang kondisi yang sudah sepatutnya terjadi dalam
setiap situasi 'turmoil', namun demikian tetap pantau perkembangan yield
tersebut.

*Lokal:*
*
*
1. Fundemental ekonomi makro Indonesia tidak ada lagi keraguan. Berbasis
kepada kekuatan pertumbuhan konsumsi domestik, Indonesia secara teknis telah
dipandang sebagai salah satu alternatif 'safe haven' investasi. Peningkatan
rating investasi yang akan segera dilakukan masih menjadi catatan penting
bagi perkembangan bursa ke depan. Namun demikian, tetap kewaspadaan dalam
memilih saham investasi perlu diperhatikan. Valuasi memang menjadi isu bagi
sejumlah big caps tetapi tidak untuk semua kategori caps.

2. Secara teknikal, sekadar mengingatkan Anda bisa baca post kami pada 27
Januari 2011 di bawah atau melalui link (
http://groups.yahoo.com/group/saham/message/100094). Jika Anda kenang
periode saat itu ketika 2 hari kemudian IHSG berada pada level 3300 dari
3700 high akhir tahun 2010 maka sentimen negatif yang dirasakan pada
emerging market tidak lebih baik dari situasi sekarang. Kami jadi salah satu
dari sedikit yang mengadvokasikan bahwa itulah saat yang tepat untuk
mengakumulasi kekayaan via ekuitas. Pandangan kami sejalan dengan posisi
analisis teknikal dari Auerbach Crayson & Co saat itu yang menyatakan bahwa
IHSG telah menyentuh support fibo dan akan rebound 18%. Kali ini, pandangan
kami juga sejalan dengan Auerbach Crayson & Co pada tanggal 2 Agustus lalu
yang menyatakan:

"Investors should sell stocks of developing nations except for Russia, South
Korea and Indonesia, Richard Ross, global technical strategist at Auerbach
Grayson, said in a note to clients dated July 29.

“An ominous rolling head-and-shoulders top has formed over the emerging
markets,” said Ross. “Hold your Russia, Korea and Indonesia and look to
lighten up everywhere else.” Ross, who is based in New York, said on Jan. 27
that Indonesia’s benchmark stock index may rise 18 percent after slumping to
a key Fibonacci support level. The measure has since climbed 19 percent,
closing at a record high on Aug. 1."
http://www.bloomberg.com/news/2011-08-03/emerging-markets-stocks-are-poised-for-ominous-drop-technical-analysis.html

Kami yakin, ini kesempatan lain, kesempatan terbaik. Selamat menempuh 4400
pada awal November 2011.

'+'

On Thu, Jan 27, 2011 at 4:52 PM, positif01 <[email protected]> wrote:

> Saya juga terima catatan dari Auerbach Grayson & Co siang tadi. Berhubung
> sudah dirilis juga oleh Bloomberg dan sudah ke mana-mana, bisa jadi bahan
> pelajaran/pembanding bagi yang tertarik untuk menguji lebih lanjut. Dan,
> btw, ini juga salah satu pertimbangan 'confidence' buyer ETF Indonesia,
> EIDO, IDX atau DB X MSCI Indonesia, untuk kembali masuk dan menaikkan harga
> ETF +3% selama 3 hari belakangan. Dan, rekomendasi utamanya in line dalam
> posting saya beberapa hari terakhir, mining - batubara.
>
> “Our analysis suggests that the 10 percent correction to a key Fibonacci
> support *has created a compelling entry point*,” Richard Ross, global
> technical strategist at Auerbach Grayson in New York, wrote in a note
> yesterday. “The well-defined *uptrend remains intact*.”
>
> Ross said his initial upside target for the gauge is 4,126, an 18 percent
> gain from yesterday’s closing level of 3,501.72. The index surged 46 percent
> last year, the best performer among Asia’s 15 biggest markets, as record-low
> interest rates <http://topics.bloomberg.com/interest-rates/> helped boost
> economic growth and corporate earnings.
>
> Ross said Auerbach Grayson <http://topics.bloomberg.com/auerbach-grayson/>
> *favors mining stocks*. The Jakarta Mining Index is in a “strong technical
> position,” with miners displaying relative strength through the recent
> correction, he wrote. “Bullish trends are accelerating.” The mining gauge
> advanced 1.7 percent today, paring an annual loss to 1.2 percent.
>
> Lengkapnya akses di
> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-27/indonesian-stocks-may-rebound-18-after-recent-plunge-technical-analysis.html
>
>
>

Kirim email ke