Cakep tan Like this :)
Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: Ellen May <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 8 Aug 2011 17:05:00 To: <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]> Reply-To: [email protected] Cc: <[email protected]> Subject: [saham] "Apakah krisis kali ini akan menjadi sama seperti krisis 2008 ? " Pertanyaan paling hot yg saya terima dari social media, baik twitter ( www.twitter.com/pakarsaham) maupun facebook (on.fb.me/ellen_may dan on.fb.me/ellenmay) adalah : * "Apakah krisis kali ini akan menjadi sama seperti krisis 2008 ? "* Ada yg dengan entengnya mengatakan YA, dan ada yang tetap optimis dengan mengatakan TIDAK. Saya pribadi sebenarnya optimis bahwa krisis kali ini tidak separah 2008 dengan melihat kondisi ekonomi Indonesia yang cukup baik, baik dari GDP, inflasi, devisa (seperti yang saya twit Jumat yg lalu). Ditambah lagi situasi para investor asing yang mengalirkan modalnya ke Asia (Chindia : China, India, Indonesia), dikarenakan pasar AS dan Eropa yang masih dalam kemelut, mereka memilih untuk memindahkan dananya ke negara2 emerging tersebut. Rasa optimis saya bertambah ketika saya membaca data yang tercantum pada harian Media Indonesia 21 Juli 2011 di mana, Indonesia merupakan "ladang subur" bagi para investor asing, daripada China yang sudah dianggap "kepanasan" atau overheat, juga India yang punya tingkat inflasi kurang terkontrol (8-9%). Bursa Indonesia mengalami pertumbuhan paling pesat di antara saudara2nya sesama negara ASIA, dengan pertumbuhan sebesar 8.1 % hingga Juli kemarin, disusul Singapura dan Malaysia (4.9%), baru kemudian China dan Jepang yang status pertumbuhannya minus tipis pada waktu itu. Setidaknya, untuk sementara waktu, Indonesia masih diminati asing (70% investor dalam bursa Indonesia adalah asing). Namun ternyata, dalam menjawab pertanyaan hot tersebut, tidak bisa hanya dengan beberapa pertimbangan saja. Bahkan pakar makro ekonomi yang satu bisa mempunyai pandangan yang berbeda terhadap pakar yang lainnya. Seperti ketika saya menemui seorang narasumber dari Bank Indonesia, beliau mengatakan bahwa tidak semua investasi asing tersebut masuk dalam FDI (Foreign Direct Investment). Beliau juga mengatakan bahwa dalam menilai pengaruh krisis dalam sebuah negara tidak bisa hanya dipandang dari pertumbuhan ekonomi atau cadangan devisa. Singkat cerita, saya menyimpulkan, bahwa para pakar makro ekonomi pun mempunyai pandangan masing2, dan tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan di atas hanya dengan "YA" atau "TIDAK". Hal itu berkaitan dengan kebijakan2 yang diambil sebuah negara ketika krisis sedang berlangsung. Beda kebijakan maka akan beda pula hasilnya. PAda akhirnya, saya pribadi mengambil sebuah kesimpulan... Terlepas dari adanya krisis besar ataupun tidak, hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah BAGAIMANA MENYIKAPI APA YG SEDANG TERJADI. * Leaders don't do different things, but they do things DIFFERENTLY *!! Lalu apa yang harus kita lakukan jika terjadi krisis seperti tahun 2008 ? Tidak ada yang tahu akan sedalam apa krisis tersebut. Namun yang terpenting, kita harus mengambil langkah pemenang. Apa itu ? Bila terjadi krisis, bukankah sebenarnya ini merupakan kesempatan besar bagi investor untuk mendapatkan harga super diskon ? Saya seringkali masih bernostalgia dengan chart di masa lalu, yaitu pada tahun 2008 bulan Oktober, dimana terjadi diskon besar2an. Waktu itu harga ASII menyentuh level Rp 7500 (sekarang sudah menyentuh level tertinggi Rp 75.000), harga saham PTBA sekitar Rp 4300, dan hingga hari ini telah tersentuh level tertinggi sekitar Rp 25.000. Hm.... saya sungguh sering berandai2 ingin kembali ke masa itu. *Namun, jika saat ini kita benar2 diberi kesempatan kedua untuk mencicipi diskon seperti waktu itu, siapkah kita ????* Leaders, yang perlu kita lakukan untuk menghadapi krisis tak lain adalah hal2 yang sangat sederhana seperti : 1. Traders, boleh tetap trading, dengan memanfaatkan momentum short term / teknikal rebound pada daytrade. Untuk hal ini saya sarankan traders yang sudah benar2 profesional dan menggunakan tools yang tepat yaitu data ealtime intraday! Trader profesional yang saya maksud adalah mereka yang sudah terbiasa membuat dan disiplin pada trading plan. Traders pemula tidak saya sarankan untuk mengambil langkah pada point 1 ini karena sangat bahaya jika belum bisa disiplin pada proteksi dan profit taking. Point 1 biasa disebut scalping atau daytrade. 2. Gunakan Money Management yang tepat, jangan gunakan semua cash Anda. Sisakan paling tidak 50% dari cash Anda untuk menyambut harga super diskon. Saran saya jangan gunakan lebih dari 50% total modal Anda dalam kondisi seperti ini. 3. Batasi jumlah saham yg dibeli. Jika dulu Anda beli saham @ 20% dari total portofolio, sekarang boleh dikurangi hingga 10-15% per saham. 4. Atau, jika Anda tetap beli sebesar 20%, batasi jenis saham yang dibeli. Jika dulu beli 5 saham dalam porto, sekarang cukup 2 atau 3 !!! *Ada yang bilang ... dikit amat ... kaga afdol :p * Hm... jika Anda tetap overtrade .... apa yang akan Anda gunakan untuk beli barang diskon nanti ??? Pada akhirnya hanya akan gigit jari , melihat investor lain borong harga obral ! Saya tidak mengatakan bahwa the great crisis pasti terjadi. Tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti. Namun, alangkah baiknya jika kita bisa waspada dan WE DO THINGS DIFFERENTLY ! Jangan serakah, batasi posisi. Profit banyak memang lebih baik daripada profit sedikit. Namun profit sedikit lebih baik daripada tidak profit sama sekali atau malah rugi. Trading is that simple, it's all about our mindset and *ATTITTUDE.* Semoga bermanfaat. -Artikel sy kutip dr web sy www.ellen-may.com - Salam profit, Ellen May www.twitter.com/pakarsaham
