Pada kesempatan #1 dalam 'fear of losing out', Martin J. Pring, salah satu 
'world renowned market technician' menjelaskan mengenai bentuk lain dari 
ketakutan yang berupa ketakutan akan ketinggalan ('fear of losing out') 
untuk berpartisipasi dalam 'market rally' (
http://groups.yahoo.com/group/saham/message/129743). 

Berikutnya adalah ketakutan akan ketinggalan yang didominasi oleh 
penyangkalan atas perubahan kondisi ('in state of denials'). Pring 
menyatakan:

Fear of losing can also take other forms. For instance, occasionally we play 
mental games by refusing to acknowledge the existence of ominous 
developments. This could take form of concentrating on the good news, 
because we want the market to rally, and downplaying the bad news, although 
the later may be more significant. Needles to say, this kind of denial can 
lead to some devastating losses.

Dalam post kami sebelumnya, peta psikologis pelaku pasar dapat dengan mudah 
dan kasat mata terbaca dengan perpindahan (shift) mental state yang 
sekaligus menggambarkan volatilitas pasar. Kondisi yang diawali dengan 
berkurangnya secara drastis pendekatan yang proposional, ditandai dengan 
mulai banyak absennya para market technicians, dan meningkat dengan maraknya 
prediksi-prediksi pasar sebagi perlambang another form of fear of losing, 
sampai dengan menjamurnya pernyataan-pernyataan penghiburan yang backfire 
terhadap pasar karena secara langsung mengindikasikan adanya kekhawatiran. 
Reverse psychology seperti ini lazim ditemukan dan merupakan ciri-ciri 'fear 
of losing' yang dinyatakan oleh Martin J. Pring tadi.

http://pring.com/pring_bio.htm

Besok kita lanjutkan dengan ulasan singkat dari William J. O'Neil [mid-term 
traders/(capital gain) investors] dalam menyikapi volatilitas pada teritori 
bear. "Don't Jump Back In Too Early" demikian bunyi pesan dari Bill O'Neil (
http://www.investopedia.com/university/greatest/williamoneil.asp#axzz1Uh63CKf8
).

'+'

Kirim email ke