Dalam posts kami sebelumnya, kami sebutkan dinamika psikologis kerumunan
(herd) menyikapi pergolakan pasar saham. Mulai dari hengkangnya dari arena
para rasionalis market technicians, sampai kemunculan para 'predictionist'
dadakan a.k.a ahli nujum, dilanjutkan dengan menjamurnya juru hibur
('entertainer') dan para cheerleders'-nya setelah para ahli nujum berangsur
surut. Hari ini sudah dapat dirasakan 2 hal penting yang merefleksikan
psikologis pasar:1) Menurunnya secara signifikan kehadiran dan sorak sorai juru hibur, seiring dengan kecenderungan sikap pasrah dan mulai realistis terhadap kondisi yang dihadapi; 2) Menguatkan kondisi angka (1), tampak dari relasi nett buy/sell asing versus lokal. Berdasarkan data 10 tahun terakhir, asing selalu mengawali atau berada pada masa-masa awal koreksi dengan membukukan transaksi nett sell harian yang signifikan selama 6-7 hari. Kita perhatikan sejak 1 Agustus, transaksi asing selalu daily nett sell di atas 500 miliar pada pasar reguler yang merefleksikan dinamika riil pasar real time. Asing mulai positif pada sesi 1, dan ini sesuai pola 10 tahun terakhir, setelah 1 minggu nett sell, probabilitas asing akan nett buy positif tetapi tipis 3-4 hari. Penjelasannya: ketika asing nett sell, local buyers (khususnya retail) berpikir harga saham bottoming, dan melakukan akumulasi. Setelah 1 minggu usai, daya harap para retail menyusut seiring dengan turunnya keyakinan atas bottom fishing yang dilakukan. Sebaliknya, sebagian kecil asing bereaksi terhadap local retail dan sedikit menambah posisi selama 3 hari ke depan. Setelah itu, umumnya indeks akan melanjutkan penurunannya karena retail buying sekarang meyakini keputusan yang keliru atas bottom fishing yang dilakukan, dan ini klop dengan lenyapnya para juru hibur. Dan, asing kembali mendistribusi koleksinya. Akhir dari proses ditandai dengan kebangkitan Ahli K yang akan menceritakan pengalaman yang berjalan dalam memoir yang akan abadi.:d '+'
