http://internasional.kontan.co.id/v2/read/1313043084/75187/Kredibilitas-lembaga-pemeringkat-kembali-diselidiki * Kredibilitas lembaga pemeringkat kembali diselidiki*
WASHINGTON. Pemangkasan peringkat utang Amerika Serikat (AS) oleh Standard & Poor's dianggap telah menyulut gejolak di pasar keuangan dunia. Tak ayal ini memicu desakan untuk segera menginvestigasi dan menegaskan lagi usaha untuk mereformasi lembaga pemeringkat. Kredibilitas dan objektivitas lembaga pemeringkat sebenarnya sudah mendapat sorotan sejak skandal bangkrutnya Enron di Amerika Serikat tahun 2001. Kemudian jika Anda ingat, pada saat krisis subprime di 2008 silam, lembaga pemeringkat mendapat kritikan pedas. Sebab, merekalah yang memberi peringkat tinggi pada berbagai instrumen derivatif dan lembaga-lembaga keuangan yang akhirnya bermasalah. Kini, lembaga pemeringkat kembali menuai perhatian. Maxin Waters, anggota parlemen dari Partai Demokrat di California, meminta untuk menyelidiki apakah benar S&P telah membocorkan sejumlah informasi tentang pemangkasan rating AS kepada beberapa lembaga keuangan tertentu sebelum mengumumkannya. Waters menyatakan ia khawatir membaca berita-berita bahwa eksekutif-eksekutif industri perbankan telah bertemu S&P di hari Kamis dan Jumat pekan lalu, sesaat sebelum pengumuman pemangkasan rating. Kecurigaan ini ditambah dengan terjadinya lonjakan volume perdagangan dan penjualan saham besar-besaran di hari Jumat, sebelum S&P menyiarkan rilisnya. Tak hanya Waters, Komite perbankan Senat AS pun berkata akan mencermati kejadian ini. S&P sendiri menolak untuk berkomentar. John Hunt, Professor University of California Davis mencatat bahwa pemangkasan rating S&P memicu lebih banyak kemarahan publik ketimbang pada krisis 2008. Ini khususnya karena tuduhan Kementerian Keuangan AS bahwa S&P melakukan kesalahan perhitungan anggaran AS sebesar US$ 2 triliun. "Akan ada tekanan pada regulator untuk melakukan apa yang diperintahkan pada mereka," ujarnya. Sementara itu, Paul Krugman, ekonom dan kolumnis ekonomi koran New York Times juga mempertanyakan kredibilitas S&P. Ia mengingatkan bagaimana mungkin S&P, lembaga yang salah membaca aset-aset subprime, bisa dipercaya dalam menilai ekonomi AS. Ia pun menggambarkan S&P dengan sebuah perumpamaan, "Seorang pemuda membunuh orang tuanya dan meminta ampun karena ia menjadi yatim piatu," tulis Krugman dalam blog ekonominya, di awal pekan ini (7/8). Krugman menandaskan, S&P bersama lembaga rating yang lain berperan penting menyebabkan krisis tahun 2008. Pasalnya, lembaga-lembaga rating itu memberi rating AAA kepada aset-aset dan surat berharga berbasis properti yang kemudian menjadi aset busuk. Tak berhenti sampai di situ saja, S&P merupakan lembaga rating yang memberi peringkat A pada Lehman Brothers, bank yang kolaps dan memicu kekacauan di industri finansial AS. Meski menuding pemangkasan rating AS oleh S&P tak berarti apapun, Krugman tak menyangkal bahwa ekonomi AS bermasalah. Namun permasalahan ini, kata dia, hanya sedikit kaitannya dengan masalah defisit anggaran AS. "Bahkan defisit besar di beberapa tahun mendatang hanya akan berdampak kecil bagi kelangsungan fiskal AS," catatnya. Bagi Krugman, yang membuat ekonomi AS tak dapat diandalkan adalah politik. Krugman mengritik ekstrimis kanan yang kini dikenal sebagai *Tea Party*dalam parlemen AS. Ia merasa tuntutan dan blokade kebijakan yang dilakukan para aktivis liberal baru ini justru akan membuat krisis terulang. Padahal, Krugman menilai problem fiskal AS jangka panjang tak sesulit itu untuk dibenahi. Populasi penduduk yang menua dan kenaikan ongkos kesehatan memang akan mendorong belanja AS lebih tinggi dari penerimaan pajak. Namun menurutnya, AS memang memiliki ongkos kesehatan yang jauh lebih tinggi dari negara maju lainnya. Sebaliknya, AS memasang pajak yang sangat rendah dibanding standar internasional. "Jika kedua pos itu bisa bergerak bahkan jika cuma sebagian saja menuju standar internasional, problem anggaran akan terpecahkan," sarannya.
