Berita M&A telah menjadi pemicu kelanjutan reli pada bursa saham AS malam
tadi. Meski empat indeks utama AS berhasil melanjutkan reli dan ditutup
dengan kenaikan di atas 1,7%, seluruh indeks tersebut yang berasal dari dua
bursa saham utama AS (NYSE dan Nasdaq) kembali melanjutkan pelemahan
'turnover' atau volume perdagangan sejak indeks memulai reli pada 09 Agusts
2009. Dan, tidak hanya volume yang terus menurun, tetapi juga untuk pertama
kalinya sejak tiga minggu terakhir, volume perdagangan pada malam tadi
tercatat di bawah rata-rata volume perdagangan selama 50 hari terakhir.
Volume perdagangan, baik pada 'market average' seperti indeks, maupun
'single stock'/saham memainkan peranan sentral untuk menentukan arah tren
yang sedang terbentuk. Fakta elemen volume perdagangan dapat menetralisir
faktor rumor, opini ataupun hot tips tertentu yang beredar seputar
pergerakan harga. Oleh karena itu, kombinasi peningkatan harga yang disertai
penurunan volume merupakan gambaran yang kurang mendukung untuk mengambil
sikap penuh keyakinan ('conviction') atas pergerakan harga yang sedang
terjadi atau dengan kata lain, institutional buyers masih bersikap ekstra
hati-hati dan memilih menjauh.
Hal lain yang menarik dicermati pada perdagangan di AS malam tadi adalah
group industri defensif seperti 'utililites' justru masih memimpin kenaikan
sebesar 3,5% di atas grup-grup industri tradisional lainnya yang biasanya
memimpin kenaikan indeks pada reli yang penuh keyakinan. Faktor berita
pembelian obligasi sebesar $32 miliar oleh Bank Sentral Eropa yang sementara
ini menjadi pil penenang kepanikan pasar kembali memunculkan pertanyaan
kesinambungan kemampuan ECB untuk meneruskan pembelian serupa.
Oleh karena itu, sejumlah analis teknikal pada bursa saham AS
mengindikasikan bahwa pergerakan harga sejak awal tahun ini kemungkinan
besar telah dapat ditentukan level harga tertinggi ('highest') yang telah
tercapai, dan sebaliknya masih belum melihat level terendah ('lowest') yang
masih terbuka untuk kembali disentuh. Kondisi ini dikonfirmasi dengan
'deleveraging' atau penurunan penggunaan margin oleh institutional buyers di
AS dalam kurun waktu 2 minggu sebelum pasar kolaps pada awal Agustus.
Tindakan ini merupakan antisipasi profesional para institutional buyers
untuk melakukan penyelamatan aset klien, sekaligus menandakan fase
antisipasi pasar terhadap probabilitas penurunan prospek/return saham ke
depan.
Kondisi teknikal serupa juga persis terjadi pada pergerakan indeks utama
Indonesia, IHSG. Kemarin, terlepas dari kenaikan indeks, volume perdagangan
justru terus menurun sejak reli dimulai, dan berada di bawah rata-rata
volume perdagangan 50 hari. Kondisi volume yang terus melemah ini sangat
kontrak dibandingkan dengan volume perdagangan ketika penjualan masif
terjadi pada awal Agustus.
US/Indo equity market: "Market in Correction"
'+'