Semua indeks saham utama AS anjlok dan mengalami 'gap down' pada awal
perdagangan. Nasdaq turun -5,2%, DJIA -3,7%, S&P 500 dan NYSE composite
masing-masing -4,5% dan -4,6%. Rasio saham yang naik dan turun berbanding
9:1 di NYSE dan 10:1 di Nasdaq.

Secara teknis, penurunan dalam ini mengkonfirmasi lemahnya 'technical
rebound' minggu lalu yang tidak ditopang dengan peningkatan volume
perdagangan. Dan, perdagangan malam tadi kembali menegaskan pola volume pada
'bear market' yang ditandai dengan peningkatan volume dibandingkan volume
sehari sebelumnya ketika DJIA dan S&P 500 masih ditutup positif tipis.

Sentimen 'sell-off' ini didorong oleh faktor makro global, khususnya dari
Zona Eropa, yang diperparah dengan beredarnya informasi bahwa salah satu
lembaga perbankan Eropa yang tidak disebutkan namanya telah meminjam
sebanyak $500 juta selama 1 minggu dari ECB (European Central Bank). Kondisi
ini memunculkan kembali ingatan atas fase awal kolapsnya Lehman Brothers di
AS pada 2008 lalu.

Namun demikian, terdapat sejumlah fakta teknikal perdagangan lain yang perlu
dipertimbangkan untuk penilaian pergerakan volatilitas dan 'sell-off' pasar
ke depan:

1) Volume perdagangan Kamis di NYSE/Nasdaq naik dari hari sebelumnya, tetapi
dibandingkan volume perdagangan ketika pasar memasuki fase awal volatilitas
tinggi pada minggu pertama Agustus, justru mengalami penurunan;

2) VIX yang dijadikan indeks kekhawatiran pasar naik kembali ke level 40,
tetapi masih jauh di bawah 80 ketika pasar mengalami puncak koreksi pada Mei
2010. Dan, yang cukup unik, VIX malam tadi ditutup turun dari level
tertinggi intraday-nya 45,26 menjadi 42,67.

3) Indeks VIX kemungkinan telah mendekati klimaks atau kapitulasi dengan
'spread' yang cukup besar di atas 14 terhadap kontrak future VIX. Indeks VIX
malam tadi ditutup pada level 42,67 sementara kontrak future VIX 3 bulan
(November) ditutup pada 29,60. 'Spread' ini menggambarkan kekhawatiran yang
tengah terjadi mungkin tidak akan lama.

Bagaimana dengan pasar saham Indonesia? Kamis kemarin pola volume
perdagangan praktis sama dengan pola pada bursa global. Indeks utama
Indonesia (IHSG) mengalami peningkatan yang cukup signifikan untuk dapat
dikategorikan sebagai 'follow through', namun tidak didukung dengan volume
perdagangan yang cukup kuat. Volume lebih rendah dari 16 Agustus ketika
indeks turun. Adapun fenomena peningkatan IHSG ini lebih ditopang kepada
pelaku pasar domestik dan ritel yang mengantisipasi 'downtrend reversal'
lebih dini dengan mendorong saham-saham kunci LQ45 naik. Sejauh ini sejak
pasar global mengalami 'selling pressure' pada awal Agustus, data pembelian
(inflow) total asing masih bersifat negatif. Asing yang menguasai ekuitas
Indonesia 65% masih dalam posisi 'nett sell'. Dan kontribusi transaksi asing
setiap hari perdagangan selama Agustus masih di bawah 30% dari total
perdagangan yang mengindikasikan posisi 'sideways'.

Untuk hari ini, diperkirakan akan terjadi tekanan lanjutan terhadap
saham-saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam indeks LQ45 di tengah
minimnya dukungan 'inflow' asing. Namun demikian, sebagian besar ritel lokal
akan memfokuskan perhatian kepada kelompok saham 'safe haven' yang masuk
kategori small/micro dengan dukungan valuasi fundamental yang masih rendah
baik terhadap grup industri maupun IHSG. 'Safe haven' yang dimaksud tidak
dalam pengertian komoditas seperti 'emas' yang akan naik ketika pasar saham
koreksi, tetapi kelompok saham small/micro yang di luar daftar
'short-selling' dengan penguasaan institusi dan asing yang relatif kecil.
'Safe haven' ini tetap akan mengalami tekanan, tetapi akan adjust loss lebih
cepat dan mengalami eskalasi yang signifikan.

Kami perkirakan, indeks Properti yang mengalami pelemahan kemarin ketika
indeks-indeks utama menguat, akan menjadi perhatian pelaku pasar, khususnya
ritel hari ini. Yang perlu dicermati, LPCK dan MDLN.

US/Indo market status: "Market in Correction"

'+'

Kirim email ke