Tekanan terhadap IHSG berlanjut memasuki hari ke-3, dengan nilai pelemahan
sektor finansial memimpin teratas disertai dengan bank-bank berkapitalisasi
besar (BBRI, BMRI, BBCA) duduk di top 5 foregin net sell. Saham
berkapitalisasi terbesar di BEI, ASII duduk di peringkat ke-6 foreign net
sell. Adapun sektor komoditas, agrikultur, mencatat pelemahan yang lebih
kecil dibandingkan IHSG sekaligus pelemahan terkecil dari keseluruhan sektor
'intraday'.

'Panic selling' yang sempat tercetus pada setengah perdagangan sesi pertama,
didorong dengan peningkatan 'spread' USD/IDR yang mencapai puncak
volatilitas 'range' intraday hari ini hingga 4,02%. Range yang sangat lebar
untuk pergerakan mata uang.

Faktor regional terkait dengan turun naiknya tensi berita seputar penanganan
krisis utang Eropa menjadi salah satu katalis, yang melebar hingga
mempengaruhi kawasan regional Asia. Namun, khusus untuk Indonesia yang
mencatat aksi pelemahan indeks kawasan Asia terbesar, di luar indeks-indeks
negara Asia yang baru saja mengakhiri masa liburnya, faktor yang paling
dominan justru berlangsung dari pasar uang ('money market').

Pagi ini, berita beredar luas tentang rencana Bank Indonesia untuk
menurunkan tingkat suku bunga. Berita yang merupakan hasil wawancara dengan
pejabat BI kemarin sore di Gedung DPR tampaknya diangkat melampaui
proporsinya. Bank Indonesia sendiri secara resmi belum memberikan pandangan
terkait dengan rencana penurunan suku bunga ini.

Penurunan suku bunga disikapi secara instan sebagai penurunan 'return'
terhadap surat-surat berharga Pemerintah Indonesia, sebenarnya tidak
berkorelasi langsung terhadap pergerakan harga saham dan indeks. Namun,
interkonektivitas pasar obligasi dan saham, pada akhirnya akan melebarkan
pengaruh tersebut kepada volatilitas pasar saham. Adapun transaksi 'net
sell' asing tiga hari terakhir lebih kepada aktivitas relokasi/switching
penempatan ekuitas, ketimbang antisipasi terhadap penurunan suku bunga.
Sementara, lelang SUN kemarin justru mempertahankan catatan baik yang
kompetitif dan minat beli yang masih tinggi terhadap produk Pemerintah
Indonesia.

Pasar diperkirakan akan mengolah lebih lanjut rencana penurunan suku bunga
ini dalam relevansinya dengan bursa saham. Secara umum, penurunan suku bunga
baik untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, tema
global dan regional yang diwarnai dengan krisis utang Eropa dan rencana
peluncuran program stimulus ekonomi oleh beberapa negara maju harus
dicermati dengan tepat terkait dengan alokasi dan relokasi sektoral
penempatan saham.

http://www.bloomberg.com/news/2011-09-13/bank-indonesia-may-cut-rate-as-europe-crisis-threatens-growth.html

'+'

Kirim email ke