Saya malah khawatir maksud dari artikel ini yg tadinya baik, malah dibaca
secara buruk, yaitu kaya dengan tidur2an saja. LKH toh tidak mencari
informasi sembari tidur2an saja, pas beli saham mungkin saja sembari
nyusruk di depan laptop. Warren Buffet malah masuk ke manajemen perush yg
dibelinya. Tidak ada hasil yg instan bukan?

Btw, saya belakangan mempertanyakan hal ini: setelah kaya (nanti) lalu
apa? Bukankah menikmati hidup itu berlaku untuk saat ini? Jangan berpikir
nanti.. nanti.. nanti... setelah itu mati. Lebih tepatnya seperti motto
PLN sekarang: kerja, kerja, kerja. Bekerja sedemikian kerasnya, sehingga
investasi berjalan tanpa terasa lagi. Mau jungkir balik IHSG atau saham2
kek, EGP. Yg penting kerja... kerja... kerja, sampai mati. :-)


On Thu, November 3, 2011 5:45 pm, TungCuan wrote:
> Gw paling senang sama 2 prinsip Lo keng hong dalam berinvestasi di saham..
> Yaitu mencari data di lapangan langsung baik dari suplier ataupun data
> lain di lapangan.. Yang kedua adalah membeli perusahaan yang ownernya
> jujur artinya tidak ambil uang dari perusahaan sendiri.. Hanya sedikit org
> yang melakukan hal ini dalam berinvestasi.. Salut buat LKH
> Powered by IDX BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> Sender: [email protected]
> Date: Thu, 3 Nov 2011 07:29:36
> To: Saham<[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>
> Coba kalau hal beginian jgn ditanya ke perusahaannya langsung....tanya ke
> suppliernya dan yg berhubungan dengan perusahaan tersebut, bagaimana
> dengan perusahaan tersebut udah ketauan "belang"nya....lagian teman gw
> familinya org kerja di dalam sipd...pernah gw korek soal isi perusahaan
> tersebut, dia nanya ke familinya...cuman dijawab "invest di tempat lain
> masih banyak yang bagus"
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> Sender: [email protected]
> Date: Thu, 3 Nov 2011 07:32:12
> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>
> Jgn anggap remeh SIPD :)
>
> Memangnya bro ohant bisa blg ga nerapin GCG dr mana? Apa alasan bro
> ngomong begitu? :)
>
>
>
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> Sender: [email protected]
> Date: Thu, 3 Nov 2011 07:21:49
> To: Saham<[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>
> SIPD perusahaannya ga menerapkan GCG.....jadi selama managementnya masih
> itu2 aja orgnya....jangan harap deh
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: "heru" <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Thu, 3 Nov 2011 07:19:26
> To: Saham<[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>
> Ane udah hajar kanan SIPD, siapa tahu jadi next CPIN atau MBAI, tinggal
> tidur kayak LKH :))
>
> * icip2 aja
>
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: Fabianto Wangsamulya <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Wed, 2 Nov 2011 20:06:44
> To: [email protected]<[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>
> Ada artikel bagus yang saya dapat dari teman mengenai salah satu investor
> di bursa saham yang kabarnya dijuluki juga Warren Buffett Indonesia.
> Selamat membaca.
>
>
> http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1
> Sembari ongkang-ongkang kaki,
> lenggang kangkung, dan tidur pulas, Lo Kheng Hong bisa menjadi miliarder
> di pasar saham dan mengeduk gain hingga 150.000%. Itukah
> buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’?
>
> Asetnya di pasar saham
> disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia mengoleksi sejumlah saham yang
> mampu
> mencetak keuntungan investasi (capital gain) hingga ratusan, ribuan,
> bahkan
> ratusan ribu persen. Tapi, jangan bayangkan pria berusia 52 tahun ini
> punya
> karakter dan penampilan glamour, agresif, dinamis, meledak- ledak, atau
> beradrenalin tinggi.
>
> Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar,
> rendah hati, kalem, bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya
> inilah yang
> menjadikan Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham.
>
> Yang pasti,
> Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu menghasilkan
> gain
> besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa, baik saat pasar
> bearish
> maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan tipe investor yang sepanjang hari
> memelototi pergerakan harga saham atau setiap saat mencermati perkembangan
> isu,
> rumor, dan berita di lantai bursa, dengan kewaspadaan ekstra tinggi. Ia
> juga
> tidak melengkapi diri dengan handphone canggih, laptop terkini, notebook,
> iPad,
> atau perangkat paling mutakhir sejenisnya.
>
> Kheng Hong memang lebih
> memosisikan diri sebagai investor jangka panjang ketimbang investor jangka
> pendek atau trader. Mungkin, itulah sebabnya, kalangan praktisi pasar
> saham
> menjulukinya sebagai ‘Warren Buffett Indonesia’.
>
> “Investor di pasar saham
> kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham apa yang dibeli.
> Kebanyakan
> orang panik karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Semakin cepat
> panik
> seorang investor, semakin menunjukkan bahwa ia tidak tahu
apa-apa,â€&#65533; kata
> Lo
> Kheng Hong kepada wartawan Investor Daily Nurfiyasari dan Abdul Aziz serta
> pewarta foto Eko S Hilman di
> Jakarta, baru-baru ini.
>
> Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan
> menjadi investor jangka panjang dibanding menjadi trader. “Kalau
> trading,
> dapatnya receh dan bisa bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka
> panjang,
> dapat uangnya besar,â€&#65533; ujar Kheng Hong.
>
> Kematangan, kecerdasan,
> ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo Kheng Hong sebagai pemain
> saham
> sejati. Berkat itu pula ia berhasil lolos dari krisis moneter 1997- 1998,
> bahkan
> kemudian menangguk keuntungan hingga 150.000%. â€&#65533;Waktu krisis
2008, saya
> sempat
> jatuh. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya
> tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya
> meningkat
> 150.000% sampai saat ini,â€&#65533; tuturnya.
>
> Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng
> Hong hampir seluruhnya dalam bentuk saham sejumlah emiten di Bursa Efek
> Indonesia (BEI). Ia sama sekali tidak tergoda untuk mendiversifikasi
> investasinya ke instrumen lain, seperti emas, properti, atau kendaraan
> Bahkan,
> mantan kepala cabang Bank Ekonomi ini sama sekali tak tertarik untuk
> mendirikan
> perusahaan, termasuk perusahaan sekuritas.
>
> “Saya hanya punya 15% dana
> cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi krisis saya masih punya uang
> untukmembeli saham. Saya tidak bekerja, tidak punya perusahaan, tidak
> punya
> pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan seorang pun, dan tak punya
> bos.
> Hanya punya seorang sopir dan dua pembantu,â€&#65533; papar Lo Kheng
Hong yang
> sudah 22
> tahun bermain saham.
>
> Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu
> mengeduk keuntungan besar dari pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat
> pasar
> mengalami bullish, bearish, atau crash? Berikut petikan lengkap wawancara
> dengan pria yang
> mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat menyumbangkan
> kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.
>
> Kenapa Anda
> tertarik bermain saham?
> Saya tertarik bermain saham karena
> saham dapat memberikan keuntungan yang besar dan tidak capek seperti di
> sektor
> riil.
>
> Apa enaknya menjadi investor
> saham?
> Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang
> terkaya di dunia, seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan
> tidak
> percaya. Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi miskin
> karena
> bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham.
>
> Kedua, seorang
> pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak dipusingkan oleh
> urus-mengurus
> karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di perusahaan, status investor saham
> adalah
> sleeping partner, sehingga waktu luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang
> disukai.
>
> Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang
> saham, padahal yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan
> seluruh karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka
> tidak
> punya hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Memiliki
> perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak uang.
>
> Sejak kapan Anda bermain saham?
> Saya
> bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan dari
> keluarga yang
> berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat tamat SMA, saya
> belum
> punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi pegawai tata usaha di bank,
> waktu
> itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan lainnya. Kemudian saya bisa
> bekerja
> sambil kuliah. Saya pilih kampus yang murah sesuai kemampuan keuangan.
> Saat
> bekerja di bank itulah, saya mulai main saham. Saya sempat menjadi kepala
> cabang. Saya kemudian keluar dari bank dan fokus main saham.
>
> Anda saat ini punya saham apa
> saja?
> Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di
> Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih.
> Saham
> saya banyaknya bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%.
> Saya
> tipe investor jangka panjang.
>
> Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka
> panjang dapat uangnya besar. Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya
> beli
> tahun 2005 seharga Rp 250 dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum
> saya
> jual, padahal gain-nya sudah 12.600%.
>
> Cara Anda memilih
> saham?
> Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate
> governance (GCG) atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka
> tahu.
> Saya cari tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut
> harta
> saya. Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah
> pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil uang
> perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan.
>
> Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua
> manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor
> usahanya,
> bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya sepatu,
> tekstil, dan
> garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti kelapa sawit dan pakan
> ayam.
>
> Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein
> termurah dan dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding
> yang
> lain. Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan
> atau
> tidak.
>
> Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti
> apa?
> Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi
> terus, ada yang kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan
> yang
> untung besar terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang growing secara
> berkala, misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan
> seterusnya. Ini perusahaan yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya
> lima
> tahun ke belakang. Lihat masa lalunya.
>
> Bagaimana jika lima
> tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya ternyata
> turun?
> Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke
> depannya akan mengalami hal yang sama. Kalau sudah lima tahun
> berturut-turut growing, tandanya itu super company.
>
> Setelah melihat fundamental emiten, apa
> lagi yang Anda perhatikan?
> Harga. Saya lihat
> dariprice to earning ratio (PER)-nya. Jangan bilang saham
> A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya Rp
> 70.000
> dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa lebih murah
> dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan emitennya dalam
> membukukan keuntungan.
>
> Berapa PER yang ideal saat membeli
> suatu saham?
> Saya pikir, yang reasonable untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah lima
> kali, itu sangat
> menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan yang sudah baik dan
> manajemennya
> bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali.
>
> Soal timing, kapan saat yang
> paling tepat untuk masuk pasar?
> Yang paling bagus membeli
> saham adalah saat sedang krisis seperti di Yunani, Eropa, dan AS. Ada
> pepatah
> lama yang tidak perlu dilupakan,buy on weakness. Dan,
> harusbe greedy when others are fearful dan sebaliknya, be fearful when
> others
> greedy.
>
> Bukankah itu sulit
> diterapkan?
> Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett.
> Saya belajar dari orang yang sudah terbukti berhasil investasi di pasar
> saham.
> Dia sudah membuktikannya, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di
> dunia.
> Nggak mungkin kan kalau saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha,
> ha...
>
> Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak
> bisa mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua
> peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi
> kaya di
> pasar saham.
>
> Berarti, kuncinya ada di
> mental?
> Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita
> beli. Kebanyakan orang panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka
> beli. Ini
> pelajaran penting. Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard
> University,
> saya tanya biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000,
> keluar
> dari sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga US$ 40.000, kita
> bisa
> menjadi orang pintar.
>
> Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan
> miliar rupiah belum tentu jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti
> Madoff
> yang sudah menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia
> menjadi pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang
> dibeli
> turun dan yang dijual justru naik.
>
> Jadi, intinya pintar saja tidak
> cukup. Untuk menjadi investor yang kuat, kita harus mengetahui perusahaan
> satu
> per satu. Semua orang bisa seperti itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan
> keuangan emiten satu per satu.
>
> Jadi, Anda tipe investor
> fundamental?
> Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya
> atau pertumbuhan perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya
> diabaikan.
> Saya yakin itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham
> yang
> ada di bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang,
> ada
> yang terjebak.
>
> Anda tidak memantau pergerakan harga saham
> setiap saat?
> Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang
> tidak kita ketahui. Ada yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali
> atau
> 200 kali. Lalu, kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima
> kali?
>
> Bukankah investor sering terbawa arus karena
> faktor nonfundamental?
> Saya lihat investor di pasar modal
> kebanyakan ikut-ikutan. Saat market mengalami booming, semua masuk. Saat
> market buang-buang saham, mereka ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan
> dan tidak
> mengerti apa yang dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah
> berhasil
> dan ikuti langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat
> untung
> besar saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan,
> orang
> sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga mengalami
> kerugian.
>
> Anda berinvestasi pada instrument selain
> saham?
> Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di
> pasar modal. Dana tunai saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa
> saya
> sisakan segitu? Itu untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh,
> sehingga saya
> masih bisa beli saham lagi.
>
> Dari mana Anda membiayai
> kebutuhan hidup sehari-hari?
> Saya bisa hidup dari dividen
> yang saya terima. Misalnya harga saham suatu emiten yang saya beli bulan
> lalu Rp
> 610, sekarang harganya Rp 2.375, kemudian saya jual. Awalnya saya berniat
> menahannya untuk jangka panjang. Tapi kalau untungnya sudah sampai 300%
> dalam
> sebulan, saya lepas. Untuk emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk
> jangka panjang. Kalau emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan,
> lebih
> baik saya lepas.
>
> Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis
> finansial 2008, Anda mengalami kerugian juga?
> Saya sempat
> mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, tapi tetap be
> greedy when others are fearful. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya
> sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke
> saham,
> karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan, itu terbukti. Akhirnya
> uang
> saya meningkat 150.000%.
>
> Bagaimana Anda menyikapi
> perkembangan harga saham saat ini, terutama yang terkait dengan krisis
> utang di
> Eropa dan krisis finansial di AS?
> Saat IHSG terkoreksi, wajar
> saja kalau nilai portofolio saya ikut turun. Tetapi ketika turun, saya
> sama
> sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan saya membeli dan menambah saham
> saya,
> karena saya yakin satu hari saham-saham saya akan naik kembali, bahkan
> dapat
> lebih tinggi dari sebelumnya.
>
> Apa filosofi hidup
> Anda?
> Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa
> menjadi kaya sambil tidur. Karena di perusahaan status saya adalah
> sleeping
> partner, saya tidur tetapi saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya
> secara
> dahsyat. Getting rich while sleeping. Saya pakai waktu
> saya delapan jam untuk tidur, selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang
> dan
> mengerjakan apa yang saya sukai.
>  
> ---
> Fabianto
>


-- 
Tertanda,
Oguds [960000031]



------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN MILIS. 
SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. 
SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU 
PEMILIK MODAL.

[email protected] untuk berhenti dari milis saham
[email protected] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke