*Krisis Eropa Berdampak Sistemik*

*Detik.com, Jakarta* - Krisis utang di Eropa berdampak sistemik, termasuk
juga ke Indonesia. Dalam jangka panjang jika krisis utang Eropa memburuk
sehingga terjadi resesi global, dampaknya bisa lebih luas tak hanya
investasi tapi juga ke jalur perdagangan.

"Krisis Eropa dampaknya global/sistemik, sehingga ada dampaknya juga ke
Indonesia," jelas Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat
Waluyanto kepada *detikFinance,* Kamis (17/11/2011).

Rahmat mengatakan, persepsi pasar terjadinya *default* atau gagal bayar
dari negara-negara Eropa seperti Yunani dan Italia akan menyebabkan
kerugian bagi investor ataupun perbankan asing yang memegang surat utang
Indonesia (Indo Bond).

"Jadi bisa saja mereka menjual Indo Bond untuk menutup kerugian di Eropa.
Jangka pendek-menengah, dampaknya tidak signifikan karena masih ada *net
capital inflows* karena investor global masih likuid dan masuk Indonesia
untuk menghindari Eropa yang krisis dan imbal hassil US yang rendah," ujar
Rahmat.

"Tapi jangka panjang, jika krisis memburuk sehingga terjadi resesi global,
dampaknya lebih besar karena transmisinya juga melalui jalur perdagangan
(ekspor-impor selain jalur investasi portofolio," tambahnya.

Krisis di Eropa belum juga surut. Dalam beberapa hari terakhir, tingkat
imbal hasil surat utang Eropa terus meningkat. Bahkan yield surat utang
Italia berjangka waktu 10 tahun sempat menembus 7%, yang menyamai level
imbal hasil surat utang negara-negara yang membutuhkan bailout. Dengan
lonjakan yield Italia itu, maka jumlah utang yang sebesar 1,8 triliun euro
itu menjadi semakin mahal.

Sementara tingkat Country Default Swap (CDS) Indonesia juga ikut kena
dampak krisis Eropa, dan mengalami kenaikan sekitar 2-5 basis poin.

Kirim email ke