Lho bukannya Bapak TNK dari kemarin2 rekomen utk buy PNLF.
Apa sekarang rekomendasi berubah haluan?

Thanks,
2011/11/30 Tong Nyang Kong <[email protected]>

> **
>
>
>  net profit pnlf itu berasal dari laba yang diatribusikan dari Bank
> Panin, mengingat kepemilikan PNLF di Bank Panin cuma mencapai sekitar 46%
> (langsung dan tidak langsung) sehingga PNLF hanya bisa mencatat laporan
> keuangan PNBN lewat metode ekuitas. Kalau soal keuntungan yang menjadi cash
> tergantung besaran deviden yang dibayarkan dari masing2 anak perusahaan.
> Jika PNLF menerapkan kebijakan seperti yang diterapkan Temasek yang tidak
> mau tahu setiap anak perusahaan wajib menyetor deviden kas kepada induk
> usaha, maka Bank Panin dan entitas anak lainnya juga akan mengikuti. Kalau
> soal ekspansi butuh modal bisa dimintakan kembali seperti yang sudah
> dilakukan oleh BDMN dan UNTR. Dalam aksi korporasi tersebut Temasek lewat
> berbagai entitas anaknya selalu bertindak sbg standby buyer.
>
> Deviden adalah mutlak untuk mengenal struktur keuangan perusahaan yang
> sehat, jangan pernah mau dikibulin oleh laporan keuangan yang fantastik
> tapi tidak pernah membayarkan deviden. Jangan mau melihat perusahaan yang
> dibilang maju dan terus ekspansi namun pemegang sahamnya tetap gembel,
> perusahaan dan pemegang saham adalah mitra yang perlu tumbuh berkembang
> bersama. Perusahaan boleh dan tumbuh cepat namun kemakmuran pertumbuhan
> perusahaan juga harus dinikmati bersama pemegang sahamnya.
>
> Jadilah emiten bertanggung jawab, bukan seenaknya jual saja saham jika
> tidak menyukai saham perusahaan tertentu. Itu adalah pemikiran keliru
> seperti halnya menghujat negara, tapi dijawab pergi saja jadi warga negara
> lain. Jadilah introspeksi diri, semua ada karena tarik menarik berhubungan.
> Jangan takabur hidup sendiri dengan aturan sendiri, dunia ini butuh
> kebersamaan dan saling mengisi. Itu adalah tipikal pemikiran pemimpin
> otoriter sesat yang sudah ketinggalan jaman spt terjadi pd para pemimpin
> timur tengah (tapi jangan dibahas soal politik di milis saham).
>
>
> Salam,
>
> ttd.
>
>
> Tong Nyang Kong
>
>
> ---------- NOTE : MAAF tidak menerima pesan lewat chatting ----------
> ---- semua pesan harus diberi judul dan kenal dari mana agar lebih --
> - diprioritaskan untuk dibaca, tapi itupun tidak ada jaminan dibaca -
>  ------------------------------
> *Dari:* Barney & Friends <[email protected]>
> *Kepada:* [email protected]
> *Dikirim:* Rabu, 30 November 2011 17:48
> *Judul:* Re: [saham] Re: Harga Wajar VS Harga Riil
>
>
> Logikanya kalau owner pegang porsi saham dalam jumlah besar mestinya sih
> bagi deviden besar juga biar bisa kasih return besar ke si owner.
> Dgn catatan nggak ada program ekspansi, akuisisi, dll.
> Tapi case PNLF aneh ya, nggak tahu net profit nya buat apa. Mesti lihat
> lapkeu nya duit itu dibuat apa kok nggak jadi deviden.
>
> Thanks,
> 2011/11/30 Hendrik Limbono <[email protected]>
>
> **
>
>   stuju pak, Bapapem  sih ada bikin UU nya
>  Perusahaan wajib bayar dividen tapi saya lupa gimana persisnya
>
> kalau perusahaan JARANG byaar dividen ada pOTENSI labanya cuman akal2an..
> tapi gak selalu...
>
> Bener pak, semua tergantung timeframe pribadi...
> kalau PNLF saya kira time frame minimal harus 2-5 tahun..
> sapa tau di tengah jalan dia bagikan semua  laba yang dia kumpulkan
> (retained earning) selama 5 tau terakhir,
> bisa kaya mendadak anda,hehe..
>
> =======================================
> bei5000.com
>  ------------------------------
> *From:* tongnyangkong <[email protected]>
>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Wednesday, November 30, 2011 11:32 AM
> *Subject:* [saham] Re: Harga Wajar VS Harga Riil
>
>
>  Kalau cuma deviden saya kira itu agak dilematis namun saya sangat setuju
> bahkan bila perlu dikeluarkan suatu surat edaran atau undang2 yang
> mewajibkan deviden perusahaan dibayarkan setiap tahun dengan angka minimal
> sekian persen bukan lagi tergantung RUPS.
>
> Bagi saya yang paling utama soal deviden adalah konsistensi pertumbuhan
> perusahaan sejalan dengan pertumbuhan hidup pemegang sahamnya, jangan
> perusahaan bertambah jaya sementara pemegang sahamnya harus terus ikat
> pinggang kencang krn tidak dibayarkan deviden.
>
> Dan yang paling utama adalah kebenaran akan laporan keuangan, otoritas
> pasar modal dan otoritas pajak harus lebih extra pada perusahaan yang tidak
> pernah bagi deviden atau membagikan deviden sangat jarang dan kecil,
> padahal dikatakan perusahaan tumbuh berkembang terus.
>
> Rekayasa laporan keuangan dan akhirnya berujung bangkrutnya perusahaan
> kalau boleh saya bilang banyak terjadi pada perusahaan yang jarang atau
> hampir tidak pernah membayar deviden walaupun saya tidak menuduh semua
> perusahaan yg tidak bayar deviden curang, tetapi celah tersebut menurut
> saya banyak digunakan pihak "nakal" untuk merekayasa laporan keuangan,
> sampai pernah saya baca "laporan keuangan bisa direkayasa, namun deviden
> kas tidak atau sangat sulit direkayasa".
>
> Kembali ke soal harga wajar dengan harga riil, menurut saya itu cuma
> masalah waktu. Barang bagus pasti akan kembali ke harga wajar meski
> menunggunya terasa menyebalkan. Saya sudah pernah dan sering mengalaminya,
> saham dengan PER dan growth tinggi bukankah jaminan ke depan pasti akan
> demikian adanya, namun satu hal yang pasti bagi saya, saya tidak mau
> membayar risk atas kegagalan growth tinggi. Contoh yang pernah terjadi pada
> PGAS sekitar tahun 2005 atau 2006 sewaktu autorejection down atas proyeksi
> delaynya SSWJ walaupun akhirnya bisa tercapai dengan sedikit delay. Pada
> saat itu PER PGAS sekitar 40-50x dan terkoreksi hingga setengahnya padahal
> saham lainnya tidak mengalami hal serupa.
>
> Perdebatan soal harga wajar dan riil sudah lama terjadi bahkan sepertinya
> sudah jauh lama terjadi di wallstreet termasuk yang pernah di alami oleh
> YM. Warren Buffet, alhasil hari ini YM. Warren Buffet tercatat masih
> menjadi no. 2 terkaya menurut Forbes padahal harusnya para fund atau orang
> yang memperdebatkannya bisa lebih kaya krn menurut mereka cara YM. Warren
> Buffet salah.
>
>  --- In [email protected], Hendrik Limbono <hendrik_lwww@...> wrote:
> >
> > Ada perbedaan yang cukup besar antara harga wajar dengan harga riil...
> > atau gampangnya, :
> >
> > Kenapa sih ada saham yang dihargai dengan PBV3x dan ada yang hanya mampu
> dihargai dengan PBV 1x,
> > atau kenapa ada saham yang PE cuman 3x tapi gak naik2, tapi ada juga
> saham yang PE30x tapi naik terus ???
> >
> > Pada dasarnya udah aja, saham bisa dihargai mahal karena ada yang mau
> beli lebih mahal lagi
> > dan saham udah murah bisa makin murah, karena gak ada yang mau beli
> mahal, pada mau beli lebih murah lagi
> >
> > atau bisa aja mahal karena lagi fase distribusi bandar
> > dan murah bisa karena faktor akumulasi bandar,
> > tapi masalah bandar2an saya mundur deh, saya gak tau bandar geraknya
> seperti apa...
> >
> > Dan kenapa kok suatu saham bisa dibeli dengan harga mahal??
> > beberapa alsan :
> > 1. Bagi dividen
> > 2. Secara TA trend nya Bullish
> > 3. prospek ke depannya bagus
> > 4. Manajemen punya kebijakan menjaga harga saham misal dengan aksi
> buyback saham, dividen dan Corporate Action lainnya
> > 5. Ada isu akuisisi dll..
> >
> > Jadi perusahaan bisa dihargai mahal bukan hanya sekedar dari
> fundamentalnya bagus, ini hanya salah satu faktor saja
> > namun ada juga faktor lain, yaitu faktor kebijakan emiten dalam menjaga
> harga saham dan juga faktor optimisme pelaku
> > pasar akan prospek masa depan perusahaan
> >
> > maknaya saya agak alergi sama saham yang TERLALU murah, karena bisa jadi
> murahan...
> > tapi uga gak suka yang semahal UNVR, karena potensi gainnya tidak
> seberapa
> > saya sukanya yang menengah PER Range antara 7-11 buat dijual di PE 15x
> >
> > dan memeng trend TA lagi naik..simpel aja..
> >
> > =======================================
> > bei5000.com
> >
>
>
>
>
>
>
>  
>

Kirim email ke