Tambah satu lagi Tekun On Dec 6, 2011 4:44 PM, "sem susilo" <[email protected]> wrote:
> ** > > > Banyak orang berasumsi bahwa mayoritas pemain di bursa saham Indonesia > adalah *trader* dan spekulan (*short-term*). Pertanyaannya, adakah pemain > di bursa saham kita yang benar-benar investor fundamental (*long-term*)? > Sebenarnya beberapa pemain kelas kakap di negeri ini. Yang cukup besar dan > menggurita mungkin bisa disebut Hary Tanoesoedibjo (MNC group) dan James > Riady (Lippo group). Ada juga Danny Tanoto yang membandari Central > Korporindo Internasional (CNKO) atau Benny Tjokro yang menjaga Mitra > Adiperkasa (MAPI). Keduanya masih terafiliasi. Benny sendiri dulunya adalah > putera mahkota dari Pemilik Batik Keris di Solo. Benny Tjokro juga ada > kepemilikan di Rukun Rajarja (RAJA). > Berikutnya, ada Eddy Kusnadi Sariaatmadja yang merupakan eksekutif di PP > London Sumatera Indonesia (LSIP), yang juga pemilik Elang Mahkota Teknologi > (EMTK) dan Surya Citra Media (SCMA). Nama lain yang juga sering muncul > adalah Edy Suwarno, yang berada di belakang Delta Dunia Makmur (DOID) dan > Pan Brothers (PBRX). Ada juga nama Benny Wirawansa yang membidani > pergantian pemilik BUMA dari PT. Texta Indonesia ke Northstar. Benny > Wirawansa juga ada di belakang DOID dan Bumi Teknokultura Unggul (BTEK). > Nama lain yang juga > cukup dikenal adalah Prem Harjani dari Renaissance Capital. Sayangnya, > nama-nama tersebut di atas belum bisa disebut sebagai investor jangka > panjang. > Tapi ada dua nama yang cukup menarik perhatian saya: Surono Subekti dan Lo > Kheng Hong. > Surono Subekti adalah orang di balik Multi Indocitra (MICE). Ia melakukan > pembelian di harga rata-rata Rp 110-180 per lembar lewat broker Bhakti > Sekuritas (EP). Surono Subekti adalah tipikal investor fundamental sejati. > Dia berani masuk sekalipun tidak ada berita atau *corporate action*. > Selain MICE, Surono Subekti juga memiliki Asuransi Multi Artha Guna (AMAG) > dalam jumlah besar. Beliau ini lulusan Akuntansi UNAIR, pernah bekerja di > Bentoel dan Unilever, namun sekarang menjadi dosen dan juga menulis buku. > Tapi yang mungkin paling bisa disebut sebagai Warren Buffett-nya Indonesia > adalah Lo Kheng Hong. Kakek ini mudah dikenali karena sering hadir pada > RUPS/annual meeting dengan mengenakan *tracktop* atau *varsity jacket* warna > merah marun khas Berkshire Hathaway. Orang yang mengenakan *tracktop*/* > jacket* tersebut hanya orang-orang yang sudah lama memegang saham > Berkshire Hathaway (BRK) dan langganan hadir di *annual meeting*-nya di > Omaha. > Kakek Lo Kheng Hong ini kabarnya punya sekitar 200 ribu lot saham AMAG di > harga beli sekitar Rp 80 per saham. Selain itu, nama kakek ini juga sering > muncul sebagai pemegang saham yang cukup besar di saham-saham lain seperti > Gajah Tunggal (GJTL), Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI), dan beberapa > lagi lainnya. *Wisdom* dan *insight*kakek ini sungguh sangat berharga. > Anda bisa melihat dari pertanyaan-pertanyaan yang beliau ajukan ketika > hadir di RUPS. > Biarpun tidak mengenal dua nama terakhir tersebut secara pribadi, menurut > saya, ada beberapa hal menarik yang bisa kita pelajari bersama. Pertama, > menjadi investor jangka panjang perlu memahami potensi ekonomi, industri, > dan kebijakan politik terkait dengan industri tersebut. Kedua, kita perlu > menemukan perusahaan yang terbaik di bidang industrinya dengan valuasi yang > relatif murah dibandingkan perusahaan sejenis namun dengan potensi > pertumbuhan yang tinggi. > Berikutnya, kita perlu menentukan siklus pergerakan harga saham untuk > menilai kapan waktu yang tepat untuk masuk dan keluar. Tak kalah penting, > investor fundamental juga perlu kesabaran tingkat tinggi hingga saham yang > dimilikinya akan ter-*unlock* dan melejit ke harga yang “seharusnya.” > Dalam konteks ini, kita perlu tidak bicara bulanan atau tahunan, melainkan > bisa belasan atau bahkan puluhan tahun. > Akhir kata, berinvestasilah sejak dini supaya Anda bisa memanfaatkan > *compounding > power* secara maksimal. Kedua, kalau Anda tidak mahir menentukan > siklus/gelombang, maka gunakanlah metode sederhana *dollar cost averaging* > dalam > berinvestasi. > Sumber : http://nofieiman.com/warren-buffett-ala-indonesia/ > > http://sahampemenang.blogspot.com/2011/12/debt-to-gdp-euro-area.html > http://sahampemenang.blogspot.com/2011/12/debt-to-gdp-southeast-asia.html > http://sahampemenang.blogspot.com/2011/12/indonesia-gov-debt-to-gdp.html > > @sahampemenang > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >
