kalo saya setuju dengan statement yang  Pak Yhoji nih..

2011/12/9 Yhoji Gambler <[email protected]>

> **
>
>
> ** Kalo saya kebalik pak, berkaca kebawah memotivasi saya utk bekerja
> lebih keras supaya nasib saya lebih baik dari yang dibawah.
>
> Berkaca keatas memotivasi saya utk bekerja lebih keras agar saya bisa
> melebihi mereka yang ada diatas diatas saya.
>
> Regard's
> Yhoji®
>
> It's okay to disagree. But do it elegantly, with manners.
>
> In Greed We Trust™
> Don't follow me coz I don't know where
> I'm going™
>
> Powered by FA (Feeling Analysis)
> ------------------------------
> *From: * HY <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Thu, 8 Dec 2011 21:05:44 -0800 (PST)
> *To: *[email protected]<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *Re: [saham] Lupakan harapan untung bagi trader di IHSG... :)
>
>
>
> Lihat kenyataannya bung...
>
> Apakah perbandingan nilai rupiah terhadap dollar telah kembali ke 2000 /
> 5000 ?
> Apakah hal tersebut bisa dibilang bahwa Indonesia jadi semakin baik ?
> Lihat harga2 kebutuhan pokok, harga semakin naik... nilai valuasi rupiah
> semakin turun.
>
> Contoh :
> Th. 1997 berapa biaya masuk kuliah ? Bandingkan dengan sekarang ?
> Th. 1997 berapa harga beras per liter ? Bandingkan dengan sekarang ?
>
> Apakah ada artinya nilai salary pekerja dibandingkan dengan besarnya nilai
> kebutuhan hidup dari dulu hingga sekarang ?
> Valuasi kenaikan barang2 kebutuhan pokok tidak sebanding dengan valuasi
> salary pekerja/pegawai.
>
> Berkacalah ke bawah... banyak rakyat semakin menderita terutama golongan
> bawah.
>
> Jika anda berkaca ke atas pastilah anda berpendapat lain, bahwa hidup ini
> semakin enak.
>
> Coba lihat bangsa kita di pedalaman, sudahkan mereka hidup layak ?
> sudahkah pembangunan adil dan merata ?
> Bila jawaban anda ya ... itu bohong besar.
>
> Yang ada yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin, kenapa ?
> Karena yang kaya hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan
> saudara2nya yang masih dalam kondisi menderita.
>
> Belum lama ada tayangan stasiun TV... di daerah Banten yang jaraknya
> sangat dekat dengan Jakarta sebagai Ibukota negara
> masih belum terjamah Listrik, Air Bersih, Sekolah Dasar gratis, dll.
>
> Bukalah sekali2 mata hati anda.
>
> " Hidupmu adalah Imajinasimu "
>
>   ------------------------------
> *From:* positif01 <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Friday, December 9, 2011 10:18 AM
> *Subject:* Re: [saham] Lupakan harapan untung bagi trader di IHSG... :)
>
>
> Pernyataan-pernyataan ini menarik karena bisa dijadikan ajang refleksi
> untuk mengukur kelayakan menjadi investor/trader profesional atau hanya
> kelas amatir. Kalau penulisnya 'newbie' tentu akan dimaklumi.
>
> Poin pernyataan: Bangkitlah bangsaku jangan biarkan pelaku pasar asing
> menjatuhkan pasar kita. Bodoh kalau pelaku pasar domestik ikut menjatuhkan
> harga saham-saham. Jangan mau dibodohi asing.
>
> Respon pertama: tersenyum geli dahulu.
> Respon berikut: mencerna
> Respon selanjutnya: menanggapi rasional
>
> 1) Biasanya pernyataan klise seperti itu keluar ketika saham/indeks
> bergerak turun. Lucu dan ironisnya, sejak IHSG berada di level 200
> pasca-krisis Asia kemudian tertekan kembali krisis finansial global, hingga
> saat ini IHSG di level 4.000 yang berarti naik lebih dari 1.000%, kondisi
> itu bisa terjadi berkat siapa? KSEI selaku otoritas kustodian saham
> Indonesia menyatakan bahwa kepemilikan asing terhadap ekuitas Indonesia
> 65%. So, tidak mungkin sisa 35% yang mendorong kenaikan fantastis tersebut
> ya.
>
> 2). Lebih bodoh mana, investor domestik yang ikut melepas porto aset
> domestiknya, atau investor asing yang memilih menanamkan dana di pasar di
> luar negaranya? Logika pernyataan klise semestinya investor asing itu yang
> lebih bodoh, dan lebih kejamnya lagi tidak nasionalis. Kenyataannya, apakah
> benar mereka bodoh, atau siapa yang sebenarnya lebih bodoh?
>
> 3) Kalau investor asing itu "pintar" menurut logika klise itu, justru Anda
> yang menyesal karena tidak ada yang membantu kenaikan pasar domestik Anda,
> bukan?
>
> Jadi, permasalahannya bukan nasionalisme atau tidaknya investor, tetapi
> apakah posisi porto Anda naik atau turun. Ketika turun maka frustrasi yang
> ditumpahkan kepada pasar yang tidak bisa dilawan itu, paling mudah dengan
> membawa-bawa bendera nasionalisme.
>
> Sampai di sini, mudah mengukur level dan kualitas pola pikir dan mental
> traders/investors, sejauhmana Anda sering mengacu kepada nasionalisme,
> ketimbang mengacu kepada pasar dan berteman dengan pasar.
>
> Trader/investor profesional mengacu kepada yang terakhir, pasar. Karena
> nilai uang tidak memiliki kewarganegaraan, mata uang yang memiliki
> kebangsaan, dan pelaku pasar hanya perduli kepada nilai atau 'value'.
>
> '+'
>
> 2011/12/9 HY <[email protected]>
>
> **
>
>  Kan sudah dibilang....
> Ada moment naik ragu2... giliran mau turun baru semangat buat naik... :)
> Nanti perbandingannya bursa amerika dan eropa stabil... balik ke 100%
> Nah Indonesia tinggal 50%... Jadi skenario dibuat untuk menjatuhkan nilai
> bursa Asia... terutama Indonesia.
>
> Karena mereka menilai perkembangan ekonomi Indonesia cukup baik dan
> pesat... mereka mau memiliki.
> Tapi apa mereka mau beli di harga yang sudah tinggi ? NO WAY... mereka
> akan bikin anjlok serendah-rendahnya untuk mereka borong.
>
> Bagaimana ? Apakah kita masih mau dibodohi dengan ikut menjatuhkan harga2
> saham perusahaan nasional kita ?
> Be Smart... Indonesia bukan bangsa yang bodohkan ?
> Jadi stop cutloss jangan jual rendah pertahankan portfolio anda. jual
> semahal-mahalnya... agar mereka tidak bisa beli...
> Jika mereka nekad beli... otomatis harga saham kita akan semakin melaju
> tinggi.
>
> Itu baru namanya mencari laba sekaligus memajukan nilai perusahaan2 dalam
> negeri dimata dunia.
>
>
> " Hidupmu adalah Imajinasimu "
>
>
>
>
> --
> Follow positif01indo on Twitter: https://twitter.com/#!/positif01indo
>
>
>    
>

Kirim email ke