Mantab sis....! Hari ini asing mulai nett buy, setelah seminggu lebih nett sell terus...
Kayaknya jadi nih sinterlkas dateng...ho...ho...ho Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: sinta sari <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 16 Dec 2011 09:13:57 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [saham] Raih Investment Grade, RI Bisa Raup Tambahan Investasi Rp 81 Triliun Yang bilang begini bukan orang sembarangan lho. Yg ngomong ini Mendag dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, yg dulu juga pernah menjabat Presiden Direktur JP Morgan Indobesia. Beliau ini konon juga salah seorang Menteri terkaya di Indonesia. Welcome IHSG 5.000…. Raih Investment Grade, RI Bisa Raup Tambahan Investasi Rp 81 Triliun *Suhendra* - detikFinance *Share*<http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Ffinance.detik.com%2Fread%2F2011%2F12%2F16%2F080919%2F1792492%2F4%2Fraih-investment-grade-ri-bisa-raup-tambahan-investasi-rp-81-triliun%3Ff9911013&t=detik%20Finance%20%3A%20Raih%20Investment%20Grade%2C%20RI%20Bisa%20Raup%20Tambahan%20Investasi%20Rp%2081%20Triliun&src=sp> * Jakarta* - Menyandang status investment grade pastinya banyak memberikan keuntungan bagi Indonesia. Salah satunya adalah tingkat investasi yang akan meningkat tajam sehingga secara langsung akan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Sewajarnya, kenaikan peringkat ini akan meningkatkan FDI (foreign direct investment) sebesar kurang lebih 1 persen dari PDB atau US$ 9 miliar sebagai kenaikannya saja diatas level semestinya," kata Mendag dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan kepada *detikFinance,* Kamis malam (15/12/2011). Menurut Gita banyak hal yang positif dari kenaikan peringkat ini, walaupun ia mengakui pengakuan ini dinilai sedikit terlambat. Harusnya Indonesia sudah merah ini lebih cepat dari sekarang. Menurut beberapa sumber, sejumlah negara yang memiliki predikat investment grade mengalami kemajuan pesat, yakni: *1. China* § Investment grade 7 Desember 1992 § Modal asing naik dari US$ 11,1 miliar di 1992 menjadi US$ 27,5 miliar di 1993 § Cadangan devisa naik dari US$ 24,8 miliar di 1992 ke US$ 57,8 miliar di 1994 § Indeks saham naik dari 780,39 di 1992 ke 833,80 di 1994. *2. Rusia* § Investment grade 15 Desember 2005 § Modal asing naik dari US$ 12,9 miliar di 2005 menjadi US$ 29,7 miliar di 2006. § Cadangan devisa naik dari US$ 182 miliar di 2005 ke US$ 303,8 miliar di 2006. § Indeks saham naik dari 1.125,60 di 2005 ke 1.921,92 di 2006. Sementara itu, pemiliki Bosowa Grup Erwin Aksa mengatakan meski ia menyambut baik perubahan peringkat ini, namun Erwin mengingatkan agar pemerintah tak terbuai dari kenaikan peringkat ini. Menurutnya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. "Namun juga pemerintah jangan terlena akan hal ini, karena yang paling penting pemerintah harus mampu mentransfer capital inflow yang masuk ke investasi sektor riil. Karena pasti dampak akan rating ini akan banyak dana yg masuk ke Indonesia," katanya. Dikatakan Erwin, kenaikan status itu tidak cukup untuk benar-benar merealisasikan dampak positif dari investment grade. Pekerjaan rumah antaralain hambatan-hambatan seperti infrastruktur harus segera dibenahi. "Selanjutnya kedepan harus dibuktikan bahwa ekonomi Indonesia semakin baik caranya harus mehilangkan bottlenecking investasi seperti mempercepat pembangunan infrastruktur konektivitas," ujar Erwin. Seperti diketahui, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings telah menaikkan<http://finance.detik.com/read/2011/12/15/180910/1792252/4/rasio-utang-rendah-dan-ekonomi-membaik-indonesia-naik-peringkat?f9911013> peringkat Indonesia ke level 'Investment Grade' yang berarti setara dengan sejumlah negara-negara maju. Fitch dalam keterangannya menjelaskan telah menaikkan Long-Term Foreign- and Local-Currency Issuer Default Ratings (IDR) Indonesia menjadi 'BBB-' dari 'BB+' dengan outlook atas kedua peringkat tersebut Stabil. Country Ceiling dinaikkan menjadi 'BBB", dan Short-Term Foreign-Currency IDR dinaikkan menjadi to 'F3'. "Kenaikan peringkat ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan resilien, rasio utang publik yang rendah dan terus menurun, likuiditas eksternal yang menguat, dan kerangka kebijakan makro yang hati-hati", kata Philip McNicholas, Director group Fitch's Asia-Pacific Sovereign Ratings dalam siaran persnya, Kamis (15/12/2011). *(hen/qom)*
