*What to Expect: Volatility Ahead dan Peran TLKM* Jumat ini, 20 Januari, hari perdagangan bursa memasuki H-1 atau hari perdagangan terakhir sebelum libur Imlek pada Senin depan. Sejumlah catatan *traders* yang masuk pada kami mengisyaratkan antisipasi terhadap lonjakan volatilitas di tengah potensi minimnya perdagangan selama minggu depan. Pembicaraan hangat seputar volatilitas, banyak merujuk kepada indikator Volatilitas S&P 500 di CBOE yang biasa disingkat VIX dan menjadi tolak ukur kekhawatiran pelaku pasar.
Sentralnya peran dinamika pergerakan ekuitas AS sebagai penentu laju dan arah mayoritas ekuitas global, meningkatkan bobot pengaruh VIX terhadap bursa saham global. Dalam Grafik 1 di bawah tampak VIX telah membentuk pola *bearish falling wedge* sejak Agustus tahun lalu. Mengerucutnya VIX memberikan peluang terjadinya pembalikan arah ke atas, yang umumnya diikuti dengan pergerakan indeks saham ke arah sebaliknya. Dengan level VIX yang sudah cukup rendah saat ini di 19.87, peluang *breakout* ke atas dapat mencapai setidak-tidaknya level 25. Kenaikan ini akan menjadi pondasi * pull-back* ekuitas ke depan. Tentu, pola *falling wedge* yang sama bisa saja berakhir dengan konsolidasi *sideways* pada level terbawah 17.5 yang berimplikasi terhadap *pull-back* terbatas. *Grafik 1*: VIX - bearish falling wedge [image: Picture] *TLKM: Volatility play Indo?* Imbas dari potensi *breakout* VIX yang akan menyeret bursa saham global melalui *pull-back* dari level resisten saat ini tentu juga tidak akan mengecualikan IHSG dan saham-saham konstituennya. Naiknya volatilitas dalam konteks yang negatif, tentu selain menjadi ancaman jangka pendek bagi kelompok saham yang memiliki korelasi tinggi terhadap IHSG, di sisi lain membuka potensi bagi saham yang memiliki korelasi rendah terhadap IHSG untuk tidak "ikut-ikutan" terperosok dan sebaliknya memanfaatkan momentum untuk bergerak melawan arus atau paling tidak bertahan menjadi *safe-haven*. Saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TLKM) selain memiliki angka korelasi dan beta yang relatif rendah terhadap IHSG juga secara teknikal dipandang berada pada *range support* yang cukup kuat. Berlalunya sentimen * bearish* berat *US downgrade* dan klimaks ketegangan Eropa pada awal kuartal 3 lalu, diikuti dengan *bottoming* yang mendiskon tekanan terhadap laporan keuangan kuartal 4-2011 yang masih akan datang, menjadikan * bottoming* kali ini kurang justifikasi fundamental yang kuat selain sejumlah *short-sellers* sedang mempersiapkan posisi *covering* (lihat Grafik 2). *Grafik 2*: TLKM *priced-in everything, what else could be worse*? [image: Picture] *Fundamental TLKM* Daiwa Securities menjadi sekuritas asing papan atas yang paling terkini mengeluarkan *update* riset terhadap sektor telekomunikasi Indonesia pada 16 Januari lalu (terima kasih Rama untuk *forward*-nya). Dalam konklusi risetnya yang berjudul "Data Services main focus for 2012<https://docs.google.com/open?id=0B-dIEQ1qm2V1ODc5MjM2OWQtOTFiYy00ZjI1LTk1M2MtM2I0MmY2ZTVlN2Ex>", Daiwa menjelaskan mengapa mereka tetap *bullish* terhadap prospek harga saham *telco* Indonesia pasca pertemuan dengan tiga emiten telco papan atas: 1) valuasi yang menggoda karena harga-harga saham *telco* Indonesia yang sudah terkoreksi; 2) kompetisi yang stabil (untuk tiga operator teratas yang menguasai 90% pendapatan industri), khususnya untuk segmen layanan suara/SMS; 3) regulasi SMS premium meskipun menjadi *negative surprise*, dianggap tidak eksesif dan secara bisnis masih dapat ditoleransi; 4) kemungkinan implementasi skema interkoneksi SMS akan condong memarjinalisasi sejumlah operator kecil, yang pada akhirnya akan mendorong konsolidasi industri; 5) potensi permintaan layanan data yang sangat besar dan menjanjikan. Ringkasnya tekanan eksternal terhadap sektoral maupun spesifik emiten seperti TLKM dipandang sudah *priced-in* pada level harga saat ini. *Teknikal TLKM* Grafik 3 di bawah secara kasat mata menunjukkan terbentuknya *divergence* sejak paruh kedua Desember 201. Jika fakta sejarah *divergence* dijadikan acuan maka sebagaimana lazimnya probabilitas akurasi *divergence* sebagai *leading indicator* yang jarang terjadi dan sangat diandalkan dalam memproyeksikan pergerakan harga ke depan maka preseden *divergence* pada Juli 2011 lalu mendorong sejumlah *traders* mengambil *risk-on trade long dengan probabilitas di atas 90%*. *Grafik 3*: *TLKM on apparent divergence* [image: Picture] *Short-selling TLKM* Hanya tinggal satu faktor yang menjadi penahan laju harga TLKM ke depan, yaitu persiapan *short-covering* beberapa *traders* dari sejumlah *brokerage houses*. Namun menimbang fakta dan prospek fundamental serta teknikal di atas, waktu yang tersedia bagi *short-sellers* di tengah topangan proyeksi positif *mid-term* ekuitas lokal dan global, menjadi sangat terbatas. Tidak hanya karena TLKM sudah berada pada *bottom mid/long-term*-nya, tetapi juga fakta *net selling* yang mengindikasikan *short-sellers* berbendera asing pada Grafik 4 di bawah berdasarkan preseden *timing* dan rujukan pola masa lalu, sudah berada pada area jenuh distribusi. Kami sebelumnya merilis perihal distribusi asing terhadap TLKMi pada 21 Desember lalu. *Grafik 4*: *Net selling asing-exhausted eventually* [image: Picture] -- '+' Follow positif01indo on Twitter: https://twitter.com/#!/positif01indo Persetujuan *request followers* baru diberikan hanya satu kali tiap akhir kuartal maks 500 *request */ diskresi kami.
