Kalo liat trx nya *Deutsche Bank* (DB) 3 bulan trakhir, banyak nyangkut tuhh :))
On Wed, Mar 21, 2012 at 1:03 PM, positif01 <[email protected]> wrote: > > > Sebagaimana muncul dalam *sub-heading* "*Background* Ekuitas Domestik > Indonesia Pertengahan Maret" dalam *tweet* kami Senin, 19 Maret, yang > berjudul: "Harum Energy (HRUM) *Roadshow Goes to Europe* Minggu Ini *by* > Goldman > Sachs" (http://tinyurl.com/6mwjcym), disebutkan: > > "Meredanya euforia yang diimpor dari dinamika ekuitas AS dua minggu > pertama Maret, membantu mayoritas pelaku pasar untuk memetakan kembali > secara lebih jernih kekuatan dan kelemahan sektoral pasar. Berikut adalah > *key points* sepanjang minggu lalu yang akan menjadi catatan tersendiri > bagi IHSG mengakhiri bulan Maret. *Key points* berikut akan dijelaskan > lebih lanjut dalam *post* individual berikutnya." > > Di antaranya adalah proyeksi dan ekspektasi pasar terhadap inflasi yang > akan berdampak terhadap akurasi *stock pick* pelaku pasar. Dan, > pertanyaan besar yang hinggap pada benak pikiran pelaku pasar: "Bagaimana > saya harus menyikapi inflasi sebagai ekses kenaikan BBM kali ini?" > > Jawabannya berdasarkan edisi riset terbaru Maret dalam *Asia Economics > Special*, salah satu lembaga riset dan pialang sekuritas terkemuka dunia > Deutsche Bank, dengan tegas menyatakan bahwa inflasi Indonesia kali ini > jelas berbeda dengan acuan historikal inflasi kenaikan BBM dua episode > sebelumnya (2005 & 2008).Terlebih dibandingkan dengan aksi moneter pada dua > episode sebelumnya, kali ini Pemerintah RI relatif lamban dan membiarkan > terlalu lama dalam menyikapi kesenjangan harga yang telah terjadi antara > BBM lokal dan *benchmark* internasional. > > Deutsche Bank menyatakan bahwa inflasi kali ini bukan hal yang remeh temeh > (*benign*) sembari mengacu kepada sejumlah indikator makro fundamental > RI, dan berpotensi akan bertahan tinggi untuk periode waktu yang relatif > lama (*prolonged*) (lihat *link* dokumen riset Deutsche Bank di bawah). > > Sejumlah investor institusi yang kami hubungi sepakat mengingatkan kondisi > serupa yang dialami Cina dan India bahkan hingga kini yang ditandai dengan > kenaikan harga BBM Cina kemarin. Sebagaimana diketahui luas, dengan > peringkat* investment grade* yang sudah disandang keduanya jauh sebelum > dekade 2000, praktis otoritas moneter Cina telah disibukkan dengan > pendekatan moneter yang lebih bersifat memerangi inflasi setelah krisis > ekonomi global 2008. Dan, sebagaimana dapat dilihat, semua indeks saham > utama Cina dan India merupakan indeks yang *underperform* terhadap > kawasan selama 3 tahun terakhir. Sektor perbankan dan properti menjadi > bulan-bulanan aksi lepas porto investor dan menjadi faktor pendorong > menurunnya kinerja ekuitas kedua pasar secara umum. > > Persis? *Exactly* terindikasi demikian, setidaknya jika dua kebijakan > moneter/fiskal terakhir minggu lalu yang diambil oleh Pemerintah RI > dijadikan barometer. > > "- Jumat, 16 Maret: Bank Indonesia menginstruksi perbankan untuk membatasi > kredit perumahan (*loan-to-value ratio*) 70% dan menetapkan *down payment* > kredit > kendaraan bermotor roda 4 dan roda 2 masing-masing 30% dan 25%, efektif 15 > Juni 2012 (*Indonesia sets rules to prevent housing, auto loan bubbles*, > http://www.reuters.com/article/2012/03/16/indonesia-economy-cbank-idUSL4E8EG1XD20120316 > ); > > - Jumat, 16 Maret: Bapepam akan menginstruksikan lembaga pembiayaan * > leasing* untuk turut menetapkan *down payment* kredit kendaraan bermotor > roda 4 sebesar 30% *(Indonesia capital mkt regulator to set minimum auto > payments*, > http://www.reuters.com/article/2012/03/16/indonesia-economy-loans-idUSJ9E8D600O20120316 > ); > > - Rabu, 14 Maret: Standard & Poor's mengingatkan ancaman resiko kredit dan > tekanan modal kerja atas pengembang properti Indonesia (*Sector Review: > Sizing Up The Credit Risks For Developers In Indonesia's Buoyant Property > Sector*, > http://www.alacrastore.com/research/s-and-p-credit-research-Sector_Review_Sizing_Up_The_Credit_Risks_For_Developers_In_Indonesia_s_Buoyant_Property_Sector-946586 > ); > > - Senin, 12 Maret: Standard & Poor's menegaskan tentang potensi > peningkatan biaya kredit perbankan di tengah perlambatan ekonomi akan > menjadi *turning point* bagi industri perbankan di Asia Pasifik, tidak > terkecuali Indonesia, setelah mengalami kinerja positif yang stabil selama > tiga tahun terakhir (*Asia-Pacific Banking Outlook: Higher Credit Costs > Will Test Asia-Pacific Banks*, > http://www.alacrastore.com/research/s-and-p-credit-research-Asia_Pacific_Banking_Outlook_Higher_Credit_Costs_And_Lower_Earnings_Will_Test_Banks_In_2012-947741 > )" > > *Apa kata Deutsche Bank selanjutnya?* > > *We conclude our discussion by flagging the critical role of policy in > this context. Monetary and fiscal tightness accompanied the last two > episodes, whereas this time it is likely to be the opposite. We believe > that there are fundamental differences between the macro environment now > and the previous two episodes that require even more careful > policy calibration to make sure that the price adjustment is not > accommodated aggressively. But Bank Indonesia has adopted an ultra-dovish > stance in recent months, pushing down not just the policy rate but also a > wider range of interest rates through easy liquidity injection > and aggressive bond purchase operations. Although demand is exceptionally > strong, the central bank is supporting further acceleration in credit > growth through a host of measures. The economy is likely operating at or > above potential; a price shock at this juncture is likely to be absorbed by > a range of price and wage increases. Given that it just not the fuel > price that will go up, but a host of long-frozen prices which will likely > rise too (e.g. toll, transportation fare, and electricity), the risk for a > broad-based rise in prices is high. Perhaps more worrisome is the prospect > of a mutually reinforcing cycle of wage and price increases, fuelled by > strong demand, tight capacity, and loose monetary policy.* > > Deutsche Bank: Inflasi Indonesia kali ini berbeda (Asia Economics > Special, Maret 2012 <http://tinyurl.com/6m7dp6r>) > > Dalam konteks ekspektasi inflasi yang tidak dapat dipandang enteng dengan > potensi kenaikan harga-harga barang maka stock pick pelaku pasar akan > sangat menentukan bobot proteksi portofolio-nya. > > "- Kamis, 15 Maret: J.P. Morgan ("JPM") merilis rekomendasi untuk investor > institusinya agar memulai *hedging* posisi terhadap model portofolio > ekuitas Indonesia atas pertimbangan kenaikan BBM pasca-pemangkasan subsidi, > melalui *shifting*/peralihan sektoral. > JPM:* In ASEAN, our focus was to rotate into energy stocks. We sold United > Tractors (UNTR IJ) and Bank Rakyat Indonesia (BBRI IJ). We advise > investors look to hedges against higher energy prices – OW Energy. > Domestic demand plays – Banks and consumer discretionary stocks > underperformed over the last quarter. Sectors that benefit form a weaker > Rupiah – Utilities, Industrials and Energy have been outperformers recently > *;" > > Kami proyeksikan beberapa waktu ke depan berhati-hati dengan sektor* > cyclical*s (ASII dan financials), dan *book* sektor *sensitive* yang > didominasi oleh grup industri *energy*, khususnya berbasis *oil & gas* > dan *coal*, yang membuka peluang *buy on weakness* untuk antisipasi* > reversal*. Sementara sektor *defensive*, *we tend to downplay*. > -- > '+' > > Follow positif01indo on Twitter: https://twitter.com/#!/positif01indo > > Persetujuan *request followers* baru diberikan hanya satu kali tiap akhir > kuartal maks 500 *request */ diskresi kami. > > > > -- ~ Knight ~ http://www.associon.com/apps/google/?gadget=assoc_finance_indexes http://goo.gl/TYIQY http://www.idx.web.id/
