kalau masih bingung memikirkan bagaimana pengawasan pelaksanaan dilapangan atas pemberlakuan penjatahan bbm bersubsidi, mungkin ini bisa membantu tanpa tambahan DANA & SDM. berlakukan saja pengisian bbm pada tgl ganjil dan tgl genap ( bukan nomor plat ganjil genap ). tgl ganjil harga lama ( supply pertamina ke SPBU X ton ). tgl genap harga Z ( supply pertamina ke SPBU Y ton ) faktor X Y Z adalah faktor penyesuaian harga, volume, dgn APBN P. Pertamina tinggal hitung berapa yg akan disupply pada tgl ganjil dan berapa pada tgl genap. Yang pasti supply tgl ganjil harus lebih kecil dari Tgl genap.
posisi stock SPBU harian sudah termonitor online oleh pertamina., jadi sangat gampang dilaksanakan tanpa embel-embel segala macam wa cana kartu pintar, stiker, dll. Pengisian bbm tgl ganjil dijatah sekian liter per kendaraan bermotor. Stock akhir SPBU per 30 april, per 1 mei SPBU tetap jual 4500. Per tgl 1 mei supply Pertamina ke SPBU 4500 Stock akhir SPBU per 1 mei dgn harga 4500 , SPBU hutang ke Pertamina 1500 , karena per 2 mei SPBU akan jual 6000. Per tgl 2 mei supply Pertamina ke SPBU 6000 Stock akhir SPBU per 2 mei dgn harga 6000, Pertamina hutang ke SPBU 1500, karena per 3 mei SPBU akan jual 4500. Perhitungan Pertamina dgn SPBU akan lebih gampang, kalau supply Bbm ke SPBU dianggap barang konsinyasi. Jadi tinggal hitung out Put BBM di meteran saja. Stock akhir per 30 apr = a ton , dgn meter awal 0000000, Supply bbm tgl 1 mei = b ton, meteran tutup per 2 mei 0010000, Selisih 10.0000 itu yg dibayar SPBU ke Pertamina. Setiap akhir bulan dilakukan stock opname di tangki SPBU, jika terjadi Kelebihan fisik dgn catatan pembukuan Pertamina, selisih menjadi keuntungan untuk SPBU, sebaliknya jika terjadi kekurangan fisik dgn Catatan pembukuan pertamina, selisih menjadi tanggungan SPBU.
