jaman sekarang hasil survey sesuai dgn selera pemesan pak Oguds. jumlah rakyat miskin katanya berkurang, padahal hampir diseluruh negeri rakyat lapar bertambah. Kalau perlu tambahkan satu kriteria yang tidak pernah dikenal di negara lain, yaitu hampir miskin, hanya sekedar agar jumlah orang miskinnya bisa berkurang.
--- On Wed, 5/9/12, Oguds <[email protected]> wrote: From: Oguds <[email protected]> Subject: [saham] Bagaimana Cara Kerja BPS ? To: [email protected] Date: Wednesday, May 9, 2012, 11:37 AM Hello Saham, Membaca laporan BPS tentang angka pengangguran di Indonesia, saya jadi teringat ada yg meragukan cara kerja BPS. Sebetulnya, saya juga tidak tahu bagaimana BPS menghitung angka2 tersebut. Hasil survei BPS sangat banyak, dari inflasi, pertumbuhan ekonomi, besar ekspor / impor, produksi pangan, jumlah rakyat miskin, dst. Bahkan, seringkali instansi pemerintah sektor ybs menyerahkan bulat2 tugas survei ke BPS. Hanya kita perlu tahu, statistik itu ada ilmu2nya. Technical Analysis di saham sejatinya termasuk ilmu2 statistik, akurasinya ya tergantung keahlian pemakainya. Penentuan angka2 juga seringkali didasarkan sampling, karena inilah cara2 yg paling mungkin dan ekonomis. Dengan tugas sangat spesifik, yaitu membuat statistik, sangat mungkin tingkat keahlian terbangun dengan baik. Jadi walaupun terkesan bekerja dalam gelap, tidak bisa diartikan akurasinya buruk. Semua ada teknik2nya. Saya baru survei sebentar di Google, kekuatan BPS sekitar 16rb-an pegawai, mempunyai kantor perwakilan di setiap Kabupaten, dan ada perwakilan aparat hingga tingkat Kecamatan. Anggaran BPS di 2012 adalah Rp 2,2 trilyun. Bicara soal akurasi pasti membandingkan dua data. Nah, masalahnya lembaga mana yg bisa setara dengan kekuatan BPS ini? Data mana yg lebih bisa dipercaya? Bagaimana tolok ukurnya? Dst. Kasus yg mengemuka, misalnya data perdagangan Indonesia dan China. China menyatakan defisit perdagangan dengan Indonesia. Sedangkan BPS juga menyatakan Indonesia defisit. Nah, ini mana yg benar? Bisa jadi keduanya sama2 benar, tapi hasil berbeda karena tolok ukurnya beda. Atau malah dua-duanya salah. Menghitung barang keluar masuk negara juga bukan soal gampang. Celah2nya terlalu banyak. Barangkali kita bisa melihat akurasi BPS dari satu kegiatan yg dihitung sangat detil, orang per orang. Yaitu sensus penduduk setiap 10 tahun. Prediksi BPS menjelang sensus 2010, jumlah penduduk Indonesia adalah 235 juta. Setelah sensus, hasilnya adalah 237 juta. Prediksi 10th dengan selisih kurang dari 1%, tentu cukup atau bahkan sangat akurat. Tinggal dibalik saja, adakah yg merasa tidak disensus? Barangkali kapan2, saya juga bertanya lebih serius ke BPS. Kalau meminta data survei sih pernah beberapa kali. Bertanya2, bagaimana mereka melakukan survei, sampling, sensus, dst. Saya hanya berpraduga positif, mereka tidak boleh bermain2 dengan indikator yg salah. Mengingat efeknya sangat berbahaya. Jangan disamakan dengan instansi lain yg toleransinya mungkin rendah. Tak kenal maka tak sayang. -- Tertanda, Oguds [960000031]
