Mg Biasa III: Neh 8:3-5a.6-7.9-11; 1Kor 12:12-30;  Luk 1:1-4; 4:14-21
"Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik"

Setiap pengikraran, janji, peresmian, pelantikan, pengukuhan, dst..pada umumnya 
merupakan kabar baik, misalnya saat-saat pembaptisan, saling menerimakan 
Sakramen Perkawinan, tahbisan imam, kaul membiara, sumpah jabatan, dst.. Di 
balik kabar baik yang menggembirakan tersebut terkandung harapan atau dambaan 
bahwa mereka akan melalukan sesuatu yang berguna bagi kebahagiaan dan 
kesejahteraan mereka sendiri maupun sesamanya, karena dalam pengikraran, janji, 
peresmian, pelantikan, pengukuhan tersebut mengandung panggilan atau tugas 
perutusan yang harus dihayati dan dilaksanakan. Hemat saya semuanya itu dapat 
mengambil inspirasi dari apa yang terjadi dalam diri Yesus sebagaimana 
diwartakan dalam Warta Gembira hari ini :"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia 
telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; 
dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang 
tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang 
yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."(Luk 
4:18-19). Maka marilah kita yang telah berjanji, diresmikan, dilantik dst. 
mawas diri dengan bantuan kutipan Warta Gembira di atas ini; kita diutus untuk 
meneladan Yesus sebagai pewarta-pewarta kabar baik:

1)      Menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Jika kita cermati 
masyarakat kita, kiranya masih banyak mereka yang miskin, entah secara material 
maupun spiritual. Baik kepada yang miskin secara material maupun spiritual, 
kita dipanggil untuk menyampaikan kabar baik. Kabar baik bagi yang miskin 
secara material berarti materi atau harta benda dan uang, yang mereka butuhkan 
untuk hidup layak dan sejahtera, maka baiklah kita berani menyisihkan sebagian 
harta kekayaan kita dan kemudian kita sumbangkan kepada mereka yang miskin dan 
berkekurangan secara material tersebut. Penyampaian sumbangan dapat secara 
pribadi dan langsung atau melalui lembaga-lembaga sosial pemerhati orang-orang 
miskin. Miskin secara spiritual berarti berdosa atau tidak/kurang bermoral, 
maka kepada mereka kita sampaikan kasih pengampunan serta tuntunan atau 
bimbingan untuk bertobat dan memperbaharui diri. Hendaknya dengan rendah hati 
dan lemah lembut kita bersikap terhadap mereka yang miskin secara spiritual. 
2)      Memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan. Orang-orang tawanan 
berarti mereka yang ditawan secara phisik maupun spiritual; secara phisik 
adalah mereka yang berada di Lembaga Pemasyarakatan atau penjara, sedangkan 
secara spiritual adalah mereka yang terikat oleh nafsu-nafsu yang tak teratur, 
terkait dengan aneka kenikmatan duniawi seperti makan, minum, narkoba, seks, 
dst., sehingga cara hidup mereka tak teratur alias amburadul. Kepada mereka 
yang berada di Lembaga Pemasyarakatan baiklah kita kunjungi jika mungkin dan 
kalau tidak mungkin kita doakan. Sedangkan mereka yang tertawan oleh kelekatan 
atau nafsu tak teratur, baiklah dengan rendah hati kita tegor dan peringatkan. 
Kita beritahu bahaya-bahaya yang mengancam hidup mereka karena kenikmatan atau 
kelekatan tak teratur dan kemudian kita bimbing mereka ke cara hidup yang baik 
dan benar.    
3)      Memberitakan penglihatan bagi orang-orang buta. Yang dimaksudkan orang 
buta disini kiranya baik buta secara phisik maupun spiritual. Kepada mereka 
yang buta secara phisik mungkin sulit bagi kita untuk menyembuhkan agar mereka 
dapat melihat, maka baiklah kita beri perhatian mereka yang buta secara 
spiritual. Buta secara spiritual antara tidak dapat membedakan mana yang baik 
dan buruk  maupun benar dan salah. Kebutaan macam ini dapat terjadi karena yang 
bersangkutan tidak pernah mawas diri atau melakukan pemeriksaan batin. Maka 
baiklah kepada mereka ini kita bimbing untuk mawas diri atau pemeriksaan batin, 
tentu saja kita sendiri telah terbiasa mawas diri atau memeriksa batin kita 
sendiri, syukur mahir dalam mawas diri atau pembedaan roh. Salah satu cara awal 
yang baik untuk membimbing dalam hal mawas diri dan pemeriksaan batin antara 
lain yang bersangkutan hendaknya diperlihatkan apa yang baik dan benar dan 
kemudian diajak untuk melaksanakan atau menghayatinya. Dengan membiasakan diri 
untuk melakukan apa yang benar dan baik, maka yang bersangkutan akan terbantu 
untuk mawas diri atau pemeriksaan batin dengan baik dan benar juga.  
4)      Membebaskan orang-orang yang tertindas. Ada orang yang tertindas secara 
phisik maupun spiritual. Untuk membebaskan mereka yang tertindas secara phisik 
kita harus menegor dan mengingatkan mereka yang menindas untuk tidak menindas; 
mereka yang menindas pada umumnya mereka yang berada `di atas' seperti 
pemimpin, manajer, direktur, ketua, orangtua, kakak, dstÂ… Yang cukup banyak 
terjadi hemat saya adalah mereka yang tertindas secara spiritual alias dikuasai 
oleh cita-cita, impian, harapan, dambaan yang mustahil untuk dicapai. Maka 
kepada mereka ini kita bimbing untuk lebih mengenal diri sendiri dengan tepat 
dan benar, dan kemudian menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan 
kesempatan yang ada. Mereka kita tuntun dan ajak untuk hidup dan bertindak 
sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada; menerima diri apa adanya dan 
kemudian berusaha mengembangkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan. 
   
5)      Memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Rahmat Tuhan adalah hidup 
mulia, damai sejahtera, selamat dan bahagia, maka memberitakan tahun rahmat 
Tuhan telah datang berarti  menyampakan apa yang membuat orang lain hidup 
mulia, damai sejahtera, selamat dan bahagia, berarti hidup berbudi pekerti 
luhur atas cerdas spiritual. Kita beritakan nilai-nilai yang terkandung dalam 
berbudi pekerti luhur, yaitu "bekerja keras, berani memikul resiko, 
berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran 
jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, 
bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, 
efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, 
mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, 
menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, 
rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, 
rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan 
santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet 
"(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, 
Jakarta 1997)

"Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya" 
(1Kor 12:27)
  
Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Korintus di atas ini merupakan 
peringatan atau ajakan bagi kita semua untuk hidup dalam persaudaraan dan 
persahabatan sejati atau persatuan. Kita semua sama-sama anggota dan kepala 
kita adalah Kristus. Sebagai sesama saudara atau sahabat kiranya kita prihatin 
atau sedih dan menderita jika di antara saudara atau sahabat kita ada yang 
miskin, buta, tertawan dan  tertindas. Marilah kita buka mata dan telinga kita 
untuk melihat dan mendengarkan apakah ada saudara atau sahabat kita yang 
miskin, buta, tertawan dan tertindas; jika ada marilah kita sampaikan `rahmat 
Tuhan' kepada mereka. Kami berharap kehadiran dan kedatangan kita dimanapun dan 
kapanpun dapat meneladan atau menghayati apa yang disabdakan oleh Yesus "Pada 
hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." (Luk 4:21), artinya 
kehadiran dan kedatangan kita senantiasa menyelamatkan dan membahagiakan orang 
lain. Tentu saja hal itu mengandaikan kita sendiri selamat dan bahagia, Roh 
Tuhan hidup dan berkarya dalam diri kita; kita menghayati diri sebagai yang 
telah `terurapi', setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan, menghayati 
aneka aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita.  

"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, 
memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, 
menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.Takut akan 
TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil 
semuanya" (Mzm 19:8-10)

Jakarta, 24 Januari 2010


Kirim email ke