Mg Biasa VI : Yer 17:5-8; 1Kor 15:12.16-20; Luk 6:17.20-26
"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan
Allah."
"Deso mowo coro, negoro mowo toto" (= desa memiliki adat istiadat, negara
memiliki hukum), demikian kata pepatah Jawa. Pepatah tersebut menggambarkan
bahwa hidup bersama dimanapun dan kapanpun terikat pada aturan, entah tertulis
atau lisan. Di dalam kehidupan bersama masing-masing pribadi harus mentaati dan
melaksanakan aturan yang telah disepakati dan dimaklumkan jika mendambakan
kebahagiaan dan keselamatan. Aturan-aturan tersebut merupakan pedoman atau
petunjuk untuk hidup bahagia, damai sejahtera dan selamat. Sebagai
orang/kelompok yang beriman kepada Yesus Kristus kita juga dipanggil untuk
melaksanakan atau menghayati pedoman yang diajarkan oleh Yesus. Ada banyak
ajaran dan kutipan sabdaNya hari ini, sabda bahagia, hemat saya dapat menjadi
acuan atau pedoman hidup kita, maka baiklah secara sederhana saya sampaikan
refleksi atas sabda-sabda Yesus hari ini:
"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya
Kerajaan Allah" (Luk 6:20).
"Kemiskinan adalah benteng dan ibu hidup membiara", demikian kata St.Ignatius
Loyola. Kata `hidup membiara' kiranya juga dapat diganti dengan `hidup
beriman', maka semangat hidup miskin adalah benteng dan ibu hidup beriman.
Sikap mental hidup miskin berarti lebih mengandalkan diri pada Allah atau
Penyelenggaraan Ilahi daripada harta benda duniawi. Maka apa yang dikatakan
dengan "Berbahagialah, hai kamu yang miskin" dalam sabda bahagia hari ini
kiranya dapat diartikan sebagai ajakan untuk memfungsikan harta benda duniawi
sedemikian rupa sebagai sarana untuk semakin beriman, semakin mempersembahkan
diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin suci, semakin dirajai atau dikuasai oleh
Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindaknya. Dengan ini kami mengingatkan dan
mengajak kita semua: marilah kita tinggalkan dan berantas semangat
materialistis dalam kehidupan bersama kita, jika kita mendambakan hidup bahagia
dan damai sejahtera sejati. .
"Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan
dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan
tertawa" (Luk 6:21).
Lapar dan menangis berarti sedang mengalami kekurangan sesuatu, dan pada
umumnya mereka yang sedang lapar dan menangis senantiasa siap untuk dibantu.
Marilah hal ini kita fahami secara spiritual, yang berarti mengalami kekurangan
dalam ilmu-ilmu atau nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan untuk hidup bahagia
dan damai sejahtera lahir batin. Dengan kata lain maksud sabda bahagia diatas
adalah "Berbahagialah mereka yang dengan penuh pengorbanan dan perjuangan siap
sedia untuk dibina dan dididik, ditumbuh-kembangkan terus menerus". Sebagai
orang beriman menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah, rapuh dan
berdosa serta dipanggil oleh Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya
penyelamatan dunia. Sebagai manusia menyadari dan menghayati diri sebagai
`tanah liat yang senantiasa siap dibentuk' oleh orang lain melalui berbagai
kesempatan dan kemungkinan (pendidikan/ sekolah, pergaulan, kerja, dst..).
Lapar dan menangis tetap berbahagia berarti berbahagia dalam perjuangan dan
pengorbanan.
"Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan
jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai
sesuatu yang jahat Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab
sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang
mereka telah memperlakukan para nabi ".(Luk 6:22-23)
Hidup sungguh beriman, baik, berbudi pekerti luhur sering merasa berada `di
ujung tanduk', dalam ancaman dan bahaya terus-menerus di tengah-tengah
kehidupan bersama yang masih sarat dengan aneka bentuk kemerosotan moral masa
kini. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita dipanggil untuk
meneladan Dia, yang awal kedatanganNya di dunia ini mengalami aneka penderitaan
dan pada akhir tugas perutusanNya dalam rangka menyelamatkan dunia harus
menderita dan wafat di kayu salib. "Karena sama seperti semua orang mati dalam
persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali
dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya:
Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada
waktu kedatangan-Nya" (1Kor 15:22-23), demikian kesaksian iman Paulus kepada
umat di Korintus, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus.
Kesaksian Paulus ini kiranya senada dengan pepatah Jawa "Jer basuki mowo beyo"
(= Untuk hidup bahagia, damai sejahtera, orang harus berjuang dan berkorban).
Kami berharap pada kita semua, umat beriman, untuk tidak takut dan malu
menghayati imannya di mana saja dan kapan saja. Iman lebih berarti untuk
dihayati daripada dibicarakan, maka penghayatan iman merupakan cara utama dan
pertama dalam pewartaan kabar baik. Biarlah karena kesaksian iman kita dengan
tetap setia pada iman meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan
hambatan, orang akan tertanya-tanya dalam dirinya "Ada kekuatan apa dalam diri
mereka?". Sebagai orang yang telah dibaptis dan mengenakan nama baptis, kami
ajak untuk hidup dan bertindak meneladan santo atau santa yang menjadi
pelindung kita masing-masing, yang namanya kita abadikan dalam diri kita.
"Celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu
telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang,
karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu
akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu;
karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi
palsu."(Luk 6 24-26)
Ada pepatah "Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu,
bersenang-senang kemudian". Pepatah ini mengajak dan mengingatkan kita semua
untuk hidup penuh pengorbanan dan perjuangan demi kebahagiaan abadi. Sayang
cukup banyak orang terbalik, bukan bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang
kemudian, melainkan bersenang-senang dahulu dan sakit berlama-lama atau selama
hidup. Hal ini nampak dalam aneka macam jenis penyakit yang muncul saat ini,
misalnya: HIV, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, kurang gizi, dst..,
yang menunjukkan bahwa orang hidup berfoya-foya seenaknya dan kemudian baru
berhenti setelah muncul penyakit yang mengancam hidupnya.
Kami berharap kepada mereka yang gila akan kekayaan, makanan dan minuman maupun
kehormatan duniawi untuk menyadari diri dan bertobat. Mereka yang bersikap
mental materialistis dan duniawi kami harapkan menyadari diri bahwa hal itu
akan membawa masa depan anda ke penderitaan berkepanjangan, dimana masa tua
atau lansia akan menderita karena penyakit yang ada dalam dirinya maupun karena
menyaksikan anak cucu yang juga sakit-sakitan. Sabda Yesus di atas cukup keras
bagi mereka yang bersikap mental materialistis. Marilah kita renungkan seruan
Yeremia ini : "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan
kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti
semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan
baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin
yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang
menaruh harapannya pada TUHAN" (Yer 17:5-7)
"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang
tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan
pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan
Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,
yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja
yang diperbuatnya berhasil."(Mzm 1:1-3)
Jakarta, 14 Februari 2010.
"Gong Xi Fa Chai"
Happy `Valentine day'