"Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya"
(Ul 4:1,5-9; Mat 5:17-19)

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau 
kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk 
menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap 
langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari 
hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.Karena itu siapa yang meniadakan salah 
satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya 
demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di 
dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala 
perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam 
Kerajaan Sorga" (Mat 5:17-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       "Veni, vedi, vici" (= "Aku datang, aku melihat, aku menang"), demikian 
motto Jendral Cicero, zaman Romawi Kuno, dalam menghayati jabatan dan 
melaksanakan tugas pengutusannya sebagai komandan tempur/perang. Motto ini 
kiranya baik kita jadikan motto kita selaras dengan sabda Yesus "Aku datang 
bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya". Di dalam hidup dan 
kerja bersama senantiasa ada aturan atau tatanan yang harus kita taati dan 
laksanakan, maka marilah kita laksanakan aturan atau tatanan tersebut dengan 
sepenuh hati dan kesetiaan. Kami harapkan dalam rangka menyikapi aturan dan 
tatanan tidak hanya demi keuntungan diri sendiri, melainkan demi kesejahteraan 
atau kebahagiaan bersama (`bonum commune'). Para pemimpin, atasan, petinggi 
atau pejabat di tingkat atau ranah kehidupan dan kerja dimanapun kami harapkan 
dapat menjadi teladan dalam penghayatan ajaran-ajaran, pelaksanaan aturan dan 
tatanan; dalam hidup bersama yang paling dasar, yaitu keluarga, berarti 
orangtua diharapkan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Keunggulan hidup beriman 
atau beragama adalah dalam `penggenapan' atau pelaksanaan atau penghayatan, 
bukan omongan atau wacana. Untuk mendukung hal ini kiranya kita juga perlu 
menghayati salah motto Bapak Andrie Wongso ini "Selama kita memiliki kemauan, 
keuletan, dan keteguhan hati, besi batangan pun bila digosok terus-menerus , 
pasti akan menjadi sebatang jarum..Miliki keteguhan hati"  Kita perlu memiliki 
keteguhan hati dalam rangka melaksanakan aneka tatanan dan aturan atau  tugas 
pekerjaan dan kewajiban. Kita juga diingatkan oleh Yesus bahwa jika kita tidak 
mentaati dan melaksanakan aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, 
panggilan dan tugas pengutusan kita berarti kita adalah manusia yang murahan, 
tak berkwalitas.  
•       "Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, 
seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan 
yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk 
mendudukinya.Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi 
kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar 
segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat 
yang bijaksana dan berakal budi" (Ul 4:5-6). Kita, bangsa Indonesia, kiranya 
termasuk bangsa besar, namun apakah seluruh bangsa bijaksana dan berakal budi 
rasanya perlu dipertanyakan. Jika memperhatikan dan mencermati masih maraknya 
pertentangan, tawuran, korupsi, dst.. nampaknya secara keseluruhan boleh 
dikatakan bahwa kita masih harus mengupayakan dan memperdalam dalam hal 
`bijaksana dan berakal budi'. Kepada mereka yang sungguh bijaksana dan berakal 
budi, kami harapkan untuk tetap teguh dan tegar sebagai `umat yang bijaksana 
dan berakal budi', dan kemudian bersama-sama menyebarluaskan kepada 
saudara-saudarinya, lebih-lebih yang setiap hari hidup atau bekerja bersama.  
Memang usaha itu itu tidak lain adalah mengingatkan dan mengajak 
saudara-saudari kita untuk `melakukan ketetapan dan peraturan' yang terkait 
dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusannya. Ada rumor "jika kita tidak 
dapat mengatur diri sendiri, jangan mengatur orang lain; jika kita tak dapat 
mengurus kamar pribadi, jangan mengurus kantor yang besar itu, dst…". Orang 
bijaksana dan berakal budi pertama-tama memang harus dapat mengatur dan 
mengurus diri sendiri sebaik mungkin, sehingga tampil atau menghadirkan diri 
sedemikian rupa dan menarik, memikat serta mempesona bagi banyak orang. Sekali 
lagi kami ingatkan: para pemimpin, atasan, petinggi atau pejabat, kami harapkan 
dapat menjadi teladan dalam hal mengatur dan mengurus diri sendiri alias 
bijaksana dan berakal budi dalam menghadirkan diri dimanapun dan kapanpun. 

"Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia 
meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia 
menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. Ia 
menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu" 
(Mzm 147:12-13.15-16)    
Jakarta, 10 Maret 2010
  


Kirim email ke