Mengkritisi Pendidikan Dasar Gratis
Oleh Herman Yosef


PEMERINTAH tetap pada pendiriannya. Meskipun gelombang protes dan aksi demo 
menolak kenaikan harga BBM terus berlanjut, keputusan menaikkan harga BBM 
adalah final. Sebagai kompensasinya, pemerintah akan mengalokasikan dana Rp 5,6 
triliun untuk subsidi pendidikan dan sekitar 2 triliun untuk subsidi kesehatan 
plus dana pengamanan program sebesar Rp 7,9 miliar dan subsidi raskin. 

Di sektor pendidikan (dasar), berkaitan dengan kenaikan harga BBM tersebut, 
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono begitu gencar melakukan sosialisasi 
pendidikan gratis di berbagai media. Pemerintah terus mengkampanyekan bahwa 
dengan dialihkannya sebagian subsidi BBM ke pembiayaan pendidikan, maka 
pendidikan dasar akan dapat dinikmati rakyat secara gratis (Kompas, 21/3/2005). 
Pertanyaannya, mungkinkah pendidikan dasar gratis bagi seluruh siswa SDN di 
Indonesia tersebut dapat diwujudkan? Tulisan berikut ini mencoba menelaahnya. 

Tak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah kunci kehidupan. Melalui 
pendidikan, setiap manusia 'dimanusiakan' sehingga ia bisa hidup dan dapat 
menikmati serta memaknai kehidupannya secara bermartabat. Oleh karena itu, 
setiap manusia mempunyai hak untuk mendapatkan akses pendidikan yang 
memungkinkannya memiliki kesadaran kritis dalam menyikapi dinamika dan fenomena 
yang terjadi di masyarakatnya. Dengan demikian tersedianya pendidikan berbiaya 
murah, apalagi gratis seperti yang dijanjikan pemerintahan SBY baru-baru ini 
menjadi sangat penting 

Namun demikian, sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah tersebut harus tetap 
dilakukan. Ini menjadi penting mengingat untuk mewujudkan pendidikan gratis 
bagi seluruh siswa SDN di Indonesia seperti yang dijanjikan pemerintah bukanlah 
perkara mudah. Upaya mewujudkan pendidikan gratis tersebut hendaknya tidak 
dilakukan secara terputus-putus melainkan harus dilakukan secara 
berkesinambungan, dengan penuh persiapan dan perhatian. 

Menurut Djauzak Ahmad (2005), menggratiskan pendidikan dasar itu tidak dapat 
dilakukan secara terputus-putus. Untuk itu, perlu dirancang pola distribusi 
anggaran yang tepat agar dana untuk menggratiskan pendidikan dasar itu tidak 
sampai putus di tengah jalan, karena hanya akan menjadi sia-sia. 

Dalam kerangka inilah, pemerintah mesti cermat dan realistis dalam menyusun dan 
menetapkan kebijakan, termasuk kebijakan pendidikan dasar gratis bagi seluruh 
siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) di seluruh Indonesia. Mengingat jumlah 
anggaran pendidikan yang tersedia saat ini, hampir dapat dipastikan bahwa 
pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk menggratiskan pendidikan SDN secara 
keseluruhan. Mari kita lihat perhitungan berikut ini. 

Data Balitbang Depdiknas (2004) berkaitan dengan analisis biaya satuan 
pendidikan(BSP) untuk pendidikan dasar dan menengah yang dikeluarkan oleh orang 
tua siswa meliputi (1) buku dan alat tulis sekolah, (2) pakaian dan 
perlengkapan sekolah, (3) akomodasi, (4) transportasi, (5) konsumsi, (6) 
kesehatan, (7) karyawisata, (8) uang saku, (9) kursus, (10) iuran sekolah, dan 
(11) foregone earning. 

Berdasarkan data tersebut, BSP yang harus dikeluarkan orangtua siswa yang 
anaknya bersekolah di SDN mencapai angka Rp 5,967 juta, di SD swasta Rp 7,506 
juta. Sedangkan yang anaknya bersekolah di SMPN mencapai angka Rp 7,528 juta 
dan di SMP Swasta mencapai angka Rp 7,862 juta (Ki Supriyoko, 2005). 

Jika memang seperti yang dikampanyekan pemerintah bahwa pemerintah berkaitan 
dengan kenaikan harga BBM tersebut akan menggratiskan pendidikan dasar di SDN 
seluruh Indonesia, maka untuk SDN saja dana kompensasi yang harus dikeluarkan 
pemerintah adalah Rp 5,967 juta dikalikan jumlah siswa SDN sekarang ini 
24.058.448 siswa = Rp 143, 56 triliun. Belum lagi untuk SD Swasta, SMPN, dan 
SMP Swasta. 

Dari jumlah dana ratusan triliun rupiah yang harus dikeluarkan pemerintah untuk 
menggratiskan pendidikan dasar di seluruh SDN di Indonesia tersebut, jelas 
sekali bahwa pemerintah tidak akan mampu mewujudkannya. Dana kompensasi 
kenaikan harga BBM untuk pendidikan yang hanya Rp 5,6 triliun itu tidak ada 
apa-apanya. 

Untuk itu, agar pemerintah (Depdiknas) tidak kehilangan muka, maka rekomendasi 
yang mesti dilakukan adalah sebagai berikut. Pertama, pemerintah harus secara 
tegas menjelaskan batasan pendidikan dasar gratis bagi seluruh siswa di SDN di 
seluruh Indonesia itu dalam hal apa saja. Gratis yang dimaksudkan tersebut 
apakah hanya sumbangan BP3-nya (baca: SPP) atau keseluruhan kebutuhan biaya 
pendidikan siswa selama mengikuti dan menuntaskan pendidikannya di tingkat 
dasar. Klarifikasi tentang batasan pendidikan gratis yang dimaksudkan itu 
mutlak dilakukan agar tidak terjadi misunderstanding dan miskonsepsi. 

Kedua, efisiensi pendanaan pendidikan. Pendanaan pendidikan yang selama ini 
begitu memberatkan orangtua apalagi sesungguhnya pengeluaran tersebut tidak 
berkaitan secara langsung dengan proses pembelajaran harus segera dipangkas. 

Ketiga, kalau memang pemerintah (Depdiknas) sunguh-sungguh mempunyai political 
will yang kuat untuk memajukan dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar, 
maka untuk menutupi kekurangan alokasi dana pendidikan dasar gratis tersebut, 
pemerintah (termasuk pemerintah daerah) harus mencari alokasi dana alternatif. 

Keempat, mengingat jumlah dana kompensasi yang dibutuhkan ternyata sangat besar 
untuk menggratiskan pendidikan dasar di SDN di seluruh Indonesia, maka 
efektivitas pola pemberian beasiswa seperti yang telah dilakukan saat ini dapat 
menjadi pilihan yang sangat elegan dan realistis yang dapat dilakukan 
pemerintah. 

Itulah catatan yang mesti didiskusikan agar pemberian dana kompensasi BBM di 
sektor pendidikan dasar tersebut tepat sasaran dan berhasil guna. Jika tidak, 
kekhawatiran banyak pihak bahwa pelayanan pendidikan dasar gratis yang 
dijanjikan pemerintah tersebut hanyalah lips service semata akan menjadi 
kenyataan. 



[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke