Jangan Gunakan Standar Ukuran Lama Setiap saat kita berubah, tidak ada yang tetap selamanya. Sebagaimana aliran air, ia tetaplah air tetapi setiap detik setiap tetes air bukanlah tetesan air yang sama. Kita pun demikian. Saya ingat belasan tahun yang lampau, pada saat saya masih kuliah dan di usia awal 20-an, saya ini sangat "bodoh" dan "naif" baik dalam hal karir maupun dalam strategi hidup. Kalau diingat-ingat lagi, betapa banyaknya aksi dan reaksi saya yang tidak hanya menyinggung perasaan orang lain, tetapi membakar jembatan (burning the bridge, sebuah expression dalam bahasa Inggris) untuk hubungan baik di masa depan. Dalam kenaifan saya yang waktu itu masih hidup di dalam dunia yang idealis, dunia bisnis terasa "kotor" dan "penuh ambisi politis" yang kurang berkenan di dalam hati saya. Keinginan saya untuk mengubah itu semua sangatlah mendalam, namun saat itu saya tidak menyadari bahwa dengan berbekal pendidikan kelas satu dari Universitas Indonesia saja tidaklah cukup. Saat itu, intellectual inteligence saya mungkin di atas rata-rata, namun emotional dan creativity intelligences saya masih jauh di bawah rata-rata. I was an agry young woman. Hidup saya disetir oleh idealisme karena kenaifan saya. Setelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Clinton dan Paman Bush, barulah gemblengan hidup saya rasakan dengan sedalam- dalamnya. Betapa tidak, hanya dibekali dengan biaya hidup yang hanya cukup untuk satu tahun saja, saya pergi merantau. Saat itu saya beranikan diri untuk pergi melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Itu keyakinan saya saja, tanpa didukung dengan back- up finansial yang cukup. "Pasti ada jalan untuk membiayai kuliah saya selanjutnya," dalam hati saya berjanji. Sebagai salah satu lulusan FHUI tahun 1994 yang terbaik dan tercepat, serta telah mengikuti berbagai program jarak jauh dari universitas- universitas ternama di Amerika Serikat dan TOEFL/TWE scores yang hampir sempurna, mestinya ada program bea siswa yang bisa saya raih di sana. Alhasil dengan keyakinan buta ini saya beranikan diri melangkah dengan mantap. Ternyata, biaya hidup di California sangat tinggi, sehingga mau tidak mau saya terpaksa kerja sambil kuliah. Mungkin karena saya secara intelektual sebenarnya tidak seberapa pandai (tidak sepandai beberapa teman saya yang bisa menghafalkan isi sebuah buku lengkap dengan catatan kakinya), keasyikan bekerja cukup mengganggu kuliah saya, sehingga saya mesti memilih: kerja atau kuliah. Tentu saja kuliah tetap prioritas, namun kerja inilah yang memberi saya makan, biaya transportasi dan pakaian. Lagipula, fascinated dengan cara kerja di dunia dot-com Silicon Valley (saat itu sedang booming sebelum the bubble bursted di akhir 90-an), saya memegang beberapa perusahaan yang meng-hire saya sebagai managing editor, country manager dan channel manager. Jadilah saya menggunakan 75% waktu saya untuk "kuliah" sebagai "mahasiswa" di universitas raksasa yang bernama Silicon Valley, yang ternyata berhasilkan "menelurkan" bisnis dot-com liliput late bloomer yang saya dirikan tahun 2003. Jadi, jalan hidup menentukan lain. Tidak lagi saya gila-gilaan sekolah. Saya jatuh cinta di dunia entrepreneur. Mengapa? Lihat saja ketika saya baru lulus sarjana, apa yang saya ketahui soal hidup dan bisnis? Hampir tidak ada. Semuanya hanya teori belaka. Ternyata, praktek bisnis sangatlah menarik. Penuh dengan trik, strategi dan resiko, yang belasan tahun lalu sangat saya hindari. Perlahan-lahan, kepribadian saya pun berubah. Malah bisa dibilang berubah 180 derajat. Dulu saya termasuk pendiam, tidak banyak bertanya dan pasrah. Sekarang? Wah, ternyata dari perjuangan saya di perantauan, saya sudah buktikan bahwa nasib saya ada di tangan sendiri. How you convince yourself to win will determine the outcome. Sekarang saya sangat outspoken dan mampu membawahi belasan anak buah yang kebanyakan adalah native speaker Americans yang berpendidikan Master's degrees. Dalam waktu kurang dari enam tahun, saya telah menulis lebih dari 700 artikel dalam bahasa Inggris, sekarang sudah lebih dari 850 artikel. Dalam kurun waktu dua tahun (2002 sampai 2004), saya telah menulis dan menerbitkan 15 buku (distribusi di USA dan Canada). Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pertama, dengan adanya perubahan lingkungan (dari hidup nyaman di Indonesia ke Amerika Serikat yang serba asing), saya memulai hidup baru yang totally berbeda. Dari mesti mencuci baju sendiri sampai mengurus semua dokumen imigrasi sendiri sambil kuliah dan kerja, saya belajar untuk harus selalu percaya akan kemampuan diri sendiri. Dari hal kecil sampai yang besar. Kedua, dengan adanya "keterpaksaan" untuk terus mencari jalan yang dapat membawa saya kepada kehidupan yang lebih baik dari segi emosional, psikologis dan finansial di tanah asing, mau tidak mau saya "dipaksa" oleh keadaan untuk melihat pintu-pintu peluang yang selama ini hanya samar-samar saja terlihat. Ketiga, kehidupan di tanah rantau sangat "overwhelming," sehingga mau tidak mau saya mesti memilah-milahkannya dalam bite size. Artinya, setiap hal saya pilah-pilah menjadi bagian-bagian yang kecil sehingga mampu saya olah dan kerjakan. Misalnya, saya mampu menyelesaikan penulisan satu buku dalam waktu satu bulan. Mudah saja, dalam satu hari saya menulis 10 halaman, dalam satu bulan (20 hari kerja), sudah 200 halaman terselesaikan. Perubahan kepribadian saya ini sudah saya rasakan manfaatnya. Bayangkan, bagaimana kalau saya tidak berubah menjadi outspoken? Wah, jelas saya tidak mampu untuk mempresentasikan hasil kerja saya di business meetings dan tidak mampu untuk melakukan negosiasi bisnis. Seorang "pendiam" di Amerika Serikat kebanyakan hanya bekerja di belakang meja, melakukan pekerjaan- pekerjaan teknikal yang tidak membutuhkan banyak communication skills. Dengan membuka diri saya terhadap perubahan yang dibawa oleh lingkungan dan kebutuhan untuk survive di tanah rantau, ternyata saya temukan "diri saya yang baru," yaitu seorang entrepreneur. Walaupun untuk ukuran Silicon Valley perusahaan dot-com yang saya dirikan masih bisa dibilang berukuran liliput, I'm on my right path. Saya telah menemukan jalan hidup saya sendiri. Jika Anda mengenal saya beberapa belas tahun yang lalu, mungkin Anda sudah sulit menemukan diri saya yang dulu lagi. Ini juga berlaku dengan diri Anda dan orang-orang yang Anda kenal lainnya. Ingatlah bahwa dunia berubah terus, termasuk makhluk- makhluk yang hidup di muka bumi, termasuk diri Anda sendiri. Bukalah diri Anda terhadap perubahan, sehingga perubahan dapat menemukan tempatnya di dalam diri Anda. Bukankah sukses adalah kemampuan kita untuk menerima perubahan dan memberi arti kepadanya dan bagi diri kita sendiri? Sumber: Jangan Gunakan Standar Ukuran Lama oleh Jennie S. Bev. Jennie S. Bev adalah penulis perantauan di Amerika Serikat. -- Best Regards Tombo Ati ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !! Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
