Ceritanya tragis sekali, sampai rasa sakit hati, nyeri dan demam seakan me 
njalar dalam diriku.... kasihan sekali..  tapi yang aku bingung kesalahan apa 
kah yang membuat dirinya dianggap menjadi seorang budak dalam keluarganya.....
Seharusnya seorang ayah harusnya bisa menjadi pemimpin dalam rumah tangga.... 
melihat gelagat yang aneh pada diri se orang ibu, seharusnya ibu itu harus 
periksa ke psikiater....
aku sanga terharu dengan kisah ini,
thank's  to temen2 sarikata yang telah banyak banget memberikan motivasi 
melalui milis ini


Tombo Ati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ketika ayah tidak di rumah

Musim panas tahun 1971 menandai akhir dari masa kehidupanku bersama lbu. Umurku 
belum genap 11 tahun, namun secara umum aku tahu seperti apa hukuman yang bakal 
aku terima dari  ibu. Melanggar batas waktu yang ditentukan lbu untuk 
menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, aku diganjar hukuman tidak makan - 
sekalipun hanya satu saja dari pekerjaan itu yang kulanggar batas waktunya, 
sementara semua pekerjaan lainnya kuselesaikan tepat waktu, tetap tak ada makan 
untukku. Kalau aku memandang lbu atau salah satu dari anak-anaknya tanpa 
seizinnya, aku diganjar hukuman tempelengan.
Kalau aku ketahuan mencuri makanan, Aku tahu lbu akan mengulangi 
hukuman-hukuman yang pernah ia lakukan atau merancang sebuah bentuk hukuman 
baru yang cuma dia yang tahu. Bisa dikatakan lbu tahu apa yang sedang 
dilakukannya, sementara aku pun bisa mempersiapkan  diri terhadap kemungkinan 
tindakan yang akan diambil lbu selanjutnya.
Bagaimanapun, aku siaga setiap saat dan mempersiapkan seluruh badanku setiap 
kali lbu berurusan denganku.

Memasuki awal bulan juli semangat hidupku meredup. Makanan nyaris menjadi 
khayalan. Bahkan sisa-sisa sarapan pagi pun aku jarang mendapatkannya. Sekeras 
apa pun aku bekerja menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, tidak pemah 
ada makan siang yang kudapat. Aku memperoleh sedikit makan malam tiga hari 
sekali.

Pada suatu hari di bulan Juli, segala sesuatu berawal seperti hari-hari 
lainnya. Pada waktu itu aku sudah tiga hari tidak makan. Sekolah sedang liburan 
musim panas, jadi kesempatan mencuri dan mendapat makanan tidak ada. Setiap 
saat makan malam, seperti biasa aku duduk di bawah tangga, dengan posisi tangan 
di bawah pantat, sambil mendengarkan suara suasana "keluarga ini" yang sedang 
makan malam. Saat itu lbu mengharuskan aku duduk di atas tanganku dengan kepala 
mendongak, seperti posisi "tawanan perang". Untuk  kali itu aku biarkan 
kepalaku menunduk, sambil setengah bermimpi aku adalah salah satu dari 
mereka-salah satu anggota "keluarga ini". Aku pasti tertidur waktu itu, sebab 
tiba-tiba aku terbangun olehsuara gerarn Ibu, "Bangun! Cepat naik!"

Deretan kata pertarna dari perintah lbu langsung membuat kepalaku tegak, aku 
berdiri, lalu bergegas naik. Aku berdoa agar malam itu aku mendapat sesuatu, 
apa saja, yang bisa mengganjal perutku yang kelaparan.

Baru saja aku mulai menyingkirkan peralatan makan dari meja makan dengan 
secepat kilat, lbu sudah menyuruhku ke dapur. Kutundukkan kepala ketika ia 
menyerocos tentang batas waktu yang ticlak boleh kulanggar. "Kau punya waktu 20 
menit! Terlambat satu menit, satu detik, maka kau akan kelaparan lagi! 
Mengerti?"

"Ya, Bu."

"Lihat aku kalau aku sedang bicara padamu!" bentaknya.

Kuturuti perintahnya, pelan-pelan kudongakkan kepalaku.
Saat kepalaku tegak, kulihat Russell seclang berayun-ayun di kaki kiri lbu. 
Tampaknya ia sama sekali tidak terganggu oleh suara lbu yang keras dan tajam. 
la memandangiku dengan sorot mata yang dingin. Sekalipun pada waktu itu usianya 
baru empat atau lima tahun, Russell sudah menjadi
"Nazi kecil" bagi Ibu, yang mengawasi setiap tindakanku, memastikan bahwa aku 
tidak mencuri makanan sedikit pun. Kadang kala ia mengarang cerita yang 
kemudian dipercayai Ibu, dan dengan demikian ia bisa melihat aku dihukum. Tentu 
saja semua itu bukan salah Russell. Aku tahu Ibu sudah menanamkan kesan buruk  
mengenai diriku di kepalanya.
Bagaimanapun, aku mulai tidak menganggap dirinya sekaligus membencinya.

"Kau dengar aku?" teriak lbu. "Lihat aku kalau aku sedang bicara padamu!" Waktu 
kulihat, lbu baru saja menyambar pisau daging dari rak dan berteriak, "Kalau 
kau tidak menyelesaikan tugas-tugasmu tepat waktu, kubunuh kau!"

Ancamannya tidak mempengaruhi aku. Sudah hampir seminggu ini lbu terus-menerus 
mengeluarkan ancaman yang sama. Bahkan Russell pun tidak terpengaruh 
mendengarnya - terus saja ia berayun-ayun di kaki lbu seakan-akan sedang naik 
kuda poni yang gemuk. Tampaknya lbu tidak puas dengan taktik barunya itu sebab 
ia terus saja menyerocos, sementara jarurn jam bergerak terus, menghabiskan 
batas waktuku. Aku berharap lbu menutup mulutnya dan membiarkan Aku terus 
bekerja. Mati-matian aku berusaha menepati batas waktu yang ditetapkan lbu. 
Begitu besar keinginanku untuk mendapat sesuatu yang bisa dimakan. Aku tak 
tahankalau harus tidur satu malam lagi tanpa makan.

Kelihatannya ada sesuatu yang tidak beres. Betul,betul tidak beres!
Sepenuhnya kupusatkan pandanganku ke arah lbu. la mulai mengayun-ayunkan pisau 
daging di tangan kanannya. Aku juga tidak terlalu takut dengan sikap lbu ini, 
sebab ia pernah juga bersikap seperti itu. "Mata", katakupada diri sendiri. 
"Lihat matanya". Maka kulihat matanya, yang tampak seperti biasanya juga. 
Tetapi naluriku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Menurutku ia tidak 
akan memukulku, tapi toh tubuhku mulai menegang. Ketika kurasakan diriku 
semakin tegang itulah, aku tahu apa yang tidak beres itu. Karena gerakan 
berayun-ayun yang dilakukan Russell di kaki ibu, juga karena  gerakan lengan 
serta tangan ibu yang menggenggam pisau, tubuh ibu semakin keras bergoyang ke 
depan dan ke belakang. Sempat terpikir olehku bahwa lbu akan jatuh.

lbu berusaha menyeimbangkan posisinya dengan menarik Russell dari kakinya, 
sementara ia terus saja membentak bentakku. Saat itulah badan lbu bagian atas 
limbung, seperti kursi goyang yang berayun tak terkendali. Saat selanjutnya, 
aku tak lagi memperhatikan ancaman-ancaman lbu tetapi aku mulai membayangkan 
perempuan yang mabuk itu bakal jatuh dengan wajahnya lebih dulu membentur 
lantai. Kuperhatikan wajah lbu dengan sungguh-sungguh. Dari sudut mataku, 
samar-samar kulihat sebuah benda melayang dari tangannya. Tiba-tiba ada rasa 
sakit yang perih tepat di bagian atas perutku. Aku berusaha tetap berdiri, 
tetapi kedua kakiku tak mampu tegak, dan semuanya jadi gelap.

Saat sadar kembali, ada rasa hangat yang mengalir dari dadaku. Beberapa saat 
kemudian baru aku tahu di mana aku berada. Aku didudukkan di atas toilet. Aku 
menoleh ke arah Russell yang mulai bernyanyi, "David's going to die. The Boy's 
going to die". Kualihkan pandanganku ke arah perutku. Sambil berlutut, lbu 
tampak tergesa-gesa menempelkan kain perban kasa tebal pada suatu tempat di 
bagian perutku yang mengeluarkan darah berwarna merah gelap. Aku mencoba 
mengatakan sesuatu. Aku tahu semua ini adalah kecelakaan. Aku ingin memberitahu 
Ibu bahwa aku memaafkannya, tapi aku merasa sangat pusing sehingga tak mampu 
berkata-kata. 
Berkali-kali kepalaku lunglai ke depan,  dan aku selalu  mencoba menegakkannya 
kembali. Aku kehilangan pedoman waktu, lalu kembali tak sadarkan diri.

Saat aku sadar, lbu masih berlutut, membalutkan kain ke sekeliling dadaku agak 
ke bawah. la terampil dalam bidang ini. Dulu, ketika Ron, Stan, dan aku masih 
kecil-kecil, Ibu sering berkata bahwa ia tadinya bercita-cita menjadi perawat, 
sampai akhirnya ia bertemu Ayah. Setiap kali ada kecelakaan di rumah, lbulah 
yang paling menguasai keadaan. 
Sedikit pun tak pernah kuragukan kecakapan lbu dalam hal merawat. Aku tinggal 
menunggu dibawa lbu ke rumah sakit dengan mobil. Aku yakin ia akan melakukan 
itu. Tunggu saja. 
Aku merasakan kelegaan yang ganjil. Aku yakin bahwa semua hukuman yang selama 
ini kuterima berakhir sudah. Hidup bagai seorang budak tentulah keliru, dan 
semua itu sekarang sudah berakhir. Bahkan Ibu tidak bisa menyangkal hal itu. 
Aku merasa kecelakaan itu telah membebaskanku.

Ibu membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk mengobati dan membalut lukaku. 
Dalam. sorot mata lbu tidak tampak rasa sesal telah melukai anaknya dengan 
pisau. Menurutku mungkin Ibu menunjukkan rasa sesal itu dengan mencoba 
menenangkan diriku, bahkan caranya berbicara denganku terasa tenang. Sambil 
memandangku tanpa emosi, lbu berdiri, mencuci tangannya, lalu berkata padaku 
bahwa aku diberi waktu 30 menit untuk menyelesaikan tugas mencuci perkakas 
makan. Aku menggeleng, sambil mencoba memahami apa yang barusan dikatakannya. 
Beberapa saat kemudian, sikap lbu menjadi jelas. Sama seperti kejadian yang 
menyebabkan tulang lenganku patah beberapa tahun sebelumnya, lbu tak akan 
mengakui kejadian tersebut pernah terjacli. 
Aku tak sempat mengasihani diri sendiri. Waktu  terus berjalan. Aku berdiri, 
terhuyung beberapa saat, lalu berjalan ke dapur. Pada setiap langkah, rasa 
sakit menjalar dari bagian rusukku, darah merembesi T-shirtku yang lusuh. 
Begitu sampai di bak cuci piring, aku menyandarkan. tubuh dan terengah-engah 
seperti anjing tua.

Dari dapur aku bisa tahu bahwa Ayah ada di ruang keluarga, membaca koran. Aku 
menarik napas panjang, sakit sekali rasanya. Aku berharap bisa pergi dari dapur 
dan berjalan ke tempat Ayah berada. Dalam keadaan seperti ini, rupanya aku 
menarik napas terlalu dalam sehingga aku terjatuh. Baru kusadari bahwa aku 
harus menarik napas pendek pendek.
Lalu aku berjalan ke ruang keluarga dengan susah payah. Di ujung kursi panjang 
di ruangan itu duduklah Ayah, pahlawanku. Aku yakin Ayah akan menegur lbu, lalu 
membawaku ke rumah sakit. Aku berdiri di depan Ayah, menunggunya membalik koran 
dan melihatku. Dan ketika akhirnya ia membalik korannya, dengan susah payah aku 
berkata, "Ayah... I... I... lbu menusukku".

Ayah bahkan tidak mengangkat alis matanya, apalagi menoleh. "Kenapa?" tanyanya.

"Dia bilang, kalau aku tidak menyelesaikan tugas mencuci perkakas tepat pada 
waktunya, dia... dia akan membunuhku". 

Waktu seakan berhenti. Dari balik koran aku bisa mendengar napas Ayah yang jadi 
berat. la menelan ludah, lalu berkata, "Ya... kau ah... kau lebih baik kembali 
ke dapur dan menyelesaikan tugasmu mencuci piring." 
Kujulurkan kepala ke depan, seolah-olah ingin mendengar lebih jelas ucapannya. 
Aku tak percaya apa yang baru saja kudengar. Ayah pasti menangkap kebingunganku 
sebab ia lalu melipat korannya, dan kudengar suaranya meninggi,"Astaga! Apakah 
ibu tahu bahwa sekarang kau berada di sini sedang bicara dengan aku? Kau lebih 
baik kembali ke dapur dan selesaikan cucian piringmu. Astaga. Kita tidak perlu 
melakukan apa-apa yang bisa membuatnya lebih marah lagi! Aku tak mau bertengkar 
malam ini..." Ayah berhenti bicara sebentar, mengambil napas panjang, lalu 
berbisik, "Begini: kembalilah ke dapur ,dan selesaikan tugasmu mencuci piring. 
Aku bahkan tidak mau dia tahu bahwa aku menyuruhmu, mengerti?
Ini rahasia kita berdua. Kembalilah ke dapur, dan selesaikan tugasmu mencuci 
piring. Ayo. Lekaslah, sebelum dia memergoki kita berdua. Sana!"

Aku kecewa berat. Ayah bahkan tidak melihat ke arahku. Menurutku paling tidak 
ia bisa menurunkan korannya untuk melihat sorot mataku, maka ia pasti tahu-ia 
pasti akan bisa merasakan sakitku, merasakan betapa akumembutuhkan 
pertolongannya. Tetapi, seperti biasanya, aku tahu Ibu mengendalikan Ayah dan 
mengendalikan semua persoalan yang  terjadi di rumah ini. Aku dan  ayah 
sama-sama tahu aturan main "keluarga ini"- kalau kami tidak mengakui sebuah 
persoalan, persoalan itu memang tidak pernah ada. waktu aku berdiri termangu di 
depan Ayah itu, kulihat tetesan darahku menodai karpet keluarga ini. Aku 
mendambakan gendongan Ayah, yang kemudian membawaku pergi dari situ. Aku bahkan 
membayangkan Ayah membuka kemejanya untuk memperlihatkan siapa dia 
sesungguhnya, lalu terbang ke angkasa seperti Superman.

Aku meninggalkan  ruangan itu. Rasa hormatku terhadap Ayah hancur sudah. 
gambaran Ayah sebagai juru selamat ternyata palsu. Rasa marahku terhadap Ayah 
lebih besar daripada terhadap ibu. Kuu ingin bisa terbang, tetapi rasa sakit 
yang kurasakan mengembalikan aku pada kenyataan.

Kucuci peralatan  makan secepat mungkin, tergantung kondisi tubuhku saat itu.  
Kalau kugerakkan lengan bawahku, bagian atas perutku t,erasa amat sakit. Kalau 
aku melangkah ke samping, sekujur tubuhku terasa sakit.
Betapa lemahnya aku, tenagaku nyaris hilang semua. Begitu batas waktu yang 
ditetapkan lbu lewat, lewat juga peluangku mendapat makanan.

Saat itu yang kuinginkan cuma berbaring dan menyerah saja, tetapi janji 
terhadap diriku sendiri yang kubuat beberapa tahun sebelumnya menahanku.
Ingin kutunjukkan kepada "Perempuan Jahat Itu' ia bisa mengalahkan aku hanya 
bila aku mati, dan aku telah berketetapan-hati untuk tidak menyerah-menyerah 
pada kematian pun tidak. 
Sambil mencuci peralatan makan itu aku belajar sesuatu mengenai keadaanku-kalau 
aku berdiri berjinjit dan menyandarkan pelan-pelan badan bagian atasku ke 
pinggiran tembok cucian piring, rasa sakit di bagian bawah dadaku agak 
berkurang; 
Aku tidak sering-sering bergerak ke kiri ke kanan tapi beberapa peralatan makan 
kucuci sekaligus, setelah itu baru Aku membilasnya sekaligus juga. Setelah 
semua perkakas itu kukeringkan, sampailah pada tahap, yang mencemaskan-semua 
perkakas itu harus kutaruh di lemari dapur, padahal letak lemari dapur itu di 
atas kepalaku. Rasa sakit yang sangat pasti akan timbul kalau aku mencoba 
meraih lemari itu. Sambil memegang sebuah piring kecil di satu tangan, 
kujinjitkan kakiku setinggi mungkin dan tanganku berusaha mencapai lemari itu 
untuk menaruh piring kecil tadi. Hampir saja berhasil. Tapi rasa sakit yang 
ditimbulkan oleh usahaku itu sedemikian hebat, sehingga aku ambruk.

Pada saat itu baju yang kukenakan sudah penuh darah. Waktu aku berusaha 
berdiri, aku merasakan tangan Ayah yang kuat membantuku. Aku menepiskannya. 
"Berikan piring itu kepadaku", katanya. "Biar aku yang membereskannya. Lebih 
baik kau ganti baju saja". Kutinggalkan dapur tanpa sepatah kata pun. Kulirik 
jam di dinding-hampir satu setengah jam waktu yang kugunakan untuk 
menyelesaikan tugasku itu. 
Waktu tertatih-tatih menuruni tangga menuju basement, tanganku mencengkeram 
erat pegangan tangga. Bisa kulihat dengan jelas darah merembesi baju yang 
kukenakan, bersama setiap langkahku.

ibu menyusulku turun. Di bawah tangga ia menyobek bajuku. Ia melakukan itu 
selembut mungkin, tetapi selain itu ia tetap bersikap, dingin. Bagi ibu, yang 
saat itu ia lakukan bagiku semata-mata "tugas" yang harus ia kerjakan. Dulu, 
aku pernah melihat lbu merawat binatang dengan sikap yang jauh lebih hangat 
daripada sikapnya terhadapku saat itu.

Karena badanku lemah, aku rebah ke badan lbu saat ia mengenakan aku T-shirt tua 
dan longgar. Bagaimanapun aku tetap mengira. lbu pasti memukulku. Ternyata 
tidak. la malah membiarkan aku beristirahat sejenak di pundaknya. Setelah itu 
lbu mengatur posisiku di bawah tangga itu, lalu meninggalkan aku. Tak lama 
kemudian ia kembali, membawakan aku segelas air. Cepat-cepat kuteguk air itu. 
Setelah kuhabiskan air di gelas itu, lbu berkata bahwa ia akan memberikan aku 
makan beberapa jam lagi, setelah keadaanku membaik. Sekali  lagi ibu 
mengucapkan itu semua secara monoton, sama sekali tanpa emosi.

Kulihat sekilas langit California beranjak malam. lbu berkata aku boleh bermain 
di luar, di depan garasi, bersama kedua saudaraku. Pikiranku sedang tidak 
jernih. Perlu waktu agak lama bagiku untuk memahami apa yang baru saja 
dikatakan lbu. "Ayo, David. Ikutlah bermain bersama mereka", desaknya. Dengan 
bantuan lbu, aku berjalan tertatih-tatih ke halaman luar di depan garasi. Kedua 
saudaraku memandang ke arahku, tetapi mereka lebih tertarik dengan kembang api 
yang mereka nyalakan untuk memperingati Fourth-ofJuly, hari kemerdekaan 
Amerika. Beberapa saat kemudian kurasakan sikap lbu terhadapku semakin lembut. 
la memegang bahuku, sementara kami melihat kedua saudaraku sedang membentuk 
angka delapan dengan kembang api mereka. "Kau mau kembang api juga?" Tanya lbu. 
Aku mengangguk: ya. la memegang tanganku sambil berlutut untuk menyalakan 
kembang api yang kupegang. Sejenak sempat aku mengingat wangi parfum yang dulu 
dipakai lbu.
tetapi lbu sudah lama juga tidak lagi memakai parfum atau mengenakan make up.

Meskipun sedang bermain bersama kedua saudaraku, aku tak bisa menepis 
pertanyaan yang muncul dalam benakku tentang lbu. "Mengapa sikapnya terhadapku 
berubah?" "Apakah ia mencoba berbaikan denganku?" "Apakah hari-hariku di 
basement sudah berakhir?" "Apakah aku sudah boleh bergabung lagi sebagai 
keluarga ini? aku tak peduli. Kedua saudaraku menerima kehadiranku, dan ada 
rasa persahabatan serta kehangatan bersama mereka - suatu perasaan yang kukira 
sudah hilang selamanya.

Kembang apiku mati. Kualihkan pandanganku ke matahari musim panas yang semakin 
terbenam. Lama sekali rasanya Au tidak melihat matahari terbenam. Kupejamkan 
mataku. Kucoba menikmati dan menyerap kehangatan sinarnya sepuas mungkin. Untuk 
sesaat rasa sakit, rasa lapar, dan.rasa
sedih menjalani kehidupan yang pahit hilang. Aku merasa begitu hangat.
Aku merasa hidup. Kubuka mataku. Aku berharap bisa mengecap seluruh keindahan 
saat itu, di situ, yang tak mungkin kualami dua kali.

Sebelum tidur, lbu memberiku minum dan menyuapi aku makan. Aku merasa seperti 
hewan lumpuh yang sedang dirawat agar sembuh. Tapi aku tak peduli.

Di basement aku berbaring di dipan tuaku. Aku mencoba tidak memikirkan rasa 
sakitku. Tidak bisa. Rasa sakit itu menjalari seluruh tubuhku.
Akhirnya, rasa amat lelah mengalahkan rasa sakit. Aku tertidur juga.
Beberapa kali aku bermimpi malam itu. Aku terbangun, berkeringat dingin.
Kudengar suara yang menakutkan di belakangku. Itu lbu. la membungkuk, 
mengompres dahiku dengan secarik kain dingin. la berkata bahwa aku demam 
tinggi. Aku tidak menanggapi perkataannya karena aku merasa lelah dan lemah 
sekali. Yang terpikirkan olehku cuma rasa sakitku. lbu kemudian masuk ke karnar 
tidur saudara-saudaraku yang berada di bawah, letaknya dekat basement. Aku 
merasa aman karena aku tahu lbu di dekatku, menjagai aku.

Ah tertidur lagi. Bersama tidur yang melelahkan itu muncul mimpi yang 
menakutkan. Turun hujan lebat yang airnya sangat panas dan berwarnamerah. Aku 
basah kuyup oleh hujan itu. Kucoba membersihkan darah dari badanku, tetapi 
dengan cepat badanku jadi merah lagi oleh darah.
Paginya, saat terbangun, kulihat tanganku berlepotan darah kering. Kaus yang 
kukenakan menjadi merah di bagian dada. Di beberapa bagian wajahku kurasakan 
juga ada darah kering menempel. Lalu kudengar pintu karnar ticlur di belakangku 
terbuka. Aku menoleh, kulihat lbu berjalan ke arahku. Aku berharap mendapat 
simpati dari lbu seperti yang kurasakan sernalarn. Tetapi harapanku itu kosong 
belaka. lbu tak mernberiku apa-apa. Dengan nada suara datar, lbu menyuruhku 
untuk membersihkan diri dan mulai melakukan semua pekerjaan rurnah tangga yang 
biasa kulakukan.
Saat kudengar langkah-langkahnya menapaki tangga, aku sadar tak ada yang 
berubah. Aku tetap anak badung di keluarga ini.

Tiga hari setelah "kecelakaan" itu badanku masih saja demam. Bahkan minta 
sebutir aspirin kepada lbu pun aku takut, apalagi Ayah sedang di tempat 
kerjanya. Aku tahu, lbu sudah kembali ke dirinya yang sebenarnya. 
Aku menduga demamku itu karena luka yang kuderita. Waktu itu luka terbuka di 
bagian atas perutku sernakin lebar dibandingkan keadaannya di malam kejadian. 
Agar tidak ketahuan lbu, pelan-pelan aku pergi ke tempat cucian di garasi. 
Kuambil kain paling bersih dari turnpukan pakaian rombengku. Kain itu kubasahi 
secukupnya dengan air dari keran di situ.
Kemudian aku duduk. Kemejaku yang merah, basah, dan lengket karena darah 
kugulung ke atas. Perlahan kuraba lukaku, dan aku tersentak ke belakang karena 
kesakitan. Kutarik napas panjang, lalu pelan-pelan sekali kupencet luka terbuka 
itu. Sakit sekali rasanya, sampai-sampai aku terjatuh ke belakang, harnpir 
pingsan. Ketika kuperhatikan lagi lukaku, ada bagiannya yang berwarna 
kuning-keputihan. Aku tidak tahu hanyak mengenai hal-hal seperti itu, tetapi 
aku tahu bahwa lukaku mengalami infeksi. Aku berdiri, bermaksud naik ke atas 
untuk minta tolong lbu membersihkan lukaku. Ketika sudah setengah berdiri, aku 
berhenti.
"Tidak!" kataku pada diri sendiri. "Aku tidak butuh pertolongan perempuan jahat 
itu". Pengetahuanku lumayan soal pertolongan pertama untuk membersihkan luka, 
jadi aku merasa percaya diri untuk melakukannya sendiri. Aku mau jadi penguasa 
atas diriku sendiri. Aku tak mau mengandalkan lbu atau memberinya peluang lebih 
besar lagi untuk menguasai diriku.

Kubasahi lagi kain yang tadi kupakai lalu kudekatkan ke lukaku. Aku berhenti 
sejenak sebelurn menyentuhnya, ragu-ragu. Tanganku gemetar karena takut 
membayangkan rasa sakit yang bakal kurasakan. Aku menangis.
Aku merasa seperti bayi, dan aku tidak suka bersikap seperti bayi. Lalu aku 
berkata pada diriku sendiri, "Menangis berarti mati. Nah, rawat lukamu 
sendiri". Aku tahu lukaku tidak akan membuatku mati, jadi kupaksa diriku untuk 
mengalahkan rasa sakitnya.

Aku cepat-cepat bertindak sebelum niatku lenyap. Kusambar selembar kain lagi, 
menggulungnya, dan menggigitnya. Perhatianku kuarahkan sepenuhnya ke jempol dan 
telunjuk tangan kiriku yang kugunakan untuk memencet serta membuka lukaku. Lalu 
kubersihkan nanah dengan kain di tangan kananku.
Proses itu kuulangi beberapa kali sampai sebagian besar nanah bersih dari luka 
itu dan darah mengalir deras. Aku tak kuat menahan rasa sakitnya. Karena 
mulutku sudah kusumbat kain, jeritanku jadi teredam. 
Aku merasa seolah-olah sedang bergelantungan pada sebuah tebing. Saat semuanya 
selesai, air mata mengalir deras sampai membasahi kerah bajuku.

Aku khawatir lbu memergoki aku tidak duduk di bawah tangga seperti perintahnya, 
maka kubereskan segala sesuatunya, lalu berjalan tertatih-tatih sambil sesekali 
merangkak ke kaki tangga-ke tempat di mana seharusnya aku berada. Sebelum 
mengambil posisi duduk di atas tangan, kuperiksa bajuku; cuma sedikit darah 
yang menodai kain rombeng pembalut lukaku. Aku meniatkan diri untuk 
menyembuhkan luka itu. Entah bagaimana, aku merasa yakin luka itu pasti sembuh. 
Sungguh bangga aku terhadap diriku sendiri. Kubayangkan diriku seperti jagoan 
dalam cerita komik, yang berhasil mengatasi banyak situasi yang tidak masuk 
akal dan tetap hidup. Beberapa saat kemudian, sambil duduk di atas tangan, 
kepalaku lunglai ke depan-aku tertidur. Aku bermimpi terbang menggantang udara. 
Mimpi itu berwarna indah dan sedemikian hidup. Aku mengenakan mantel tak 
berlengan berwarna merah... akulah Superman.

-- 
Best Regards
Tombo Ati
(Dikirim nganggo The Bat! 2.10.03)




Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 



---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke