"Setiap kali berkencan, aku yang selalu mengeluarkan uang paling banyak. Dengan dalih 'pinjam uang kamu dulu' Angga-pun menyerahkan biaya kencan padaku. Bilangnya sih pinjam, tapi sampai kencan berikutnya tetap saja aku yang membayar makan malam kami," keluh Terry pada sahabatnya. Selama ini, karena masih dalam tahap pacaran, Terry tidak pernah menuntut Angga, untuk selalu mentraktirnya makan, membayari nonton film atau meminta membelikan ini dan itu. Kalau soal membayar, awalnya Terry merasa itu wajar, toh mereka bisa melakukannya bergantian. Tapi setelah setahun berjalan, Angga malah kelihatan semakin susah mengeluarkan "dompet"nya. "Aku tak mengira kalau Angga sepelit ini," ujar Terry mengeluh. Benarkah Angga bisa dikategorikan ke dalam pria pelit? Pada masa awal pacaran, urusan bayar-membayar saat kencan kelihatannya memang sepele. Tapi semakin lama toh akan kelihatan siapa yang paling sering mengeluarkan uang. Tak masalah jika lelaki yang harus mengeluarkan 'modal' paling besar saat kencan. Tapi bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Tak hanya Terry, banyak perempuam yang mengaku dilematis saat berhadapan dengan persoalan seperti ini. Lalu, haruskah si wanita yang terus mengeluarkan uang? Haruskah si wanita memaksa atau 'merayu' si dia untuk membayar? Atau menawarkan untuk membayar kencan secara patungan? Sherry Amatenstein, pakar relationship yang memiliki kolom di www.ivillage com mengatakan bahwa selama komunikasi sepasang kekasih berjalan lancar, persoalan bayar membayar akan mudah diatasi. Artinya, Anda tidak perlu malu atau ragu untuk mendiskusikan persoalan tersebut dengan pasangan. Berikut saran dari Sherry: 1. Boleh saja jika pada awal kencan Anda menawarkan diri untuk membayar penuh atau separuh harga makanan yang Anda santap. Tapi umumnya, karena tak mau gengsinya jatuh, maka 99% lelaki pasti ingin membayarkan teman kencannya Setujui saja, karena memang inilah yang seharusnya dilakukan oleh mereka! 2. Namun jika hubungan mulai berkembang dan berlanjut Anda tidak perlu lagi berpura-pura meraih dompet seraya menunggu si dia membayar. Karena pada masa ini setidaknya Anda sudah tahu kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat asli pasangan. Apakah sang pacar memang royal kepada Anda sampai-sampai Anda risih dibuatnya? Atau sebaliknya dia begitu iritnya kepada Anda? 3. Jika memang kenyataannya Anda yang sering mengeluarkan uang, cobalah jujur dan terbuka dalam hal ini. Kompromikan sebaik mungkin, seperti siapa yang harus membayar, kapan, dan untuk apa. Sehingga, Anda tidak mengalami nasib seperti Terry. Dengan sikap kompromi seperti ini, diharapkan si dia tidak lagi 'terlena', tidak lagi pelit, sekaligus menyadari kewajiban sebagai kekasih adalah untuk saling berbagi termasuk dalam urusan bayar membayar. (sumber:conectique.com) --- Best Regard Tombo_Ati
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !! Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
