Kapan Kita Berhenti Menangis?

Oleh: Riswandha Imawan



Kabar banyak siswa tak lulus ujian akhir nasional 2005 
memprihatinkan kita. Siapa pun, selama masih memiliki 
nurani, akan menangis mengetahui sejumlah sekolah tidak 
mampu meluluskan satu pun siswanya. Apa yang salah? Begitu 
bodohkah calon pemimpin bangsa?

Kisah pendidikan di Indonesia penuh air mata, mulai dari 
desakralisasi guru, bangunan sekolah runtuh, eksperimen 
kurikulum yang tak jelas arahnya, hingga degradasi mutu. 
Semua bermuara ke realita rendahnya apresiasi pemerintah 
terhadap pendidikan dibandingkan dengan bidang lain, 
semisal ekonomi.

Nilai strategis

Tak diragukan nilai strategis pendidikan terhadap 
peningkatan kualitas individu maupun bangsa. Melalui 
Restorasi Meiji, Jepang mengirim tenaga muda berbakat 
belajar ke Eropa dan Amerika. Para lulusan menjadi aktor 
peningkatan kualitas pendidikan di negaranya. Metode ini 
juga dilakukan oleh Malaysia, Thailand, dan Singapura. 
Bahkan hingga pertengahan tahun 1970- an, Malaysia masih 
mengimpor guru dari Indonesia dan mengirim pelajarnya 
belajar di beberapa universitas di Indonesia.

Terlihat ada grand design masa depan bangsa, dan 
pendidikan digunakan sebagai wacana pencapaian. Bila 
dibalik cara membacanya, kesemrawutan pendidikan terjadi 
akibat tidak jelasnya (bahkan tidak adanya) grand design 
yang hendak dicapai.

Ketidakjelasan ini bisa kita lacak. Dipahami, pendidikan 
yang merupakan tanggung jawab bersama mulai direduksi 
hanya menjadi tanggung jawab guru. Bila diyakini, anak 
adalah titipan Tuhan, tanggung jawab pendidikan terutama 
ada di pundak orangtua. Dan guru merupakan representasi 
orangtua. Penghormatan murid kepada guru harus sama dengan 
penghormatan mereka terhadap orangtuanya.

Di sini repotnya. Dari sisi ekonomi, kondisi para guru 
tidak bisa disamakan dengan keluarga mayoritas murid. Bila 
dikaitkan dengan merebaknya budaya konsumerisme di 
masyarakat, dengan mudah mengerdilkan sosok guru di depan 
muridnya.

Ada ketentuan di negara maju, bila ke sekolah, murid wajib 
menggunakan bis sekolah. Suasana gembira dan kebersamaan 
dimulai sejak berangkat dari rumah. Situasi ini pernah 
kita rasakan tahun 1950-1960-an saat seragam belum 
diwajibkan.

Orang berkomentar, "Saat itu pembangunan belum ada, 
konsumerisme juga belum ada." Benarkah? Negara maju juga 
dikepung konsumerisme, tetapi mereka bisa menjaga kualitas 
pendidikan. Kuncinya, pemerintah berhasil merancang sistem 
yang membuat aktivitas bersekolah menjadi kegiatan 
menyenangkan, tidak menegangkan.

Coba simak. Berapa sekolah yang steril dari konsumerisme? 
Sekolah yang semula ideal untuk belajar, kini dikepung 
pusat perbelanjaan. Suara guru bersaing dengan bunyi 
knalpot. Murid duduk menanti jam usai sekolah agar bisa 
tenggelam dalam keceriaan pusat perbelanjaan.

Teror kurikulum

Keceriaan tidak tercipta di sekolah. Ini terkait kurikulum 
yang "sangat meneror" murid. Pelajaran bertambah banyak 
tanpa kejelasan untuk apa dipelajari. Tak heran banyak 
siswa sekolah dasar terpaksa membawa koper kecil seberat 
5-6 kilogram berisi buku pelajaran. Logiskah kita berharap 
para tunas bangsa ini kelak tumbuh tegap?

Kalau saja teror kurikulum diikuti perubahan nasib, tentu 
bisa dipandang sepadan antara usaha dan hasil. Realitanya 
terbalik. Teror kurikulum menenggelamkan masa depan murid 
seraya membuka peluang "bisnis kebodohan". Jika guru 
bingung dengan materi pelajaran yang diajarkan, bagaimana 
muridnya?

Panggilan jiwa

Ada murid yang selamat dari teror kurikulum. Mereka 
umumnya mampu membayar "pajak atas kebodohan" melalui 
lembaga-lembaga pendidikan tambahan. Hal ini, selain 
menambah beban orangtua, juga merampas kegembiraan masa 
kanak-kanak. Padahal, masalahnya terletak pada metode 
mengajar yang rata- rata tidak dikuasai guru.

Menjadi guru (juga dosen) adalah panggilan jiwa. Namun, 
kini menjadi guru kebanyakan karena panggilan ekonomi. 
Teror kurikulum melahirkan inspirasi untuk "menyulitkan 
yang mudah". Apalagi ada pandangan, ilmu merupakan bagian 
kekuasaan. Maka, degradasi kualitas pendidikan tidak 
terhindari.

Ditambah lagi dengan adanya kategori sekolah favorit, 
murid dijejal melebihi kapasitas. Impian ditebar, kelak 
anaknya akan masuk universitas terpandang. Semua tanpa 
didasari fakta. Tidak semua lulusan sekolah menjadi 
mahasiswa.

Kini tangisan merebak di mana-mana. Sebodoh itukah anak- 
anak mereka sehingga tidak mampu lulus dengan standar yang 
rendah?

Seandainya dari 30 siswa ada dua anak tidak lulus, itu 
salah muridnya. Jika satu kelas tidak lulus semua, itu 
salah gurunya. Namun, jika siswa dari satu atau beberapa 
sekolah di seluruh Tanah Air tidak lulus, itu salah 
sistemnya.

Kalau seluruh tangisan murid di seantero Tanah Air ini 
akibat kesalahan sistem, maka menjadi tanggung jawab 
pemerintah untuk menghentikan tangisan tersebut. Bukan 
membuat tangisan itu bertambah nyaring, yang mencoreng 
citra pemerintah dan bangsa Indonesia.

Riswandha Imawan Guru Besar Ilmu Politik UGM
========================================================================================
Dapatkan kemudahan layanan Mobile Email dari VENTUS untuk Personal, VENTUS 
Easy. 

Klik http://easy.ventusmobile.com
========================================================================================
 


* http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * 
http://www.sarikata.net/ * 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke