Nasib UKM dan Reformasi Ekonomi
Senin, 19 Januari 2004
 
Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
Semenjak tahun 1945 usaha kecil dan menengah (UKM) tidak pernah secara
sungguh-sungguh di bantu oleh pemerintah. Bahkan sebaliknya, terjadi
apa yang dinamakan "kucuran kredit" bagi mereka, tidak pernah terjadi
dalam jumlah yang cukup signifikan. Sektor yang dinamai dengan
berbagai sebutan itu, sering kali kekurangan modal. Penulis pernah
mendengar pada Radio El-Shinta, seorang pengusaha pakaian di Teluk
Belanga yang menyatakan mengekspor lebih kurang 30.000 lembar pakaian
jadi ke Malaysia. Ditanya, apakah hanya itu permintaan yang datang
dari negeri jiran tersebut? Ia menjawab hanya dapat membuat pakaian
jadi sejumlah itu, walaupun permintaan datang 10 kali lipatnya.
Mengapa ? ia menjawab mesin jahitnya sudah terlalu tua dan hanya dapat
menjahit sejumlah itu. Mengapa ia tidak mengambil kredit pada sebuah
bank, mungkin Bank pemerintah? Dijawabnya, tidak mampu membayar,
karena labanya hanya 10%, sementara bunga Bank yang harus dibayar 19%.
Karena itu tidak saya perluas usaha ini sampai datang pertolongan,
katanya.

Kejadian seperti ini sudah dianggap "praktek normal" dari perekonomian
nasional kita. Normal, karena mereka merasa kenyataannya para
pengusaha besar (disebut "pengusaha kelas kakap") yang memperoleh
segala macam fasilitas kredit pada bank-bank pemerintah. Baik yang
melalui jalan lurus maupun praktek 'serba curang' dan menyedihkan.
Dalam rangkaian hal-hal yang menyedihkan itu, adalah "uang hangus"
(komisi) yang harus dibayarkan kepada pegawai bank yang bersangkutan,
jika ingin memperoleh kucuran kredit tersebut. Tidak heranlah jika UKM
berkembang tanpa bantuan siapapun, dan bahkan mungkin dengan berbagai
hambatan yang harus diatasi sendiri di lapangan. Ini adalah kenyataan
yang tidak dapat dibantah.

Pernah penulis ditanya dalam sebuah seminar, apakah tanda-tandanya
gerakan koperasi menjadi sehat dan dewasa? Penulis menjawab, jika
Departemen Koperasi sudah tidak diperlukan lagi. Langsung Menteri
Koperasi Bustanil Arifin mengajak penulis ke ruang kerjanya untuk
dimarahi. Tetapi hal itu tidak mengubah kenyataan, urusannya tidak
selesai dengan memarahi penulis, melainkan dengan perbaikan-perbaikan
dalam segala hal yang menyangkut gerakan koperasi.

*****

Penulis pernah berkunjung ke Prince William Rural Electricity
Cooperatives (Koperasi listrik Pedesaan Prince William) di negara
bagian Virginia, A.S. Setelah meninjau tata kerja di kantornya, yang
hanya mempunyai seorang pegawai/staff, penulis masuk ke ruang mesin
yang menghasilkan ratusan juta watt dan melayani kebutuhan listrik 5
negara bagian, termasuk ibukota federal A.S, Washington, D.C. Walaupun
berskala sangat besar, koperasi ini dianggap UKM karena ia memiliki
pegawai dan staff kurang dari 50 orang. Ini baru koperasi, dan di mata
penulis, ini koperasi baru. Kalau di negeri kita biasanya koperasi
mempunyai pengawai dan staff demikian banyak (termasuk tukang masak
dan tukang parkir), maka terasa aneh sebuah koperasi demikian besar
skala pekerjaanya di asuh oleh hanya beberapa orang saja.

Dari Semaul Undong di Korea Selatan, Kibutz di Israel maupun Ejido di
Mexico adalah koperasi-koperasi pertanian yang tentu saja harus
dipelajari kelebihan dan kekurangan masing-masing, apabila kita ingin
memiliki koperasi pertanian yang tangguh. Beberapa tahun yang lalu,
statistik mengumumkan bahwa 43% dari ekonomi nasional A.S dimiliki
oleh UKM, sedangkan 29% oleh BUMD dan hanya 28% dimiliki pihak swasta
(termasuk yang sangat terkenal nama-namanya seperti Boeing, General
Electric dan sebagainya). Inilah rahasia mengapa perekonomian A.S
menjadi kuat dan "tahan banting". Kalau kita ingin memiliki
perekonomian kuat, kita juga harus sanggup membangun jaringan UKM yang
luas dan kuat.

Memang pernah dicoba untuk "menegarakan" gerakan koperasi tetapi
senantiasa gagal. Sebagai gerakan, koperasi memerlukan wiraswastawan
yang sanggup memandang ke depan dan mengambil keputusan dengan cepat
untuk organisasi mereka, tentu saja dengan resiko yang juga sangat
besar. Hal ini tidak dimiliki oleh jajaran pegawai dan staff yang
tunduk dan bertanggung jawab kepada kantor koperasi milik pemerintah
di daerah yang bersangkutan. Gerakan koperasi seperti Ujamaa di
Tanzania ciptaan Julius Nyerere, Jamiyyah Al-Ta'awun ciptaan Nasser di
Mesir, serta BUUD (Badan Usaha Unit Desa) di negeri kita, sewajarnya
mengalami kegagalan karena factor terlalu besarnya campur tangan
pemerintah, dan sangat kecilnya kewiraswastaan di dalamnya.

*****

Jelaslah dengan demikian, bahwa menghidupkan UKM (termasuk koperasi),
bukanlah kerja yang mudah. Namun ia harus dilakukan, karena tanpa
koperasi sebuah perekonomian yang sehat dan normal dapat berdiri.
Apalagi untuk kawasan seluas tanah air kita dan penduduk yang demikian
besar bilangannya seperti tanah air kita. Bahwa kegagalan demi
kegagalan dalam mendorong kemajuan UKM telah terjadi secara meluas,
tidak berarti bahwa upaya memajukan UKM (termasuk koperasi), bukanlah
sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Di tangan UKM-lah terletak masa
depan perekonomian nasional kita.

Salah satu syarat untuk menjaga UKM yang sehat dapat bekerja sebagai
"lokomotif perekonomian" dengan menjaga jumlah kucuran kredit yang
cukup bagi mereka. Banyak perusahaan raksasa dunia dewasa ini
berangkat dari sebuah UKM, seperti Bank of America, Credit Lyons di
Prancis, Kredit Anstalt di Jerman, Rabo Bank di Belanda, adalah bukti
dari kemampuan UKM untuk memanfaatkan kucuran kredit dalam jumlah
sangat besar. Sekian banyak pasar swalayan di Swedia dimiliki oleh
koperasi sebagai pemegang saham tunggal. Karena itu, tepatlah kalau
dianggap UKM adalah "lokomotif" sebuah perekonomian. Karena UKM
memiliki kewiraswastaan dalam skala yang diperlukan tidak terlalu
besar dan juga tidak terlalu kecil. Tentu saja ini adalah hal yang
relatif, seperti terbukti dengan pemilikan sebuah koperasi atas
saham-saham dan pabrik mobil Volvo di Scandinavia.

Karena Undang-Undang Dasar 1945 maupun letak geografis kita, maka
jelas bahwa diperlukan penguatan UKM atasnya dengan tidak membatasi
usaha swasta. Kita harus berpegang teguh kepada asas kompetisi yang
sehat, persaingan yang jujur dan penggunaan pertimbangan-pertimbangan
efisiensi yang rasional, jika kita memiliki usaha swasta yang tangguh
dan UKM yang "tahan banting" tentulah kita dapat mencapai pertumbuhan
ekonomi yang sangat tinggi. Karena kita memiliki 3 buah sumber alam
yang sangat besar, yaitu hasil-hasil hutan yang demikian banyak
tambang-tambang mentah yang berlimpah ruah (terutama BBM dan gas alam)
dan hasil-hasil laut dalam jumlah yang tidak tertandingi oleh
bangsa-bangsa lain. Tentu itu semua harus dikembangkan. Sesuatu yang
gampang dikatakan, namun sulit dilaksanakan bukan?

Jakarta, 7 Januari 2004


* http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * 
http://www.sarikata.net/ * 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke